
Dalam satu hari itu, Baek Tian berhasil membuat kehebohan sekali lagi di dalam sekte.
Tidak lama kemudian Baek Tian yang berhasil mendapatkan nama Naga Petir, datang menemui Instruktur Oh.
"Jadi begitu,"
Instruktur Oh menatap Baek Tian kemudian tersenyum gembira.
"Kau orang pertama yang mendapatkan plakat Emas, yakin memilihku untuk bertarung denganmu?"
"Ya. Aku akan menjadi tetua dengan mengalahkanmu."
Instruktur Oh tertawa mendengarnya.
"Kalau begitu, lawan aku di balai pelatihan besok dengan para tetua sebagai saksinya."
"Baiklah, saya mengerti."
Baek Tian menundukkan kepalanya kemudian menghilang.
'Menarik, sampai kapan kau akan menjadi sombong seperti itu. Lihatlah besok wahai anak muda.'
Di dalam perjalanan Baek Tian secara tidak sengaja bertemu dengan Fu Ning.
"Apa kau lihat-lihat?"
Tatapan tajam Fu Ning masih tetap pedas kepada Baek Tian.
'Seperti biasanya huh, dia masih belum berubah.'
Baek Tian tersenyum samar.
"Eh? Kau malah tersenyum."
Fu Ning yang melihat itu tampak kaget.
"Apa kau ini sebenarnya tipe orang yang suka dijahatin?"
Baek Tian mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Apa, siapa yang mengatakan itu?"
"Kakekku dia mengatakan ada tipe seperti itu di dunia ini."
Baek Tian sekarang menggaruk rambutnya yang terasa agak gatal.
"Seperti biasa, keluarga Fu memang memiliki tradisi uniknya sendiri yang diturunkan kepada keturunannya."
"Apa kau sedang mencoba menyindir keluargaku."
Baek Tian mendengus pelan. Perempuan di depannya itu memang sangat lucu dan memiliki jiwa yang liar, berbeda sekali dengan Xiao Nuwa yang kalem dan dewasa.
"Kau berpikir terlalu berlebihan. Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
Baek Tian mendongak untuk mengetahui apa yang sedari tadi menarik Fu Ning.
Di sana seorang remaja pria yang setengah telanjang dengan mata hitam dan aura penuh kegelapan sedang mengayunkan pedangnya berulang kali.
Pemuda tersebut sangat dikenal oleh Baek Tian.
"Oho. Cukup mengesankan, Fu Ning."
"Aku tidak mengatakannya sampai sejauh itu."
"Hmph!"
Fu Ning yang marah mendengus dan berputar menghadap ke arah yang lain.
"Kalau begitu lanjutkan apa pun yang sekarang sedang kau lakukan. Aku tidak peduli lagi."
"Tunggu."
Fu Ning tiba-tiba menarik ujung pakaian dari Baek Tian, matanya tidak ingin mengatakan hal ini tetapi dia harus mengatakannya jika ingin membantu pemuda yang sedang berusaha keras di sana.
"Bisakah kau membantunya."
Fu Ning menunjuk kepada Tang Zihan.
"Hah?"
__ADS_1
Baek Tian mengernyitkan keningnya mendengar hal tersebut.
"Dia sudah menemui hambatannya. Bisakah kau menolongnya, kumohon?"
-Apa maksudmu membantunya, membantu musuh yang ingin kubunuh? Membuatnya lebih kuat lagi sampai dirinya bisa membunuhku?
"Aku mengerti kalian memiliki hubungan yang istimewa."
-Istimewa dengkulmu.
"Tapi bisakah kau mengenyampingkan perasaan itu untuk sesaat?"
Baek Tian terbelalak melihat Fu Ning yang menundukkan kepalanya sampai di tanah.
"Kumohon padamu."
Baek Tian kemudian menepuk wajahnya, dia menghela napas panjang sebelum berubah pikiran dan perlahan berjalan menuju Tang Zihan.
[ Konyol sekali... ]
"Diamlah."
[ Kau sungguh ingin membantu musuhmu? ]
Raja Vampir tiba-tiba terbangun. Dia memprotes aksi yang akan Baek Tian perbuat.
[ Apa kau sudah tidak berniat lagi, huh? Apa kau tidak mengerti tujuan kenapa kita kembali ke masa lalu?! ]
"Tidurlah kembali."
[ Hanya permintaan dari seorang perempuan kau... Aku kecewa kepadamu. ]
Hanya dengan itu suara Raja Vampir Cecilion tidak terdengar kembali dan Baek Tian telah sampai di hadapan Tang Zihan.
"Apa kepar*t, kau ingin bertarung melawanku sekarang?"
"Kau masih memiliki tenaga untuk berkata kasar huh?!"
Keduanya mengarahkan nafsu membunuhnya antara satu sama lain.
__ADS_1