
"Jadi, kalian sudah melakukan apa yang kuminta?"
"Ya, tuan!"
Para pelayan keluarga Fu menjawabnya dengan serentak.
"Bagus-bagus..."
Hal itu membuat pria tua di depan mereka, Fu Hei terkekeh. Pekerjaan yang dilakukan para anak buahnya memang sangat memuaskan dan membuatnya ingin menangis.
"Umurku sudah tidak lama lagi, aku sangat ingin melihatnya. Aku benarkan, Jiang Jiang?"
Fu Hei melihat pelayan yang memiliki usia tidak jauh berbeda darinya. Jiang Jiang yang berdiri di belakang Fu Hei menganggukkan kepalanya.
"Anda benar, tuanku."
"Hmph! Tapi kenapa cucu pertamaku ini begitu nakal? Siapa yang mempengaruhinya sampai bisa jadi seperti itu?"
Jiang Jiang merasa ingin menangis jika mendengarnya, dimana sosok Fu Hei yang seperti dulu? Kemana perginya aura kegelapan yang sangat dikenal masyarakat itu? Kemana perginya sang Monster Kekacauan itu?
Yang ada di depannya sekarang, adalah sosok pria tua yang selalu ingin berada di sisi cucunya selamanya.
"Tuanku, tapi ini semua demi kepentingan putri Fu Ning, dirinya harus berkembang dan mengenal tentang dunia luar."
"Apa? Kenapa cucuku harus begitu?"
__ADS_1
Jiang Jiang menepuk jidatnya sendiri karena sudah tidak sanggup lagi harus mengatakan apa.
***
Perjalanan ke selatan menuju perbatasan membutuhkan waktu tiga hari dua malam dan penaklukan akan dimulai seminggu setelah semua orang berkumpul.
Baek Tian selesai mengumpulkan ranting kayu dan tidak sengaja bertemu dengan Fu Ning yang juga melakukan hal yang sama seperti dirinya.
"Apa yang kau lakukan bodoh?"
"Justru itu pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu. Apa kau tidak bisa memasak?"
"Hmph. Kau juga sepertinya sama."
"Tapi kau itu adalah perempuan."
Malam itu yang memasak makanan adalah Tetua Sol dan para muridnya.
Luo Yan dan Bing Suinyuan menggosok perutnya karena puas dengan makanan itu.
Malam masih awal dan terlalu dini untuk mereka tidur, Tetua Sol kemudian terpikirkan suatu ide bagus.
"Ah! Bagaimana jika kita mengadakan latihan sparing malam ini Tetua Baek."
"Hm. Aku tidak masalah. Siapa yang akan menjadi musuhku?"
__ADS_1
"Bukan, bukan kau. Jika itu dirimu maka murid-muridku tidak akan bisa bertahan. Bagaimana jika mereka yang akan berlatih sparing."
Tetua Sol melirik ke arah Luo Yan dan juga Bing Suinyuan.
"Hmm, itu juga bagus."
Latihan sparing kemudian dimulai tetapi sesaat sebelum Tetua Sol akan memulai latih sparing, Baek Tian menambahkan,
"Tapi perlu kuperingatkan, mereka ini sangat kuat, aku bahkan tidak percaya jika mereka masih sangat muda."
'Apa yang kau bicarakan bukankah kau sendiri juga masih muda?'
Tetua Sol dan Fu Ning mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Baek Tian yang seolah menganggap dirinya sudah tua saja.
"Ahaha. Kurasa itu lebih bagus untuk perkembangan muridku juga, Tetua Baek."
Kata Tetua Sol yang berbasa-basi dan tidak ingin mempermalukan Baek Tian, tetapi apa yang terjadi ternyata sesuai dengan apa yang diperkirakan Baek Tian.
Ketiga muridnya kalah hanya dengan tiga gerakan saja.
"Sudah kubilang, mereka itu setiap hari melawanku. Jadi aku tahu bagaimana kapasitas mereka."
"Kau menakjubkan Tetua Baek."
"Ya, begitulah."
__ADS_1
Baek Tian memutuskan untuk tidur lebih awal meninggalkan Luo Yan dan Bing Suinyuan yang melanjutkan berlatih.
Tetua Sol sungguh terkesan dengan kemampuan Luo Yan dan Bing Suinyuan, andaikan saja mereka berdua adalah muridnya juga, maka dirinya percaya diri akan membuat mereka berdua lebih mengkilap lagi melebihi emas.