
Luong Lien telah memasukkan ki ke dalam pedangnya. Tidak hanya itu pedang tersebut juga memiliki kualitas yang berbeda dari pedang lainnya dan ditempa oleh pandai besi terkenal.
Luong Lien berlutut di tanah. Dia memandang Baek Tian seolah menyembah seperti dewa.
Luong Lien masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Baek Tian kepadanya.
"Kau sudah kalah sekarang Luong Lien."
"Aku kalah?"
Tubuh Luong Lien tiba-tiba bergetar, dan itu berarti menandakan bahwa semuanya sudah selesai. Plakat besi berwarna perunggu yang berada di tangannya akan diambil oleh Baek Tian sebagai hadiah kemenangan.
Jika itu terjadi akan bagaimana nasibnya?
Dia akan turun ke kelas paling bawah dan tidak berdaya, sebagai murid di kelas Biasa.
Namun tiba-tiba Baek Tian mengatakan hal yang tidak dapat dipercaya dan Luong Lien menundukkan kepalanya dengan sangat rendah.
"Sudah kukatakan kan? Aku akan memaafkanmu kali ini, jadi bersyukurlah."
Baek Tian berjalan meninggalkan Luong Lien yang masih berlutut di tanah sembari tersenyum dan mulai berjalan menuju kembali ke Sekte.
***
"Kya! Tolong hentikan ini Guru Besar. Ini semua... salah."
"Apa maksudmu nona muda, kita baru akan mulai di bagian yang menyenangkan. Kau akan menyukai pistol milikku, karena punyaku agak berbeda dengan pria-pria umumnya!"
__ADS_1
"Hi-Hi-Hiyaaah!!!"
Di dalam perjalanan Baek Tian secara tidak terduga bertemu dengan seorang Guru Besar, Lu Huo yang akan berbuat mesum dengan salah satu muridnya.
"Eh?"
Momen itu sangat pas sekali.
Ketika itu Lu Huo atau Kakek mesum itu hendak menyingkap sehelai lagi pakaian yang tersisa dari perempuan yang tinggal bagian bawahnya itu.
Untung saja perempuan itu terselamatkan karena kedatangan Baek Tian yang tepat pada waktunya.
Perempuan itu segera berlari menuju ke arah Baek Tian dan bersembunyi di belakangnya. Perempuan itu secara terburu merapikan semua pakaiannya dari atas sampai ke bawah.
"Apa yang hendak anda lakukan Guru Besar?"
"Baek Tian, kau datang di waktu yang tepat."
"Bagaimana kalau kita membaginya?"
"Hah... Apa maksud anda?"
"Itu lho. Itu."
"Hm?"
"Tidak usah sok suci kau anak muda! Aku tahu seperti apa pikiranmu yang sebenarnya!!"
__ADS_1
Baek Tian memiringkan kepalanya seolah penasaran dengan apa kalimat selanjutnya yang ingin dikatakan Kakek mesum di depannya.
"Kau seperti serigala yang mengenakan bulu domba, pura-pura suci kemudian menggiring mereka para domba-domba manis masuk ke dalam mulutmu."
"Ayolah, anak muda! Aku tahu bahwa setiap hari dirimu merasakan kesepian yang tak tertahankan kan? Ini kesempatan yang bagus buatmu!!"
"Kau masih perjaka kan?"
Kakek Lu Huo terus mengoceh ke sana kemari, dirinya berusaha mati-matian membujuk Baek Tian agar berpihak ke sisinya.
"Baiklah. Baiklah. Kau menang. Sudah hentikan, Kakek mesum."
"He he he. Sudah kuduga, kau juga mesum anak muda. Hehe."
Rupa perempuan yang berdiri di belakang Baek Tian berubah menjadi jelek.
Setelah dia lolos dari satu ekor ular rupanya dirinya tidak menyadari jika masih berada di kandang ular dan berputar-putar di sekitar situ saja.
Kakek Lu Huo berjalan menuju Baek Tian kemudian menepuk pundaknya.
"Keputusan yang bagus. Kalau begitu aku yang akan duluan."
"Tunggu dulu."
"Ada apa?"
Baek Tian menahan tangan Kakek Tua Lu Huo.
__ADS_1
"Kakek mesum, aku tidak suka bekas darimu."
Baek Tian menunjukkan wajah penuh keseriusan.