
"Ada yang aneh,"
Baek Tian merasakan sesak dan gerah disaat yang bersamaan, padahal saat itu, dirinya sedang tidak berlari.
Setelah melihatnya dengan seksama, rupanya terdapat dua orang yang tengah menempel padanya.
"Ugh. Ada apa dengan kalian berdua..."
Baek Tian menjadi pusat perhatian karena mendapat sorotan semua orang. Baik dari kanan dan kirinya, dua orang perempuan cantik sedang menempel saat itu.
"Apa kau yang bernama, Fu Ning?"
Sedari tadi mata Er Ling tidak pernah lepas dari wajah Fu Ning, sehingga Fu Ning merasakan ketidak nyamanan pada saat itu.
'Dia melampaui imajinasiku, aku tidak menyangka jika cucu Patriak sungguh sangat cantik.'
Dada Er Ling tidak mau berhenti berdebar, cukup dengan melihat wajah Fu Ning saja dirinya bisa yakin bahwa dirinya sedang jatuh hati sekarang.
'Aigo, cucuku...'
Di sisi lain, Fu Hei yang terus melototi cucunya itu menjadi tidak kuat dan sangat ingin memeluknya.
'Jadi kau sudah tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa seutuhnya.'
Dirinya ingin menangis rasanya, jika saja dirinya tidak sedang menjalankan kewajibannya, maka dirinya bisa saja menangis seketika di tempat.
"Ahem!"
Fu Hei membersihkan kerongkongannya.
"Cucuku... Erm! Ehem. Ahem! Baiklah, selamat datang rombongan dari Sekte Pavilion Seribu Harta Karun."
__ADS_1
"Terima kasih telah menyambut kami, Patriak Fu."
Baek Tian adalah orang yang membalas salam dari Patriak Fu.
"Ah. Kau sangat sopan sekali anak muda, siapa namamu?"
Baek Tian yang tersenyum menyebutkan namanya.
"Saya adalah Baek Tian, Patriak."
"Hmhm. Baiklah, kalian semua bisa pergi sekarang kecuali dua orang tetua kalian."
Luo Yan dan Bing Suinyuan berdiri, disusul dengan ketiga murid dari Sol Niger. Saat Fu Ning juga ikut berdiri dirinya tiba-tiba ditahan oleh Jiang Jiang di sana.
"Apa ini, anak muda, kau tidak pergi?"
Mata Fu Hei melihat ke arah Baek Tian.
"Saya adalah salah satu perwakilan juga, Patriak."
"Apa kau Tetua?"
Baek Tian mengangguk.
Mata Fu Hei, Jiang Jiang, dan juga Er Ling terbelalak karena tidak percaya.
Jiang Jiang yang menganggap jika apa yang dikatakan Baek Tian sebelumnya adalah candaan kemudian menahan napasnya.
Sedangkan Fu Hei secara perlahan berjalan menuju ke arah Baek Tian dan melepaskan aura di tahap Elite.
"Aku sedang tidak bercanda sekarang, anak muda."
__ADS_1
Menurutnya Baek Tian di sana sudah melampaui batas dan keterlaluan. Jadi dirinya akan memberikan sedikit pelajaran kepada anak muda jaman sekarang yang tidak sopan itu.
'Rasakan itu, bodoh!' Er Ling yang melihat hal itu tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya.
Namun beberapa saat kemudian meski dengan aura dan juga nafsu membunuh, Fu Hei masih tidak mampu membuat kesadaran spiritual Baek Tian terguncang.
'Ada apa dengan anak ini?'
Saat Fu Hei akan menambah sedikit lagi kekuatannya, tangannya tiba-tiba disadarkan oleh Jiang Jiang.
"Ah. Jiang Jiang! Terima kasih."
Fu Hei kembali ke tempatnya duduk dan menghembuskan napas panjang.
"Sepertinya kau memang adalah seorang tetua."
"Terima kasih, Patriak Fu. Maafkan saya jika penampilan luar saya tidak meyakinkan."
'Apaaa?!' Er Ling menaikan alisnya, bagaimana mungkin bocah itu seorang tetua di sana?
Pikir Er Ling yang tidak tanggung-tanggung lagi memperlihatkan kecemburuannya kepada Baek Tian.
Di sana Fu Hei dan Jiang Jiang kemudian menjelaskan prosedur mereka menjalankan penaklukan ekspedisi monster dan jenderal iblis.
Semuanya akan dimulai satu minggu lagi dan semua orang diharapkan telah siap dalam waktu itu.
"Sekte Pavilion akan ditempatkan di barisan paling belakang."
Tutup Fu Hei yang membuat Baek Tian melihat ke arah Fu Ning.
'Apa dia menempatkan kami di sana, hanya untuk menghindarkan Fu Ning dari bahaya?
__ADS_1