Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 71: Setelah Ujian


__ADS_3


Sudah sejak saat itu Lais dan Am sering mengirim pesan satu sama lain.


Melihat ada perubahan dari sikap Lais membuat beberapa teman sekelasnya keheranan. Terutama teman sekelasnya perempuan yang bernama Helena.


Dengan saling berbisik di bangku sebelah. Helena penasaran menanyakan tentang Lais.


"Belakangan ini Lais sering memegang ponsel dan tersenyum sedikit, apakah dia sudah punya pacar?" tanya Helena kepada Adit.


"Sepertinya iya" jawab Adit.


"Siapa dia?" tanya Helena kaget.


"Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Adit.


"Iyalah, Lais itu milikku seorang. Akan aku tebas gadis yang berani mengambilnya" jawab Helena.


"Ha, ha, ha, Hei Helena, daripada cintamu bertepuk sebelah tangan seperti itu, mending kamu sama aku saja" kata Adit.


"Ogah aku sama kamu" jawab Helena.


"Baiklah aku akan menunggumu hingga mau" kata Adit.


"Ih,,, namanya ngk mau tapi kok ngotot sih" jawab Helena.


"Kalo aku seperti itu, lalu kamu apa?" kata Adit tak mau kalah.


"Huh, Menyebalkan" jawab Helena.


Seperti yang terlihat, dari dulu memang Helena mempunyai rasa kepada Lais. Namun Lais tak ada perasaan padanya. Bahkan untuk menatap mata Helena saja Lais tidak pernah. Dia selalu menundukkan pandangannya.


Berbagai cara telah dilakukan Helena untuk meluluhkan hati Lais. Tapi yang ada Lais tidak pernah merespon. Dia sangat cuek dan tak peduli kepada perempuan di sekolahnya. Hingga ada yang menyebutnya pangeran dingin sedingin es teh sosro.


Melihat Lais yang senyum sendiri saat melihat ponsel di kelas. Membuat teman sekelasnya gempar. Bertanya sana sini. Siapakah dia yang dapat merubah orang dingin yang selama ini hanya peduli pelajaran, sekarang dia jadi peduli ponsel?


...****************...


"Triiiiiing...." bunyi bel kelas berbunyi menandakan istirahat telah tiba.


Saat di kantin, Helena sedang makan bersama perkumpulan gengnya. Di sana Helena sangat kesal dengan isus-isus yang beredar bahwa Lais memiliki pacar. Padahal, Helena telah menunggu Lais mulai 2 tahun awal dia bersekolah.


"Huh, siapa sebenarnya dia sih? Aku sudah menunggu selama 2 tahun. Padahal sudah puluhan cowok yang ku tolak karena menunggu Lais. Tapi kenapa?" kata Helena sebal.


"Sudah lupakan saja Lais, masih ada yang lain kan?" kata salah satu teman gengnya.


"Enak saja lupakan. Bicara itu memang mudah. Emang semudah itu?" kata Helena.


Semua temannya terdiam. Karena tahu apapun yang terlontar dari mulut mereka pasti akan disalahkan.

__ADS_1


Dulu saat, Helena pertama kali masuk sekolah. Saat sedang mendaftar tak sengaja kertas pendaftaran Helena jatuh. Kebetulan di belakangnya adalah Lais. Lais mengambilkan kertas yang jatuh itu dan memberikan Helena tanpa expresi apapun.


Saat itulah Helena menyukai Lais. Walau Lais sangat dingin tapi Helena tahu sebenarnya hati Lais baik dan lembut. Namun entah apa alasannya Lais lebih memilih bersikap dingin kepada siapapun terutama kepada perempuan. Padahal hatinya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.


Setelah selesai di kantin, Helena dan para gengnya masuk ke kelas. Terlihat Lais sedang duduk di bangkunya dekat jendela dengan ponselnya.


Helena menghampiri Lais yang sedang duduk sendiri itu. Dengan mencuri pandangan layar ponselnya Lais. Karena sangat penasaran siapa yang berhasil membuat Lais seperti itu. Namun Helena tak berhasil untuk mengetahuinya.


"Ehem..." Helena duduk di meja Lais.


Lais menyadari keberadaan Helena.


"Helena, itu meja. Bukan tempat duduk" kata Lais cuek.


"Oh, iya maaf. Lais aku lihat kamu akhir-akhir ini tampak senang" kata Helena dengan mengubah posisi tubuhnya yang tadinya duduk di meja sekarang berdiri di sebelah Lais.


"Lalu?" tanya Lais.


"Suatu kejutan bagiku kamu bisa tersenyum Lais" kata Helena.


Mendengar perkataan Helena, Lais sadar selama ini dia tak ramah kepadanya.


Akhirnya Lais meletakkan ponselnya.


"Helena, selama ini.. aku... Hanya... Menjaga jarak kepada semuanya. Aku tak tahu jika kamu sangat perhatian padaku" kata Lais dengan menunduk.


"Lais, coba lihatlah aku sekali saja?!" kata Helena.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Helena.


"Aku melihat temanku sedang berdiri" jawab Lais.


"Apa? " kata Helena dengan sedikit kecewa.


"Sepertinya aku harus segera pergi" kata Lais merasa sangat canggung dengan keadaan ini, akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari bangkunya.


"Kamu tak tahu Lais, jika aku sangat menyukaimu. Karena aku terlalu menyukaimu, tak akan kubiarkan perempuan lain merebutmu dariku Lais" batin Helena dengan tersenyum.


...****************...


14 hari sudah berlalu, Andira telah menyelesaikan ujian semesternya.


"Ah,,,, akhirnya selesai juga tuh ujian. Untung saja otakku tidak sampai pecah" kata Andira.


Andira tak sabar ingin memberitahukan tentang kabar bahwa channel youtube nya kini melonjak pesat. Banyak yang menonton karena suara Am yang sangat merdu.


Andira segera menemui kakaknya. Untuk menagih akad mereka dahulu.


"Tok, tok, tok" suara ketukan pintu kamar Lais.

__ADS_1


Lais yang sedang membaca buku itu segera menutup buku yang dibacanya. Kemudian dia membuka pintu kamarnya.


Melihat adiknya yang ada di depannya. Lais faham maksud dari adiknya. Namun dia sengaja tetap diam.


"Kak, sekarang semester sudah selesai. Jadi,,, ayo antar aku ke rumah kak Am" kata Andira.


"Sekarang?" tanya Lais.


"Iya" jawab Andira.


Lais langsung masuk ke kamar dan mengambil tas slempangnya. Tidak lupa juga dia memasukkan ponsel dan dompetnya. Kemudian dia berjalan di depan adiknya dengan santai. Tak dipungkiri sebenarnya Lais sendiri ingin segera bertemu dengan Am. Namun dia tak mau adiknya melihat keinginannya.


Melihat kakaknya yang bergegas Andira jadi gelagapan bingung. Karena dia sendiri saja belum bersiap-siap.


"Kak, tapi aku belum ganti baju nih!" kata Andira.


"Astaga, tadi katanya sekarang. Ya sudah sana cepet ganti baju" jawab Lais kesal dan duduk di sofa ruang tamu dengan frontal.


"Iya kak maaf!" kata Andira dengan berlari menuju kamarnya dan bergegas untuk berdandan.


...****************...


Mereka berjalan menuju rumah Am. Seperti biasa Am berdiri di pesisir pantai dengan angin yang menerpa rambutnya.


Melihat Am ada di sana Andira langsung berlari menghampiri Am.


"Kak Am, kak Am" panggil Andira.


"Andira, kamu kemana saja selama ini baru muncul?" tanya Am.


"Aku dikurung di rumah dan dipaksa untuk belajar kak sama itu tu" kata Andira matanya melirik sinis kepada kakaknya.


"Kenapa dia jahat sekali? Padahal kakakmu itu sering ke,,,," kata Am terhenti saat Lais memotong pembicaraan.


"Coba lihat itu! Bintangnya sangat banyak di langit" kata Lais dengan lantang.


Seketika pembicaraan Andira dan Am terhenti.


"Mulai sejak kapan kakak memperhatikan bintang?" kata Andira.


"Dari dulu lah, kamu berkata seperti itu berarti tak mengenal kakakmu Dir" kata Lais mengeles.


"Kak Am, aku kesini ingin memberitahu kalo video kak Am banyak yang menyukai. Coba lihat! " kata Andira dengan menunjukkan ponselnya yang sedang membuka channelnya.


"Apa banyak yang menyukai videoku?" tegas Am tak percya.


"Iya, sebentar lagi jika kak Am viral nanti bisa jadi artis loh" kata Andira.


"Artis?" kata Am.

__ADS_1


"Iya, kalo di undang orang itu bisa dapet berjuta-juta gitu" kata Andira.


"Benarkah?" tegas Am.


__ADS_2