
"Apa di sini tempatnya?"
"Kurasa ini adalah tempatnya."
Dua orang perempuan cantik berdiri di depan pintu masuk. Dia memperhatikan toko dari Baek Tian dengan wajah penuh keraguan.
"Apa ini benar tempatnya?"
"Kurasa?"
Mereka sekali lagi mengulang dialognya. Setelah lama memutuskan di depan pintu masuk toko, mereka kemudian berjalan ke dalam.
"Selamat datang..."
Baek Tian tersenyum menyambut pelanggannya itu.
Baek Tian menahan napas saat melihat kedua pelanggan yang baru saja datang ke tokonya itu, mereka merupakan dua orang perempuan dengan kecantikan yang tidak akan dapat ditemui dimana pun.
Baek Tian akan setuju jika mereka adalah keindahan nomer satu di kerajaan. Baek Tian sesaat bahkan merasa beruntung dapat melihat mereka berdua.
"Salam. Namaku adalah Xiao Nuwa..."
"Dan aku adalah Fu Ning."
Dua orang perempuan itu memperkenalkan dirinya.
Setelah mendengar nama tersebut, Baek Tian kembali tersadar. Kedua nama itu bukanlah nama biasa. Siapa yang tidak akan kenal kepada mereka?
Seluruh kerajaan pasti akan mengenalinya.
"Kalian... tidak mungkinkan..."
Baek Tian menelan ludahnya.
"Istri-Istri dari sang kaisar?"
__ADS_1
Dari kursinya suara Baek Tian terdengar bergetar.
Xiao Nuwa dan Fu Ning. Mereka berdua adalah dua istri dari sang kaisar kerajaan, Tang Zihan.
"Kau benar."
"Yup."
Mereka dengan enteng mengangguk bersamaan.
Setelah mendengarkan itu, Baek Tian tersenyum masam.
'Pantas saja mereka memiliki kecantikan yang tiada tara.'
Dalam sekali lirikan itu, dia mengagumi sekaligus menyayangkan keduanya. Kaisar sangat beruntung bisa mendapatkan segalanya bahkan istri yang bagaikan bidadari ini.
'Sungguh lengkap sudah kurasa kebahagiaan sang kaisar.'
Baek Tian mengusir pikiran-pikiran liar yang ada di kepalanya, dia berandai-andai jika saja dirinya menjadi kaisar dan bisa seberuntung sepertinya.
Baek Tian menawarkan bantuannya saat melihat salah seorang diantara mereka melirik ke sana-kemari seperti sedang mencari sesuatu.
Toko Baek Tian memang tidak terlihat bagus dan di dalamnya juga berantakan, meski begitu toko itu memiliki ukuran yang besar dan sangat luas, bahkan sampai bertingkat.
"Bisakah kami berbicara dengan pemilik toko ini?"
"Kami ingin berbicara dengan orang yang bernama Baek Tian."
Xiao Nuwa tersenyum ramah, dia berbicara dengan sangat sopan kepada orang asing yang baru pertama dijumpainya dan itu berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan sikap Fu Ning di sebelahnya.
"Aih. Ada apa ini sebenarnya sampai dua gadis cantik bersama-sama menemuiku."
Baek Tian mengatakannya dengan maksud menggoda dan respons yang ditampilkan Xiao Nuwa dan Fu Ning masing-masing berbeda.
Xiao Nuwa yang mendengar itu malah tertawa kecil sedangkan Fu Ning terlihat marah-marah karena dipanggil gadis.
__ADS_1
"Kakek. Kami terlihat sangat muda itu hanya di luarnya. Sayangnya kakek akan kecewa jika menyadari berapa usia kami yang sebenarnya."
"Kakek tahu. Sebenarnya kami satu generasi dengan Kaisar. Jadi jangan panggil kami berdua seperti barusan lagi, kakek paham?"
Baek Tian tahu itu. Lagipula mereka semua sebaya. Hanya saja Baek Tian tidak terganggu saat dipanggil kakek oleh mereka berdua.
"Kakek. Kami memiliki permintaan dan ini perintah langsung dari sang kaisar..."
Maksud kedatangan Xiao Nuwa dan Fu Ning di sini adalah demi memenuhi perintah dari Tang Zihan.
"Sebagai penduduk yang taat. Anda harus merelakan senjata dan segalanya yang ada di dalam toko ini untuk membantu keperluan perang kaisar."
Mendengar itu kedua mata Baek Tian melebar, dia tidak tahu hal seperti ini akan terjadi menimpanya.
"Maksudnya aku harus menyerahkan semua hartaku di sini secara sukarela kepadamu begitu?"
"Begitulah, karena itu adalah perintah dari sang kaisar."
Langkah ini dibuat untuk memotong dana perang agar tidak bocor dan membengkak lebih lanjut lagi, itulah kesimpulan yang didapat dari Baek Tian.
Baek Tian tidak memikirkannya sampai ke sana. Dia tenggelam dengan keuntungan yang besar sepuluh kali lipat dari modalnya. Meski begitu Baek Tian masih serakah lagi, dia ingin lebih lagi, makanya dia membeli lagi pasokan perang dalam jumlah gila-gilaan.
"Tidak. Tidak. Aku tidak akan memberikan semuanya kepada kalian!"
Sorot mata Baek Tian tajam, dia menunjukkan nyala api semangat yang luar biasa di dalam bola matanya.
Melihat pemilik toko yang tidak mau menuruti kemauan mereka, Xiao Nuwa dan Fu Ning kemudian menarik pedangnya masing-masing sedangkan Baek Tian mengerahkan para penjaga dan pegawainya.
Namun semua itu percuma dihadapan pendekar beladiri tingkat tinggi di depannya. Mereka layaknya semut di tangan keduanya.
Pembantaian pun terjadi, tidak ada yang selamat selain Baek Tian sendiri. Itu juga karena belas kasihan dari Xiao Nuwa dan Fu Ning.
Toko Baek Tian dilalap api merah hingga menjadi abu dan tidak ada lagi yang tersisa.
Semuanya itu dilakukan dengan dalih sebagai hukuman untuk mereka yang tidak patuh kepada kaisar.
__ADS_1
.