
Guru Besar dari ketiga sekte dan Kaisar sendiri mencoba memeriksa kebenaran yang dikatakan Er Ling. Hasilnya, beberapa dari mereka ada yang menarik napas dan beberapa yang lain mengeluarkan keringat di dahi mereka.
"Jadi begitu, lalu apakah standar untuk turnamen besok perlu kita turunkan?"
Mengetahui pria berbakat seperti Baek Tian akan mengikuti turnamen, Kaisar Yin Song harus menerapkan batasan-batasan untuk orang seperti itu.
Anak-anaknya juga akan mengikuti turnamen di sana, peluang mereka untuk menjadi juara menjadi hilang jika seseorang seperti Baek Tian ikut.
"Turnamen akan diselenggarakan untuk mereka yang ada ditahap Master ke bawah saja. Bagaimana menurutmu Murid Baek, kau setuju dengan itukan?"
Meski dirinya sedang tersenyum, Kaisar Yin Song sesungguhnya sedang memberikan aura intimidasi untuk Baek Tian, dia seolah ingin mengatakan padanya supaya diam saja dan setuju saja dengannya.
"Saya tidak keberatan, jika itu adalah keputusan anda, Yang Mulia."
"Bagus sekali!"
__ADS_1
Lagipula jika Baek Tian ikut, dirinya hanya akan bersaing seolah sedang melawan para anak-anak. Dia bahkan bisa membayangkan siapa orang yang akan bertemu dengannya di final nanti.
"Mohon maafkan kelancangan saya Yang Mulia, tapi saya tidak setuju dengan usulan anda."
Orang itu adalah Guru Besar dari Sekte Gunung Hua, Han Seo. Dia terkenal dengan sikapnya yang lurus dan jujur, melihat hal sekecil apa pun ketidakadilan di depannya dirinya tidak akan pernah bisa tinggal diam.
"Baek Tian tidak salah Yang Mulia, kenapa kita memberikan batasan padanya, padahal dia juga seseorang dari generasi baru."
Kaisar Yin Song melihat ke arah Guru Besar Han Seo dengan tatapan kosong, sepertinya akan ada keributan besar di sana jika dirinya tidak segera bertindak. Baek Tian secepat mungkin mengangkat tangannya bermaksud untuk memberikan pendapat.
Namun tiba-tiba saja Kaisar Yin Song mengangkat tangannya, dia berbisik kepada salah satu pelayan yang menghampirinya itu. Sampai pelayan yang pergi untuk beberapa saat kemudian muncul kembali dengan membawa sebuah barang.
Dengan hati-hati Kaisar Yin Song melepaskan kain pada senjata itu, dan sebuah pedang mula terlihat. Itu adalah pedang panjang dengan energi api yang terus meledak-ledak di sekelilingnya.
"Kalian pasti tahu dengan pedang ini kan?"
__ADS_1
Mata semua orang dibuat terbelalak bahkan Baek Tian sendiri tidak bisa mengatakan apa pun.
"...Pedang Api Dewa Asura."
Itu adalah pedang yang dulunya digunakan oleh Dewa Asura untuk membunuh monster Kelas-SSS. Pedang yang bahkan dapat menembus kulit dari monster bencana itu layaknya sepotong kertas. Salah satu dari empat pusaka bumi yang paling dicari semua pendekar bela diri dunia untuk menjadi yang terkuat. Senjata yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan bumi.
'Apa pedang itu sudah saatnya menemukan pemiliknya?'
Baek Tian tidak mengingat kejadian seperti ini ada di masa depan. Ini adalah peristiwa yang baru.
"Hadiah sebesar itu, hanya untuk para anak-anak..."
"Dunia yang sangat kejam... Pedang yang selama ini tersembunyi dan sulit dilacak, entah kenapa tiba-tiba menunjukkan dirinya."
Empat guru besar yang melihat pedang itu mulai dikuasai nafsu duniawi. Mereka tidak suka bila pedang tersebut sampai jatuh ke tangan anak kecil yang baru beberapa tahun belajar energi tenaga dalam.
__ADS_1
"Sekarang keputusan di tangan kalian, apakah kalian ingin tetap memberikan batasan untuk turnamen besok atau membiarkan generasi muda di sekte kalian bebas untuk mendaftar."