
-Baiklah jika itu keputusan kalian.... Sejujurnya, aku mengundang kalian kemari untuk secara resmi menunjuk kalian empat guru besar dari empat sekte legenda aliran putih menjadi juri pada turnamen setengah tahun lagi.
Orang-orang dewasa membahas tentang turnamen bela diri di sana sedangkan anak-anak muda yang tidak boleh ikut dengan pembicaraan mereka terlihat bermain di luar.
"Hei, bisakah aku berduel denganmu?"
"Apa?"
"Ambil itu."
Yin Baram membawa dua buah pedang kayu bersamanya kemudian melemparkan salah satunya.
Baek Tian memiringkan kepalanya, 'Apa ini sungguh bisa menjadi pertarungan?'
Sejak awal Baek Tian tidak berniat untuk bersaing melawan mereka orang-orang dari generasinya, tetapi karena Yin Yuze sudah repot-repot menantangnya, Baek Tian akan memberikan sebuah pencerahan untuknya.
"Apa kau takut? Pada orang yang memiliki tingkat kultivasi jauh di bawahmu?"
Mendengar ejekan itu Baek Tian masih tetap tenang.
"Anda sungguh memandang tinggi saya, tuan muda kedua. Kalau begitu saya terima usulan anda. Sejujurnya hal ini menjadi sebuah kehormatan dapat berduel melawan anda, sosok yang akan membawa dunia bela diri menjadi lebih baik"
__ADS_1
Kedua orang itu berdiri di tengah lapangan luas dengan membawa pedang mereka masing-masing.
Ong "Kalau begitu silakan mulai lebih dulu, tuan muda kedua."
Duel mereka berdua menarik perhatian murid-murid yang lain untuk berkumpul bahkan sampai Tuan muda pertama, Yin Yuze dan adiknya Tuan putri, Yin Yuehua yang sedang asik mengobrol di taman menghampiri mereka.
Yin Baram dengan semangatnya membawa maju pedangnya. Pedang mereka berdua saling berbenturan, dan Yin Baram langsung menyadari perbedaan kekuatan di antara mereka. Yin Baram seolah sedang bertarung melawan sebuah batu besar yang terus melihat saja tanpa melakukan apa pun. Dia tidak dapat merasakan sama sekali niat bertarung dari musuhnya itu dan hal itu membuat hatinya menjadi sakit.
"Sialan."
Yin Baram terus memberikan serangan tetapi tidak ada serangan yang dia berikan mampu untuk mencapai targetnya.
"Bertarunglah dengan serius, apa kau mencoba membuatku malu?!"
"Maafkan tindakan saya yang terlihat seperti itu di mata anda, tuan muda."
"Apa? Bukankah hal itu sudah jelas terlihat sedari tadi kita bertarung? Aku bahkan bisa mendengarkan tertawaan dari orang-orang di sekitar kita saat ini!"
Baek Tian tersenyum sampai menunjukkan gigi putihnya. Orang yang sangat menikmati suasana di sana sepertinya hanya Baek Tian.
Jika Baek Tian mencoba mengingat kembali pertemuan pertama mereka, dirinya bisa mati karena tertawa. Hal itu sangat persis dengan kejadian saat ini, bedanya hanya keadaan mereka yang terbalik saat ini.
__ADS_1
"Baiklah, jika itu yang anda inginkan, tuan muda."
Baek Tian menghampiri Yin Garam, dia mengencangkan cengkeraman pada pedang kayunya dan setelah mengayunkan pedang itu, seketika saat itu Yin Garam terbang ke udara.
Beberapa detik kemudian Yin Garam ditemukan tidak sadarkan diri setelah mendarat di tanah.
"Jadi benar ini hanya memerlukan satu pukulan."
Baek Tian melemparkan pedangnya ke tanah, dirinya tidak harus membuat masalah yang tidak perlu lagi di sana, membuat tuan muda kedua sampai seperti itu saja kemungkinan Baek Tian akan mendapat hukuman.
"...?"
Baek Tian melihat ke arah sosok di belakang tuan muda pertama. Di sana Yin Yuehua sedang bersembunyi dibalik punggung kakaknya.
Bek Tian yang melihat itu tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa, kakak jahat itu sudah menerima hukumannya."
Seketika mata kecil bulat milik Yin Yuehua bercahaya. Dia menundukkan kepalanya pada Baek Tian.
"Terima kasih karena telah menghukum kakak jahat itu."
__ADS_1
Baek Tian yang tersenyum melambaikan tangannya di sana.