Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 74: Kebakaran


__ADS_3


"Bagaimana dengan tugasmu Dasim?" kata raja setan yang sedang duduk santai dikursi mahkotanya.


"Saya telah melakukan tugas sesuai perintah Tuan" jawab Dasim.


"Sesuai perintah? Bagaimana caramu bertindak?" tanya raja setan.


"Saya telah meluapkan larva gunung yang berada di dekat hutan. Dan semua manusia berlarian takut terbirit-birit karena kejadian itu. Kemudian saya sengaja memyemburkan api dalam hutan jati yang sedang musim gugur" kata setan Dasim.


"Lalu apa yang dilakukan makhluk itu setelah semua kejadian ini?" tanya raja setan.


"Itu,,, dia tidak melakukan apapun. Hanya saja ada beberapa petugas manusia memadamkan apinya dengan air" jawab setan Dasim.


"Bodoh! Aku merencanakan hal ini agar dia mengeluarkan kekuatannya. Agar si Tuan bodoh itu terganggu pertapaannya. Kenapa dia tak melakukan apapun?" kata raja setan.


"Saya tidak tahu Tuan" jawab Dasim.


"Jangan bilang tidak tahu! Cepat pergi dan cari cara dan buat musibah lain agar dia mengeluarkan petirnya!" perintah raja setan.


"Ba, baik Tuan! Saya permisi" kata setan Dasim.


"Amfitrite!!!!!


tak kan kubiarkan kamu diposisi yang damai setelah kamu melenyapkan jin kesayanganku. Ha, ha, ha, ha, " gumam raja Setan.


"Maaf Tuan, kenapa Tuan memilih membuat musibah ke bumi. Kenapa tidak langsung kita membuat keributan di langit saja?" tanya Setan Sauth.


"Tuannya Rei yang bodoh itu agar murka kepada makhluk itu" jawab Raja setan.


"Lalu kenapa jika dia murka?" tanya Setan Sauth.


"Kau jangan ikut bodoh seperti mereka Sauth" jawab Raja setan.


"Ma, ma'af Tuan, saya sudah mengerti sekarang" jawab setan Sauth.


Raja Setan tetap diam dan kembali duduk di kursi tahtanya.


...****************...


Suasana di sana terlihat semua penuh dengan asap. Dan pohon yang telah terbakar sampai hangus dalam jumlah luas.


"Ohok, ohok, ohok"


Batuk Lais saat dia turun dari mobilnya.


"Astaga,,, apa yang telah terjadi? Ini sangat parah" gumam Lais dengan melihat sekelilingnya.


Lais melangkahkan kakinya. Pandangannya liar ke semua arah. Dengan mata tajamnya, dia mencari sosok Am di sana.


Terlihat Amfitrite sedang memberi makan kepada penduduk yang sedang mengungsi.


Ya,, tentu makanan itu diciptakan dari kekuatan Am secara sembunyi-sembunyi. Rumayan untuk mengganjal perut para pengungsi selama 24 jam.

__ADS_1


Melihat kebaikan Am seperti ini membuat rasa kagum Lais semakin bertambah kepada Am.


Lalu Lais menghampiri Am dan membantunya.


"Mari ku bantu!" kata Lais dengan mengayunkan tangannya mengambil nasi kotak dan memberikan kepada pengungsi seperti yang dilakukan oleh Amfitrite.


Setelah makanan semua dibagikan, pengungsi segera memakannya bersama.


Am memberikan nasi juga kepada Lais.


"Jangan bilang ini juga dari kekuatanmu?" kata Lais.


"Jika bukan dari itu, darimana aku dapat mendapatkannya?" kata Am.


"Baiklah, nasi darimana pun jika kamu yang memberi akan aku makan" kata Lais.


"Kamu tinggal memakannya kenapa banyak bicara?" kata Am.


"He, he, he" tawa Lais tahu jika Am mengerti bahwa dia hanya menggombal.


...****************...


Terlihat semua pengungsi sedang beristirahat di sana. Sedangkan Am, tak dapat beristirahat seperti manusia.


Lais juga terlelap karena lelah dengan perjalanannya tadi.


Setelah semua orang terlelap, Am pergi melihat rumah tua milik keluarga Furqon dahulu.


Jika Am membersihkan rumah yang hancur itu dengan kekuatannya, tentu dalam waktu 24 jam, rumah itu akan kembali berantakan.


Akhirnya Am menciptakan alat-alat pembersih manusia. Seperti vacum, sapu, penebah, dll.


Kemudian Am memggerakkan semuanya untuk membersihkannya. Menciptakan listrik pun adalah hal mudah bagi Am. Hanya dengan jentikkan jarinya dia dapat menciptakan segalanya. Asal itu tak merubah takdir satu mahkluk.


"Srak, srak, srak, bruzzzh, trizzzh"


Semua berjalan sesuai dengan yang Am pikirkan.


Dan ini harus selesai sebelum fajar menampakkan wajahnya.


...****************...


Beberapa jam kemudian, rumah yang kumuh itu terlihat bersih. Walau atapnya telah tidak terbentuk, namun setidaknya rumah ini terlihat bersih. Am telah puas dengan pekerjaannya.


Saat Am kembali terlihat Lais tengak tengok kemari. Akhirnya mata itu melihat apa yang dicarinya yaitu Am.


"Am, darimana kamu?" tanya Lais.


"Aku dari rumahku,,, dan juga,,, rumah masa lalumu" kata Am.


"Apa? Rumah masa laluku?" tanya Lais bingung dengan menunjukkan jari telunjuknya pada dirinya sendiri.


Am langsung menyeretnya menuju rumah keluarga Furqon itu.

__ADS_1


"Lihatlah Lais, apa kamu mengingat tempat ini?" tanya Am dengan menunjukkan rumah tersebut tepat di depan pintunya.


"Ini rumahmu dulu Am? Terlihat sangat Tua. Arsitekturnya juga sangat kuno. Benarkah ini rumahmu Am?" tanya Lais.


"Iya, ini juga rumahmu dulu Lais" kata Am.


"Rumahku? Apa maksudnya?" kata Lais.


Am mengajak Lais masuk, dia mengajaknya melihat-lihat isi dalamnya. Yang banyak ruangannya tanpa perabotan dan rumput liar itu.


"Lihatlah! Mungkin kamu bisa mengingatnya" kata Am.


Sudah sejak tadi Lais tak faham dengan apa yang dimaksudkan Am. Sekeras apapun dia berfikir dan mengingatnya, dia tak menemukan apapun.


"Cukup Am, sebenarnya apa yang sedang kamu bicarakan? Rumah masa laluku? Aku mengingatnya? Apa maksudmu?" kata Lais dengan memegang kedua tangan Am.


"Lais, bukan ini caranya. Seharusnya kamu yang mengingatnya sendiri" jawab Am menunduk.


"Ingatan apa yang kamu maksud? Aku saja kesini ini pertama kali. Dan aku dapat tiba di sini karena bantuan dari google map" kata Lais.


"Lantas, ingatan apa yang kamu maksud?" tambah Lais.


"Jawaban itu ada dalam hatimu Lais, dan aku akan sabar menunggu hingga kamu menemukannya" jawab Am.


Wajah Am terlihat sedih lalu dia berjalan menuju tempat pengungsian.


Melihat wajah Am tentu Lais tahu jika Am sangat kecewa. Tapi Lais benar-benar tak mengerti yang dimaksudkan Am.


Saat mereka di pertengahan jalan ke pengungsian, Am mengatakan kepada Lais.


"Maaf Lais, mungkin aku terlalu terburu-buru" kata Am.


"Aku hanya,,, sedang tak sabar saja" tambah Am dengan lirih.


Mendengar Am berbicara demikian, membuat Lais merasa jika ada sesuatu yang harus dia ingat dan ketahui. Walau sebenarnya dia benar-benar tak mengingat dan mengerti apapun, tapi Lais berusaha untuk mengerti yang dikatakan Am.


"Am, sebenarnya aku tidak mengerti apa maksudmu. Tapi do'akan aku agar dapat mengingat hal yang kamu maksud" kata Lais.


Am tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


Saat perjalanan hendak menuju pengungsian, Am membelokkan langkahnya dan mencari persembunyian. Dengan diikuti Lais, Am menciptakan makanan yang telah dibungkus untuk diberikan kepada pengungsi.


"Criiiiiiing!!"


Jadilah makanan itu dengan jentikkan tangan Am.


"Jujur Am, aku tak pernah bertemu makhluk yang serba bisa sepertimu. Bagaimana kamu dapat melakukan ini semua?" kata Lais.


"Lais, kamu akan menemukan jawaban siapa aku saat kamu dapat mengingat semuanya" jawab Am dengan tersenyum.


Lais langsung terdiam dan tak berkutik mendengar jawaban Am. Karena dia benar-benar tak dapat mengingat apapun.


Kemudian Lais membantu Am membawa makanan itu ke pengungsian dan membaginya.

__ADS_1


__ADS_2