
Lais mengecek keadaan mobilnya. Dia melihat-lihat mesin mobil memastikan tak ada keganjalan di dalamnya.
Tak lupa sebelum itu, dia telah mencuci mobilnya hingga saat itu terlihat sangat kinclong.
Dia bersiap untuk menghadiri hari wisudanya. Sebelum dia berangkat, Lais pamitan kepada Ibunya akan menjemput Am serta berdandan selayaknya murid yang akan wisuda.
Lais masuk ke mobil, menyalakan mesin dan mulai memasukkan pedal mobilnya.
Mobil itu mulai menggerakkan rodanya. Dengan santai, Lais menikmati perjalanannya.
Beberapa menit mobil itu telah berhenti di tepi jalan raya. Tak lupa Lais mengunci mobilnya. Lalu dia mulai masuk ke hutan menuju rumah Am.
Langit yang sangat cerah itu telah sukses memantulkan cahayanya di kulit yang putih dan bersih dari sosok wanita yang anggun. Bersama dengan haluan angin yang berhasil mengibaskan rambut berwarna hitam dan mengkilau lembut lurus itu.
"Am" panggil Lais.
Lagi-lagi kedatangan lelaki yang tampan itu membuat senyum terlukis di wajah Am.
"Kau sudah datang?" tanya Am.
"Iya, aku ke sini menjemputmu! Ikutlah ke wisudaku" kata Lais.
"Baiklah, gaun apa yang harus aku pakai?" tanya Am.
Am menjentikkan tangannya.
Setiap jentikan tangan itu membuat gaun yang dikenakan Am berubah. Am menunjukkannya kepada Lais.
"Ctak!"
"Seperti ini?" tanya Am.
Menampilkan gaun berwarna abu dengan rok yang sesiku kaki.
Lais menggelengkan kepalanya.
"Ctakkk!!"
"Seperti ini?" tanya Am.
Gaun itu menjadi warna coklat dengan panjang menutup kakinya. Namun atasnya memakai lengan pendek.
"Sepertinya akan lebih baik jika memakai lengan yang lebih panjang dari itu" kata Lais.
Jentikkan yang ketiga, akhirnya gaun itulah yang cocok dipakai oleh Am. Yaitu gaun putih landung, dengan panjang sesiku menutup lengannya. Tak lupa, Am juga membuat rambutnya terikat dengan sedikit bergelombang bagaikan ombak laut. Dan diberinya sebuah hiasan mutiara di belakang wajah di rambut warna putih mengkilau.
__ADS_1
Pandangan Lais membeku melihat penampilan Am bagai putri yang cantik rupa menawan itu. Sepertinya Lais tak ingin menoleh ke pemandangan lain saat itu, selain menatap Am.
Dengan pandangan yang sempat membeku beberapa menit itu. Lais akhirnya kembali kesadarannya sebagai manusia.
Melihat kecantikan Am yang luar biasa, Lais menyarankan agar Am juga memakai topeng cukup di daerah matanya. Dan Am mengikutinya.
Kemudian Lais meminta tolong Am untuk meriasi dirinya menggunakan kekuatannya.
"Baju apa yang ingin kamu gunakan Lais?" tanya Am.
"Jas, bisa dibilang seperti pria pengantin" jawab Lais.
"Ctaaakkk"
Seketika baju Lais berubah sesuai permintaan Lais.
Kemudian Lais melingkarkan tangannya ke pinggang. Dia memerintahkan Am untuk memeganginya. Bagaikan seorang pengantin yang akan berjalan menuju dekor.
"Setidaknya kita latihan dulu kan?" ungkap Lais.
"Iya" jawab Am.
Mereka saling memandang dan tersenyum. Serta berjalan bergandengan.
...****************...
Mobil itu terparkir di tempat yang telah ditentukan.
Tangan salah satu itu diraih lalu dipegang oleh Lais. Dengan kelembutan, Lais menariknya keatas. Diiringi dengan badan yang ramping seperti gitar spanyol itu.
Mereka berjalan bersama. Bagaikan putri dan pangeran. Merrka terlihat sangat serasi. Tinggi yang porposional diimbangi dengan tinggi badan Am yang setinggi telinga Lais. Tak heran, pemandangan mereka berdua menyebabkan banyak mata yang tertuju padanya.
Lais mempersilahkan duduk untuk Am di samping tempat duduknya. Di sana suasana sudah sangat ramai.
Setelah itu Lais meraih ponselnya dan mengabarkan pada Ibunya. Bahwa dia telah sampai di tempat wisuda.
Ibunya juga mengabarkan sebentar lagi dia akan menyusul ke sana bersama Andira dengan Ayahnya.
Saat itu Lais benar-benar tak nyaman dengan mata yang banyak melihatnya. Karena untuk pertama kalinya dia membawa perempuan.
Tak sengaja Helena melewati tampat duduk mereka dari depan. Melihat serasinya mereka membuat Helena kecewa dan sakit hati. Namun Helena tak ingin memperlihatkan rasa sakitnya itu. Dia memilih menahan dada yang terasa sesak, Kini sedang termakan api di dalamnya.
Melihat rasa sakitnya itu, teman akrab Helena hanya bisa memegang erat tangannya. Dan memandang Helena. Sebagai wujud suport sebagai teman terbaiknya.
...****************...
Di antara banyaknya orang, di sana banyak murid yang telah berias cantik dan ganteng, diantara mereka juga banyak keluarga yang menggelar tikar di depan acara. Ini adalah bentuk support keluarga kepada sang murid.
__ADS_1
Saat itu Mobil berwarna merah itu masuk keparkiran. Itu adalah mobil ayah Lais. Keluarga Lais datang tepat waktu saat acara dimulai.
...****************...
Sudah sejak 4 jam acara wisuda itu berlangsung. Dengan memanggil nama-nama murid yang lulus kelas SMA.
Setelah acara selesai, murid yang berwisuda saling berfoto dengan keluarga mereka. Beberapa juga ada yang dengan teman-teman kelompok mereka.
Melihat ini adalah hari kelulusan, dan kemungkinan ini hari terakhirnya bertemu Lais. Meski hatinya telah terbakar api. Helena tetap menemui Lais dan meminta foto dengannya.
Diantara kumpulan keluarga Lais dan Am. Helena meneguhkan hati dan keberaniannya untuk meminta foto bersama.
Karena dia berfikir mungkin ini hari terakhirnya dapat bertemu dengan pujaan hatinya.
"Permisi, bolehkah kita berfoto Lais?" tqnya Helena.
Am merasakan batin Helena. Batin Helena terasa sangat tersiksa karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Baiklah, asal bersama Am juga" kata Lais.
"Tidak, kalian saja. Biarkan aku yang memfotokannya" kata Am.
Am dengan sopan meminta ponsel di tangan Helena. Dan Helena memberikannya.
"Cekrek!"
Foto itu telah tersimpan di galeri. Dengan wajah yang tersenyum sama-sama terpaksa.
Kemudian ibu Lais juga ingin berfoto bersama.
Am yang saat itu memakai topeng. Di suruh oleh ibu Lais untuk membukanya. Lais mencegahnya dengan berbagai alasan. Namun ibu Lais tetap dengan pendiriannya.
"Lais, bagaimana wajah Am terlihat jika dia memakai topeng?" kata ibu Lais.
"Tapi meski memaki topeng Am terlihat cantik kok bu" kata Lais.
Di tengah perbincangan Lais dan keluarganya yang memuji kecantikan Am. Helena diam-diam melangkah mundur menjauhi keluarga itu.
Am melihat Helena. Am sangat tidak tega melihat perasaan Helena. Saat itu Am sangat ingin menghibur Helena. Namun melihat Helena yang tak suka kepadanya. Tentu hal ini akan sia-sia dia lakukan.
"Ayo Am buka topengmu dulu nak, baru kita foto sama-sama" kata ibu Lais.
Am menuruti perintah ibu Lais. Dia membuka topengnya. Lalu mereka di foto dengan ayah Lais.
Seketika di ujung Aula ada teriakan suara.
"Bukankah itu penyanyi Am?" teriak salah satu murid dengan menunjuk jari telunjuknya ke arah Am.
__ADS_1
"Iya benar" jawab teman lainnya.
Seketika para murid gaduh mengajak foto bersama dengan Am.