
"Apa yang membuat anda datang berkunjung, Tetua Baek?"
"Patriak Fu, ada sesuatu yang saya inginkan?"
"Apa sesuatu yang anda inginkan itu sungguh ada di sini?"
Baek Tian terkejut melihat perubahan sikap seratus delapan puluh derajat yang ditunjukkan Fu Hei padanya. Dia terlihat seolah sudah tidak menganggapnya seperti anak kecil lagi.
"Saya ingin melihat warisan yang ditinggalkan pahlawan legendaris dari Keluarga Fu."
"Maksudnya anda menginginkan kitab catatan sang pendekar, karya dari pendekar legendaris Fu Juese?"
Baek Tian menganggukkan kepalanya. Patriak Fu dan Jiang Jiang yang tidak menyangka dengan permintaan itu tampak menahan keterkejutannya.
Fu Hei kemudian berpikir sebentar di sana sebelum dirinya akhirnya meminta Jiang Jiang untuk membawakan apa yang diminta Baek Tian kepadanya.
Jiang Jiang yang pergi untuk mengambil sesuatu beberapa saat yang lalu muncul dengan sebuah buku yang kotor dan terlihat sangat usang. Dia kemudian meletakkannya secara hati-hati di depan Baek Tian.
Tidak ada yang tahu berapa umur pasti buku itu dan orang-orang sering menganggap bahwa buku itu sudah berumur lebih dari satu dekade.
__ADS_1
Buku itu tampak sangat lama dengan aroma kertas yang sangat menyengat di hidung, buku itu terlihat rapuh sehingga bisa saja robek saat dipegang dan tulisan-tulisan di dalamnya sangat jelek dan sulit dibaca.
"Kitab itu tidak berisikan apa pun selain jurnal harian yang ditulis langsung oleh kakek leluhur kami. Apakah itu yang kau inginkan?"
Baek Tian tersenyum, "Terima kasih banyak Patriak Fu."
"Tunggu sebentar, kami tidak memberikan buku ini dengan gratis. Harus ada sesuatu pertukaran yang setara di sini kan, Tetua Baek."
Baek Tian sangat menginginkan buku tentang catatan pendekar dari pahlawan legendaris Fu Juese apa pun yang terjadi, tapi masalahnya di sini, buku ini adalah harta Keluarga sekaligus warisan dari leluhur mereka yang terhormat.
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Kami ingin menjalin hubungan yang baik dengan Tetua Baek, jadi ini tidak akan berat. Maukah anda memikirkan sekali lagi untuk bertunangan dengan Fu Ning?"
"Patriak?!"
"Patriak..."
Jiang Jiang sangat terkejut dengan tawaran yang diusulkan patriaknya sedangkan Baek Tian sendiri membuat ekspresi yang rumit, bagaimana dia harus menolak tawaran ini.
__ADS_1
"Haha, anda tidak perlu memikirkannya untuk sekarang, Tetua Baek. Cukup ingatlah ini dengan baik di kepala anda."
Fu Hei kemudian menghela napas panjang setelah Baek Tian pergi dengan membawa buku itu di tangannya.
"Apa ini akan baik-baik saja Patriak Fu?'
Jiang Jiang melihat Fu Hei dengan mata
"Tidak masalah, lagipula itu hanya buku usang tentang diari seorang pria tua di masa lampau. Apa masalahnya?"
Fu Hei melihat keluar jendela, dia melihat Baek Tian yang perlahan meninggalkan kediamannya.
"...Suatu saat, jauh di masa depan anda akan mengerti, kenapa anda harus menikah dengan Fu Ning, Tetua Baek."
Ucap Fu Hei dengan lembut seolah sedang berbicara dengan bayangannya sendiri, Jiang Jiang yang melihatnya hanya memiringkan kepalanya karena tidak mengerti.
[ Tahun Ke-68 Kalender Naga, Musim Hujan, Di bawah air hujan yang setiap hari turun. Fu Juese berlatih menggunakan pedangnya karena bermimpi untuk menjadi pendekar yang hebat... ]
[ Tahun Ke-68 Kalender Naga, Fu Juese melukai tangannya sendiri dengan bermain pisau sampai membuat darahnya yang keluar itu tidak bisa berhenti... ]
__ADS_1
[ Tahun Ke-68 Kalender Naga, Fu Juese yang tengah bertarung tiba-tiba tersambar petir di siang bolong... ]