
Seminggu telah berlalu dan semua orang dari berbagai sekte dan klan telah mendengarkan strategi penyerangan.
Pemimpin yang ditunjuk untuk penaklukan ini dipimpin oleh Keluarga Fu, langsung dari Patriak mereka.
Satu hari sebelum penyerangan, Baek Tian telah mengirimkan Gagak Tua untuk mengawasi daerah sekitar.
Menggunakan mata mereka yang saling terhubung satu sama lain, Baek Tian mampu mengetahui jumlah kekuatan masing-masing dengan melihatnya langsung dari langit.
Nampaknya, keseimbangan kekuatan yang dimiliki kedua kubu cukup sebanding sehingga Baek Tian bisa bernapas lega saat itu.
Sampai hari penyerangan pun tiba dan kenyataan sangat berbeda dengan bayangan semua orang.
Yang mereka pikir kemenangan dapat diraih dengan mudah pada hari pertama malah menjadi bumerang untuk mereka, pasukan penakluk dipaksa mundur dan mengatur kembali bagaimana strategi menyerang mereka.
"Tidak kukira kita akan kalah, bagaimana menurutmu, Baek Tian?"
Baek Tian tampak cukup tenang meski mengetahui kekalahan mereka di hari pertama.
"Hanya kita satu-satunya yang tidak dipanggil untuk rapat di sana, Tetua Sol. Bukankah mereka meremehkan kekuatan sekte kita?"
Setelah pasukan kembali ke perkemahan, seluruh tetua dari berbagai sekte dan klan dikumpulkan kecuali sekte Baek Tian dan Sol Niger.
Bukan kekalahan di hari pertama penyerangan yang menganggu Baek Tian saat ini, melainkan bagaimana mereka mengabaikan Baek Tian dan Tetua Sol saat ini.
"Err... itu, kupikir, mereka hanya berpikiran jika kita masih baru dalam hal ini, itu saja... tidak ada maksud buruk. Ahaha."
__ADS_1
"Hmmm. Baiklah jika begitu, apa peduliku kan?"
Mereka sendiri yang membuatnya jadi seperti ini.
"Jika ini adalah keputusan mereka. Maka mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya."
Baek Tian tersenyum kemudian berjalan pergi.
Di sisi lain Fu Ning tengah mencari kakeknya di dalam tenda. Penyerangan hari pertama telah gagal ditambah memakan cukup banyak korban dan jika dibiarkan terus, hal ini akan berdampak buruk pada nama keluarga mereka.
"Kakek, aku memiliki usulan."
"Ah. Cucu manisku, usulan apa yang kau maksud?"
"Baek Tian, dia akan sangat membant--"
"Berhenti, cintaku. Jangan banyak membicarakan pria lain jikalau kau sudah memilikiku."
"Cin-taku?!"
Er Ling muncul entah darimana.
Alis Fu Ning berkedut mendengar seseorang yang entah darimana itu tiba-tiba datang dan mengatakan hal bodoh di depannya.
"Apa kau tidak tahu, kita rupanya adalah sepasang tunangan."
__ADS_1
"Kakek?" Fu Ning yang terkejut mendengar hal itu kemudian menatap wajah kakeknya karena tidak percaya.
"Apa itu benar, kakek?"
Sedangkan di luar, seekor burung gagak baru saja terbang setelah mendengar kabar yang benar-benar mengejutkan.
"Bukankah ini menjadi menarik?"
Baek Tian tersenyum menerima kabar dari Gagak Tua di sampingnya.
Masa depan masih sama seperti yang dirinya tahu.
Dalam cerita ini seharusnya kemunculan Tang Zihan membuat Er Ling tidak dapat melakukan apa pun karena Fu Hei yang mengakui Tang Zihan pada hari pertama mereka bertemu. Lalu kenapa hal itu tidak terjadi pada dirinya sekarang?
Baek Tian hanya menaikkan kedua pundaknya karena tidak tahu, dan juga Baek Tian sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menggantikan Tang Zihan di sini.
Hari kedua penyerangan kembali dimulai, kali ini mereka semua lebih percaya diri karena merasa strategi ini akan lebih berhasil setelah rapat panjang dari para tetua.
Strategi ini masih sama dengan strategi yang sebelumnya hanya versi yang lebih sempurna dari strategi mereka yang pertama.
Tetapi yang tidak pernah disangka semua orang adalah...
Mata Baek Tian terbelalak.
"Ini sudah lebih dari kemampuan kita kan?"
__ADS_1