Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 62: Tes Kesetiaan


__ADS_3


Saat tiba di rumah, Andira tidak langsung melepas baju dari Am.


Hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam.


Membuat Lais menunggu dan tak tenang. Karena Lais telah tahu tentang kekuatan Am. Akhirnya dia mendatangi Andira yang sedang di kamarnya. Kali ini pintu kamar Andira terbuka, dia sedang menonton drama korea dari ponselnya.


"Hei Dir, apa yang dikatakan Am tadi padamu?" tanya Lais.


"Emang apa kak?" tanya Andira.


"Astaga anak ini, yang kamu kenakan itu kenapa tidak kunjung kamu lepas?" tanya Lais.


"Ah ini, sebenarnya aku masih tidak ingin melepasnya. Bajunya nyaman banget dipakai dan aku terlihat cantik kan jika pakai ini? Aku mau bilang ke kak Am biar dia kasihkan saja padaku. Baju kak Am kan banyak dan bagus-bagus" kata Andira.


"Hei, kalo dia ingin di kembalikan ya harus dikembalikan An, kamu itu namanya pemaksaan kalo kayak gitu!" kata Lais.


"Kenapa kakak ngotot sekali? Sekarang aku tahu, Kakak memang menyukai kak Am kan?" ledek Andira.


"Kau ini apa'an sih!" kata Lais.


Ibu mendengar pertengkaran kakak beradik itu saat menonton tv di ruang keluarga.


"Ada apa kalian ribut-ribut? Ini sudah malam" kata ibu menengahi.


"Ini bu, kakak mempermasalahkan Andira pakai baju ini" kata Andira.


Ibu melihat kearah Andira dan memperhatikannya.


"Cantik, apa masalahnya Lais?" kata ibu.


"Ibu, ini bukan masalah cantik atau enggak. Tapi baju yang dipakai Andira itu milik Am" kata Lais.


"Bener Dir?" tanya ibu.


"Iya, tapi Andira suka bu ingin memakainya sebentar lagi" kata Andira.


"Padahal tadi Am bilang bu, kalo sampai di rumah harus langsung ganti baju" kata Lais.


Mendengar Lais pertama kalinya perhatian kepada seseorang membuat ibu Andira terkejut. Ada sebuah perubahan drastis pada anaknya.


"Kata Am, kamu bilang Lais?" tanya ibu.


"Iya" jawab Lais.


"ah! Sudahlah terserah kamu saja!" jawab Lais dengan menjauhkan diri dari kamar Andira menuju tempat tidurnya.


"Dir, kamu tahu kan kakak mu baru kali ini seperti ini? Lebih baik cepat kamu ganti dan kembalikan pada kakakmu" kata ibu.


"Iya baiklah" jawab Andira enteng.


Andira langsung menutup pintu kamarnya dan mengganti pakaiannya.


Sedangkan Lais duduk di sofa yang ada di kamarnya.


"Menjengkelkan sekali rasanya, mereka seperti mendadak tak percaya dengan sikapku" gumam Lais.


"Tapi bagaimana jika kekuatan Am terbongkar? Melihat kekuatannya sebesar itu, jika dia marah pasti akan sangat berbahaya" gumam Lais.

__ADS_1


Lais menyimpulkan hal demikian karena pengalamannya banyak kepada jin yang memiliki kekuatan. Kebanyakan mereka sewenang-wenang dan sombong karena selalu menang.


Lais segera beranjak dari kursi sofanya. Dia langsung membuka pintu kamarnya untuk keluar.


"ckrreeek" bunyi pintu.


Ternyata Andira sudah berada di depan pintu kamar Lais.


"Ini" kata Andira dengan menyodorkan pakaian dari Am.


"Seharusnya daritadi seperti ini, kenapa susah sekali" gumam Lais.


"Aku sudah mengalah enggak ngucap terimakasih gitu, huh sebel!" kata Andira.


Lais langsung menutup kamar tidurnya dan masuk kembali.


"24 jam?" gumam Lais.


"Ini masih 6 jam, besok pagi masih bisa ku kembalikan" gumam Lais.


Dia meletakkan baju itu di meja belajarnya. Kemudian dia terbaring hendak tidur di ranjang.


...****************...


Keesokan paginya, kali ini Lais berangkat lebih pagi dari biasanya.


Lais pergi ke rumah Am untuk memberikan baju itu kembali.


Mata itu berkeliling liar ke segala arah, akhirnya Lais menemukan sosok Am.


Terlihat Am sedang berdiri di pesisir laut bersama angin sepoi-sepoi.


Lais berjalan ke arahnya. Am merasakan kehadirannya.


"Ambil" kata Lais.


"Berarti aku tak perlu menghapus memorimu sedkit kan?" kata Am.


"Maksudmu?" tanya Lais dengan berfikir sebentar.


"Hah, benar juga. Kamu pasti, bisa menyelesaikan sendiri. Kamu sengaja melibatkan aku?" kata Lais.


"Hmmmm, bukan sengaja melibatkan sih! Tapi, aku hanya ingin tahu sebesar apa caramu untuk menjaga rahasiaku" kata Am.


"Hah, berarti kamu mengetesku sekarang?" tanya Lais.


"Semacam itu mungkin" jawab Am.


"Ha, ha, ha," Lais terkekeh sedikit.


"Kenapa tertawa?" tanya Am.


"Kamu tahu, aku melakukan hal demikian sebenarnya merasa takut padamu" kata Lais.


"Benarkah?" tanya Am.


"Iya, bagaimana aku tidak takut, kamu bisa membuat rumah dan menghilangkannya sekejab, kamu juga dapat membuat makanan dan baju dalam sekejab, bahkan singa si hewan buas dapat jinak denganmu. Tentu saja itu membuatku takut" kata Lais.


"Ha, ha, ha, ha," mendengar jawaban Lais membuat Am tertawa dengan bebasnya.

__ADS_1


"Astaga, tak kusangka kamu takut" kata Am.


"Tapi,,, karena kamu telah membuktikan kesetiaanmu untuk menjaga rahasiaku. Aku akan berusaha membantumu tentang indra keenammu" kata Am.


"Benarkah?" tanya Lais tak percaya.


"Iya, aku bisanya berusaha, untuk hasil, kita tidak tahu nantinya" kata Am.


"Kamu mau membantuku saja, itu sudah membuatku senang" kata Lais dengan tersenyum.


Mereka saling memandang satu sama lain. Tiba-tiba Lais tersadar dia harus pergi ke sekolah. Akhirnya Lais pamit pergi kepada Am.


Am melihat Lais berjalan jauh hingga tak nampak dari pandangannya.


"Tanpa kamu meminta pun, aku tetap akan melakukannya. Karena ada pertanyaan yang sampai saat ini belum kutemukan jawabannya. Kenapa,,, kamu memiliki aura yang sama seperti Furqon?" batin Am.


...****************...


Andira bangun dari tidurnya. Saat sarapan dia tak melihat keberadaan kakaknya.


"Kakak belum bangun bu? " tanya Andira.


"Kakakmu tadi sudah berangkat petang tadi saat kamu masih bermimpi di kamar Dira" jawab ibu.


"Apa? Jadi kakak sudah berangkat?" tanya Andira.


"Iya, dia enggak kayak kamu selalu saja kesiangan" kata ibu.


"Kan, ibu mulai lagi selalu banding-bandingkan aku dengan kakak" kata Andira sebel lalu beranjak pergi ke sekolah.


"Loh Dir, nggk di habisin dulu makananmu?" tanya ibu melihat nasi yang masih banyak tersisa di piring Andira.


"Andira sudah kenyang" kata Andira ketus.


"Ibu selalu saja membandingkan aku sama kakak, emang kenapa sih semua harus dituntut harus baik?" gerutu Andira dengan menggayuh sepedanya.


"Rasanya hatiku nggak mut banget pergi ke sekolah, apa aku bolos saja ya mampir ke rumah kak Am" gumam Andira.


"Sepertinya itu ide yang masuk" kata Andira.


Andira membelokkan sepedanya ke hutan menuju rumah Am.


Andira mengetuk pintu rumah Am tapi tak ada jawaban sama sekali.


Andira melihat kesana kemari juga tak nampak Am sama sekali.


"Kemana kak Am?" kata Andira.


Karena Andira mencari Am tidak ketemu dimana-mana, akhirnya dengan berat hati Andira pergi ke sekolahnya.


"Hfffft sepertinya memang harus ke sekolah ya? Nggk seru banget" gumam Andira.


Andira tiba ke sekolah terlambat 30 menit. Karena terlalu sering si satpam sampai hafal dengan wajah Andira.


"Duh, kamu lagi? Apa tidak capek kamu setiap terlambat disuruh lari keliling sekolah nak?" kata pak satpam.


"Capek pak, tapi daripada di kelas rasanya ngantuk banget. Mending lari keliling sekolah aja lebih seru" kata Andira.


Waktu Andira lari keliling skolah. Lais melihatnya dari jendela kelasnya.

__ADS_1


"Lagi-lagi anak itu" gumam Lais dengan melihat adiknya lari.


Kebetulan mereka satu sekolah, Andira masih SMP dan Lais kelas SMA.


__ADS_2