Sang Penguasa Malam

Sang Penguasa Malam
Ujian.


__ADS_3

Bukan berarti Baek Tian merasakan terintimidasi dengan jumlah peserta yang mendaftar ataupun semacamnya, melainkan dia terkekeh karena menemukan seseorang yang menjadi sumber kesengsaraan di dalam hidupnya.


"Tang Zihan!"


Baek Tian tersenyum. Tang Zihan berada diantara para peserta pada waktu itu dan Baek Tian menghela napas karena bersyukur masa depan masih sama seperti yang dia tahu.


Ini adalah waktu yang tepat untuk membuat Tang Zihan gugur dan membuatnya merasakan kesengsaraan pertama dalam hidupnya.


"Ini akan menjadi awal bencana untukmu..."


Baek Tian meremas kedua tangannya dan menjadi tidak sabar.


**


Pandangan Baek Tian kemudian beralih menuju ke arah Xiao Nuwa dan Fu Ning. Mereka berdua masih sama seperti di masa depan, memiliki kecantikan yang menonjol walaupun masih belum dewasa.


Kedua istri Tang Zihan itu juga menarik banyak perhatian orang-orang di dalam gedung.


'Mereka juga masih tetap akrab.'


Keduanya adalah teman kecil. Persahabatan mereka tidak akan terputus meski delapan puluh tahun berlalu.


"Oh, iya. Bagaimana dengan kabar Kakekmu?"


"Kakekku? Dia masih sama. Dia selalu kaku dan kolot seperti dulu. Kapan-kapan berkunjunglah kembali ke rumahku, semua orang menanyakan tentangmu Nuwa..."

__ADS_1


"Ogah. Hahaha."


Xiao Nuwa dan Fu Ning terus berbicara satu sama lain. Mereka asik dengan dunianya sendiri dan tanpa sengaja telah menciptakan sebuah penghalang yang sulit untuk ditembus orang asing yang ingin mengajak mereka mengobrol.


Baek Tian merasakan pandangan seseorang. Saat menoleh dia melihat Tang Zihan sedang mencuri pandang ke arah Xiao Nuwa dan Fu Ning.


"Oho..." Baek Tian menemukan bahwa fenomena tersebut cukup menarik. Dia tersenyum seperti iblis cilik sebelum berjalan ke arah Xiao Nuwa dan Fu Ning.


'Apa yang kau takutkan, hanya mengobrol dengan mereka berdua saja kau takut-takut? Cui-Menyedihkan-Dasar bocah.'


Baek Tian memiliki kepercayaan diri yang luar biasa di dalam dirinya. Dia bukanlah bocah berumur sepuluh tahun normal pada umumnya yang takut-takut dengan perempuan yang sebaya dengannya.


Dia memiliki jiwa seorang sesepuh yang berumur hampir ratusan tahun. Apa yang ditakutkan Baek Tian?


Baek Tian memberikan senyum yang ramah dengan penuh kepercayaan diri dan Baek Tian juga memposisikan dirinya agar berdiri tepat diantara keduanya, membuat aura keberadaannya semakin jelas di mata mereka.


Dia memberikan salam yang ramah dan menunggu untuk keduanya membalas sapaannya.


Sudah tidak terhingga perempuan yang dia dekati, dia selalu memberikan awalan yang sama seperti ini.


"Hei."


"Halo."


Namun jawaban yang keluar dari keduanya di luar dugaan dari Baek Tian.

__ADS_1


Baek Tian sempat tercengang untuk sesaat dengan jawaban dingin dan pedas itu, tetapi Baek Tian tidak berhenti di sana. Dia masih belum menyerah.


'Tidak. Tidak boleh begini.'


Baek Tian mulai memutar otaknya.


'Aku harus memberikan serangan di sini. Sesuatu yang membuat keduanya mengalihkan perhatiannya kepadaku. Membuat keduanya agar teringat kepadaku setiap kita bertemu. Hmmm...'


Baek Tian terdiam sesaat untuk berpikir sedangkan dua orang perempuan di depannya menghiraukan Baek Tian dan kembali mengobrol.


"Siapa sih orang itu, Xiao Nuwa. Apa kau kenal dengannya?"


"Tidak. Aku tidak juga. Kupikir itu temanmu Fu Ning, karena orang itu tiba-tiba sok kenal dan langsung menghampirimu."


"Mana mungkin. Aku tidak ingat pernah memiliki teman jelek seperti dirinya."


Baek Tian mendengar perkataan keduanya tetapi dia masih bisa tenang, dan menganalisis situasi.


"Benarkah? Kupikir orang itu tidak terlalu jelek-jelek amat."


"Apa maksudmu, Fu Ning, dia itu jelek, sangat jelek. Aku tahu kau memiliki sifat yang baik, tapi yang satu ini benar-benar jelek."


Alis Baek Tian terus berkedut mendengarnya. Tapi hatinya sudah terbakar amarah dan akan meledak sebentar lagi jika dia mendengarkan satu lagi mereka berbicara.


"Oh. Kau benar. Dia jelek setelah kulihat sekali lagi."

__ADS_1


__ADS_2