Sang Penguasa Malam

Sang Penguasa Malam
Aku juga ingin sepertinya!


__ADS_3

"Haaa..."


Baek Tian menghela napas panjang.


"Kenapa ini terjadi pada diriku?"


Baek Tian. Enam puluh tiga tahun. Seorang pedagang. Dulunya merupakan ahli pedang.


"Berapa kali pun kulihat..."


Sekarang ini dirinya sedang meratap di depan patung emas yang berukuran raksasa di tengah-tengah alun-alun ibu kota.


"Seharusnya aku orang yang menjadi kaisar dan mendapatkan ketenaran seperti orang itu."


Sekali lagi Baek Tian menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya berulang kali.


Dia mengingat waktu dirinya berada di akademi bersama dengan orang yang menjadi kaisar di kerajaan ini. Orang itu bernama Tang Zihan.


Tang Zihan adalah seorang yang berbakat. Dikatakan bakatnya itu hanya ada setiap satu juta tahun sekali.


Memang bisa dikatakan jika itu terlalu berlebihan, namun memang itulah kenyataannya.


"Di usianya sembilan tahun saja, dia bisa menjadi seorang ahli."


Begitulah kenyataannya, Tang Zihan adalah monster diantara monster. Seseorang yang telah ditakdirkan sebagai kaisar di negeri ini.


Misalkan ini adalah dunia novel maka dirinya saja protagonis satu-satunya di sini.


Meski begitu Baek Tian tetaplah berjuang dimasa itu. Dia tidak menyerah sama sekali dengan mimpinya.


Dia yakin jika dirinya terus berusaha bekerja keras mati-matian seperti orang kesurupan dari pagi sampai malam, dua puluh empat jam, dirinya akan melampaui Tang Zihan.


Namun yang terjadi, dirinya malah dinyatakan lumpuh dan tidak bisa menggunakan tenaga dalam sama sekali seumur hidupnya.

__ADS_1


Baek Tian menjalani hari-harinya di kursi roda dan tahun-tahun pun berlalu dalam sekejap, dirinya terus mendengar pencapaian Tang Zihan hari demi harinya. Tidak ada satu hari pun yang terlewat tanpa ada omongan mengenai prestasi Tang Zihan.


Dan hari ini, sebagai bentuk penghormatan dirinya menjabat sebagai Kaisar, Tang Zihan mendapatkan sebuah patung emas dirinya.


"Sial!"


Baek Tian memukul kakinya sendiri. Dia menggigit bibirnya sampai berdarah dan mengutuk langit dengan menudingnya.


"Aku tidak terima!"


"Aku tidak terima ini!"


"Tidak! Tidak! Tidak! Tidak!"


Dia terus-terusan berteriak seperti itu di alun-alun.


Orang-orang yang melintas dan berada di sekelilingnya berpikiran bahwa orang itu sudah gila.


"Mana keadilan untukku!"


Baek Tian memutar kursi rodanya dengan lesu. Dia tidak memiliki semangat sama sekali.


"Rasanya aku ingin mati saja..."


***


Di dalam istana.


Tang Zihan tersenyum melihat pemandangan di bawahnya.


"Semuanya tampak kecil jika dilihat dari sini."


Dia tersenyum saat melihat para penduduk dan bangunan-bangunan di bawahnya bak seperti semut-semut kecil dan rumah mereka yang seperti batu kerikil.

__ADS_1


Istana yang ditempati Tang Zihan sendiri seperti menara emas yang sangat tinggi melebihi gunung tetapi masih di bawah langit.


"Dan sebentar lagi, bukan hanya ini saja..."


Tang Zihan mulai tertawa. Dirinya hampir menjadi penguasa benua ini.


"Sedikit lagi."


Dia memiliki kekuasaan lebih dari delapan puluh persen, tinggal dua puluh lagi sisanya dan dirinya benar-benar akan menjadi penguasa benua.


"Tinggal kau saja yang tersisa sekarang. Raja vampire yang bodoh, Cecilion!"


Tang Zihan tertawa terkekeh dengan mengusap rambutnya sampai dirinya mulai tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya.


"Besok adalah harinya. Aku sudah tidak sabar lagi untuk memburumu wahai kelelawar kecil."


"Kahahahahaha-!!!"


***


Paginya. Baek Tian bangun pagi-pagi sekali dan memulai hari dengan melemaskan kedua tangannya.


Dia harus melakukan itu setiap hari karena bagian tubuh yang tersisa darinya hanya tinggal kedua tangannya.


Karena itu dia harus menjaganya dengan baik, dia merawatnya dengan cara melemaskannya dengan peregangan dan berolahraga setiap pagi.


"Baiklah. Mari berangkat."


Setelah selesai melakukan ritual pagi, sekarang Baek Tian siap memulai hari.


Dia berdagang senjata dan perlengkapan bertarung. Untung yang dia dapatkan juga tidak seberapa karena dia hanya seorang penjual yang menjual kembali dari toko senjata lain.


"Selamat datang di toko senjata kami!"

__ADS_1


Baek Tian tersenyum lebar menyambut pelanggan pertamanya.


__ADS_2