
'Ini... dimana...?'
Semua terasa seperti mimpi bagi Baek Tian, sebutir air mengalir keluar dari salah satu matanya membuatnya tampak seperti orang yang sedang menangis.
"Baek Tian, apakah kau menangis?"
"Huh?"
Baek Tian terkejut. Seseorang tiba-tiba memanggilnya. Orang itu melihat ke wajah Baek Tian, dia menyadari ada yang salah pada Baek Tian kemudian menghampirinya.
'Dia...'
Baek Tian menganga. Sosok di depannya itu bukanlah orang biasa. Dia merupakan sosok yang spesial bagi Baek Tian.
"Guru... Jiang...?"
"Kenapa kau memanggilku seperti itu? Kau menatapku seolah mengatakan bahwa saat ini kau sedang berhadapan dengan seorang hantu."
Hu Jiang tersenyum. Dia meletakkan tangan besarnya di atas rambut Baek Tian kemudian mengusapnya.
'Guru Hu Jiang masih hidup? Apa-apaan semua ini.'
Baek Tian masih belum menyadari yang sedang terjadi.
'Kenapa Guru tampak lebih besar. Tidak, kenapa sekelilingku juga berubah lebih tinggi?'
Baek Tian mulai curiga. Dia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari dirinya.
'Tunggu dulu...'
__ADS_1
Baek Tian mulai menyadarinya.
'Kenapa aku bisa berdiri?'
Baek Tian tiba-tiba melompat dari tempatnya yang dimana hal itu membuat Guru Hu Jiang sedikit terkejut dengan perubahan sikap Baek Tian.
Baek Tian kemudian mengecek tubuhnya dari atas ke bawah. Anggota tubuhnya masih lengkap, dia tidak kehilangan apa pun hanya saja yang berbeda sekarang adalah ukuran tubuhnya yang menjadi lebih kecil.
'Aku kembali ke masa lalu?!"
Baek Tian agaknya terkejut dengan situasi saat ini, namun sebuah seringai entah mengapa keluar dari bibirnya.
'Semua ini adalah kenyataan.'
Seringai Baek Tian menjadi lebih lebar.
"Nak, ada apa denganmu?"
"Apakah kau masih waras? Kepalamu baik-baik saja kan?"
Baek Tian yang mendengar itu tertawa semakin keras.
**
Baek Tian telah sadar sepenuhnya jika dirinya benar-benar melintasi jaman dan kembali ke masa lalu.
Apalagi dirinya yang berada di tubuh bocah berumur sepuluh tahun membuatnya bisa menyusun rencana dan bergerak leluasa di masa depan nanti.
Tujuannya hanya satu saat ini, yaitu untuk secepat mungkin membunuh Tang Zihan dan mengambil segala hal yang akan dia miliki.
__ADS_1
Baek Tian tidak tahu apakah Tang Zihan merupakan musuh atau malah seorang teman, apa pun itu semua itu tidak dapat mencegah tujuan awal yang telah dia tetapkan.
Baek Tian tinggal di asrama sekte. Dia bergabung dengan sebuah sekte besar dulunya disaat ia umur enam tahun.
Baek Tian direkrut pada saat itu karena seseorang yang melihat bakatnya, dan orang itu percaya bahwa suatu saat nanti Baek Tian akan menjadi pendekar dengan memiliki gelar hebat.
Sekarang sekte yang terkenal dulunya itu telah jatuh menjadi usang dan semakin hari semakin banyak orang yang keluar.
Namun Baek Tian tidak meninggalkan sekte tersebut, dia telah berhutang budi pada sekte itu dan tidak ingin melupakan jasanya.
"Hah?! Kau barusan bilang a-apa?"
Hu Jiang tercengang saat mendengarkan perkataan seorang bocah berumur sepuluh tahun.
"Aku ingin keluar dari sekte."
"T-T, Tapi kenapa...? Bukankah kemarin kau baru saja bilang akan menghidupkan sekte ini kembali?! Lalu sekarang kenapa hal itu tiba-tiba berubah?"
Hu Jiang menarik napas panjang dan mengeluarkannya berkali-kali. Dia berasa terkena serangan jantung mendengarkan Baek Tian, karena itu dia mencoba menenangkan hatinya.
"Aku tidak akan pernah melupakan sekte yang telah menerimaku dan membesarkanku sampai sekarang ini..."
"Kalau begitu kenapa--"
"Guru, aku akan pergi hanya untuk sebentar saja."
"Baek Tian... kau..."
"Percayalah aku akan kembali lagi nanti untuk menghidupkan kembali sekte ini."
__ADS_1
Mata Baek Tian menyala dan dengan itu membuat Hu Jiang pada akhirnya mengalah dan merelakan Baek Tian untuk pergi sementara demi masa depan.
"Nah, tujuanku untuk sekarang, yaitu bergabung menjadi murid Sekte Pavilion Seribu Harta."