Sang Penguasa Malam

Sang Penguasa Malam
Mimpi(2)


__ADS_3

"Sialan!"


"Ugh!"


Bak! Buk!


"Sial!"


Bak! Buk! Bak! Buk!


"A-Ampuni saya..."


"Hah? Mengampunimu...?"


Setelah perang berakhir, Han Zhongyun pergi menyendiri untuk beberapa hari. Dirinya yang muncul setelah beberapa hari menghilang mendengar sebuah rumor yang tersebar. Rumor itu mengatakan bahwa dirinya sembunyi karena takut dengan Baek Tian.


-Apa, hah?! Aku takut kepada bocah berbakat yang baru mempelajari tenaga dalam selama tujuh tahun?!


-Coba katakan itu di depanku kalau berani!


Sebagai pelampiasannya, Han Zhongyun memukuli setiap anak buahnya yang terlihat.


"Cih. Orang ini juga sudah rusak!"


Han Zhongyun menendang perut malang anak buahnya itu sampai terpental membentur tembok.


"Siapa lagi yang harus menerima pelajaran dariku?"


Han Zhongyun yang menatap ke sekeliling membuat semua anak buahnya menjadi bergidik ngeri. Mereka tahu tabiat buruk dari tuannya itu setiap kali dirinya stress, mereka hanya akan menjadi karung daging untuk membuat tuannya lega.


"Heh. Dasar penakut."


Han Zhongyun mendengus, sampai seseorang tiba-tiba datang dan mengatakan sesuatu.


"T-Tuan! Ini gawat!"


"Ada apa sampai terburu-buru seperti itu?"


Orang itu terlihat panik.

__ADS_1


"Katakan padaku."


"Baek Tian... Ada Baek Tian di depan, tuan."


Seketika Han Zhongyun terlihat terguncang.


'Apa?'


Han Zhongyun kemudian tenggelam di dalam pikirannya.


-Ada apa dengan tuan?


-Apa rumor mengenai tuan yang takut itu sebuah kebenaran?


-Dia hanya berani kepada kita yang lebih lemah darinya. Dasar sampah!


Han Zhongyun bisa mendengarkan semua bisik-bisik yang dibicarakan oleh anak buahnya, tetapi Han Zhongyun tidak membalas satu saja ucapan dari mereka dan kembali kepada si pembawa pesan.


"Dia ingin menemui anda saat ini tuan."


"Baiklah, aku mengerti."


Han Zhongyun menarik napas dalam-dalam sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


Han Zhongyun memberikan peringatan kepada para bawahannya dengan tatapan membunuh yang inten.


"Aku akan kembali."


Han Zhongyun pergi keluar untuk menemui Baek Tian.


'Ini sungguhan dia...'


Han Zhongyun sungguh sangat terkejut saat melihat Baek Tian. Tubuhnya bertindak secara naluriah dan bergerak sendiri karena pikirannya yang tiba-tiba berubah kosong.


"Ah. Han Zhongyun, Naga Petir."


"A, A-Ada yang bisa kubantu?"


Baek Tian memiringkan kepalanya, dia tidak mengira akan mendengar kalimat yang sangat sopan darinya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku kemari ingin merebut plakat emas darimu."


"Apa?"


Kedua alis Han Zhongyun terangkat secara bersamaan.


"K, K, Kenapa kau membutuhkan plakatku?"


Han Zhongyun tidak ingin memberikan plakat emas yang ada di tangannya. Jika seseorang ingin mendapatkan plakat tersebut, itu artinya seseorang tersebut harus bertarung untuk mendapatkannya, dan Han Zhongyun tidak ingin itu sampai terjadi.


"Kenapa kau bilang... karena aku membutuhkannya untuk menjadi murid di kelas Emas, s ehingga aku bisa bertarung dengan para tetua."


"Huh. Tapi itu artinya kau harus mendapatkan plakat emas kan?"


"Yup."


"Kau juga harus bertarung dengan seseorang yang memiliki plakat emas juga."


"Kau benar."


Han Zhongyun gemetaran. Dengan tangan yang bergetar dia meremas kakinya sendiri dan perlahan kepalanya turun ke bawah.


"Apa kau ingin menantangku berduel?"


"Kau benar sekali lagi. Aku cukup terkesan dengan pemahamanmu yang cepat itu."


"Ha-Ha-Ha..."


Han Zhongyun tertawa canggung di sana.


Bertarung dengan Baek Tian?


Bertarung hanya demi sebuah plakat? Orang gila mana yang akan melawannya bahkan Baek Tian sendiri bisa setara dengan Instruktur Oh. Plakat berwarna emas yang sekarang dirinya pegang tidak berarti apa-apa dibandingkan nyawanya.


Plakat itu tidak lain hanyalah simbol kekuasaan miliknya.


"Aku mengaku kalah... aku merelakan plakat ini kepadamu..."


Han Zhongyun memberikan plakat emas pada Baek Tian sekaligus mencopot pangkatnya sendiri.

__ADS_1


"Begitukah? Maka kau tidak bisa dipanggil Naga Petir sekarang."


"Sa-Saya mengerti..."


__ADS_2