
"Fu Ning!"
"Nuwa!"
Kedua sahabat itu saling berlari dan merangkul satu sama lain di tengah arena.
Para penonton yang melihat pemandangan itu menjadi terhanyut dan menelan ludah mereka.
- Apa kedua bidadari itu sungguh akan bertarung?
- Aku tidak ingin melihat mereka saling menyakiti satu sama lain....
- Siapa sih, orang kejam yang membuat turnamen ini?
"Aku melihat gayamu masih belum berubah, kau masih mencintai Baek Tian kan?"
"Fu-Fu Ning!"
Xiao Nuwa berteriak di sana, mukanya merah padam karena ulah temannya. Fu Ning yang melihatnya tertawa, sudah lama mereka tidak bertemu dan berbicara seperti ini.
Hal itu mengingatkan Fu Ning saat keduanya saling berbicara dan bermain bersama di masa lalu. Jika saja Baek Tian dan Tang Zihan tidak saling bermusuhan, maka kemungkinan mereka akan menjadi lebih akrab sama seperti saat mereka waktu kecil.
"Aku telah tidur dengan Tang Zihan, bagaimana dengan dirimu, apakah sudah ada kemajuan dengan hubunganmu?"
"A-A... Apa?"
Itu terjadi begitu saja, mulut asal Fu Ning masih sama seperti dulu. Ketika dia berpikir kembali apa yang sudah dia ucapkan, Fu Ning menutup mulutnya sambil menghadap ke belakang dengan telinga yang memerah.
__ADS_1
'Apa yang sudah kukatakan tadi?!'
Dia menyesali perbuatannya.
Wasit datang ke tengah arena, Fu Ning dan Xiao Nuwa lalu mengucapkan salam pada masing-masing dan menyebutkan nama mereka.
Pertandingan langsung dibuka dengan dua orang yang mengeluarkan aura tahap Grand Master. Xiao Nuwa di sana tidak menyangka bila Fu Ning telah mendapatkan pencerahan dan naik ke tahap yang sama dengannya.
"Fu Ning, kau..."
"Tidak hanya dirimu saja yang berkembang, mulai detik ini aku akan mengejar kalian semua para jenius."
Kenangan saat melawan Empat Naga Langit satu tahun yang lalu cukup membuat Fu Ning menelan pil pahit kenyataan.
Dia tidak dapat berbuat apa pun saat itu dan bahkan tertinggal jauh dari Xiao Nuwa teman masa kecilnya.
Sekarang dirinya telah memiliki kekuatan untuk melakukannya. Fu Ning tidak akan membuat kenangan seperti sebelumnya.
Dia akan tumbuh dan menjadi lebih kuat lagi.
"Gaya Poeniks Merah,"
"Gaya Poeniks Biru,"
Alasan kenapa Xiao Nuwa dan Fu Ning dipanggil dua burung dari selatan adalah karena mereka memiliki seni bela diri seolah seperti dua burung Poeniks di dalam legenda.
"Lidah Api Poeniks!"
__ADS_1
"Sayap Beku Poeniks!"
Kedua energi yang saling bertolak belakang bertemu, api melawan es.
Tidak berhenti di sana, Xiao Nuwa dan Fu Ning saling bertukar serangan dengan segenap kekuatan mereka. Tidak ada yang mau mengalah.
Kadang Fu Ning menekan Xiao Nuwa dan kadang juga sebaliknya. Pertempuran mereka sangat menghibur sekaligus mendebarkan untuk ditonton. Para penonton penasaran siapa perempuan yang akan berdiri paling akhir.
"Gaya Poenik Merah, Cakar Api Mengerikan!''
"Gaya Poenik Biru, Cakar Beku Mengerikan!''
Keduanya mengeluarkan jurus pamungkas masing-masing. Teknik itu menghabiskan setengah energi qi di tubuh mereka, yang sekarang sudah kosong.
Api dan Es saling meniadakan di sana, dampak serangan mereka berdua bisa terlihat dari reaksi para penonton yang menggigil kedinginan dan berkeringat kepanasan secara bersamaan.
Wasit masuk ke dalam kepulan asap itu karena jarak pandang yang terbatas.
"Ini..."
Dia menemukan pertarungan sudah berakhir di sana. Wasit itu segera mengibaskan kedua tangannya dan kepulan asap pun menghilang.
- Pemenang pertarungan itu adalah....
- Tidak ada? Tidak ada dari mereka yang berdiri!
- Keduanya sama-sama tergeletak di tanah.
__ADS_1
Pertarungan itu diputuskan seimbang dan tidak ada yang maju ke babak selanjutnya.