
[ Tahun Ke-68 Kalender Naga, Musim Hujan, Di bawah air hujan yang setiap hari turun. Fu Juese berlatih menggunakan pedangnya karena bermimpi untuk menjadi pendekar yang hebat... ]
[ Tahun Ke-68 Kalender Naga, Fu Juese melukai tangannya sendiri dengan bermain pisau sampai membuat darahnya yang keluar itu tidak bisa berhenti... ]
[ Tahun Ke-68 Kalender Naga, Fu Juese yang tengah bertarung tiba-tiba tersambar petir di siang bolong... ]
Setiap hari Baek Tian tidak melewatkan satu menit pun tanpa membaca. Meskipun kadang tulisan itu tidak jelas dan acak-acakan sampai membuatnya kadang pusing sendiri bahkan sampai membuatnya pernah tertidur di jalan, tetapi Baek Tian tetap membacanya.
"Ini tidak sesederhana yang terlihat."
Baek Tian bisa merasakannya.
Baek Tian mengerti jika buku ini bukanlah sembarangan. Buku yang ditulis langsung dari pendekar legendaris ini, memiliki harta yang tak ternilai di dalamnya.
Baek Tian bisa merasakan itu sehingga terus mengulang-ulang membacanya bahkan sampai meninggalkan latihan, dan sebentar lagi dirinya telah menamatkan buku itu sebanyak seratus kali.
"Percuma saja, aku masih belum mengerti tentang makna buku ini."
Sampai Baek Tian sudah masuk ke dalam hitungan jutaan. Dia hampir saja menyerah dan merobek buku itu menjadi dua bagian.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu tertarik hingga membaca buku usang itu sampai ratusan kali?"
Luo Yan yang berada di sekitar Baek Tian sedang melatih pemahamannya tentang teknik Sword Dancing agar bisa menggalinya lebih baik dan lebih dalam lagi sama seperti Baek Tian.
"Daripada membaca buku menyedihkan tentang catatan harian milik pria tua, bagaimana kalau kau melihat sudah sejauh mana level pemahamanku tantang Sword Dancing sekarang?"
Baek Tian sudah lama tidak memperhatikan perkembangan Luo Yan dan sekarang menjadi penasaran bagaimana dia berkembang setelah berbulan-bulan.
"Sword Dancing," Luo Yan berteriak.
"Gerakan pertama, Menari Dengan Air!"
Baek Tian terbelalak saat melihatnya kemampuan Luo Yan sungguh sudah berkembang lebih jauh lagi. Dia bisa merasakan bahwa Luo Yan benar-benar sedang menari dengan air di sana di bawah terpaan hujan.
Tubuh Baek Tian tiba-tiba bergetar di sana.
Luo Yan yang melihat ada sesuatu yang salah pada Baek Tian kemudian menghampirinya, "Ada apa Tetua Baek?" Dia mengguncang tubuhnya berulang kali yang terdiam bagaikan patung itu.
Tetapi Baek Tian hanya menghiraukannya, masih dengan tubuh dan mata yang terguncang. Baek Tian kemudian melihat kearah buku catatan sang pendekar yang tergeletak di tanah tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Tetua Baek?"
"Aha-aha-ahahahahahahahahaha!"
"Tetua Baek?!"
Luo Yan yang melihatnya tiba-tiba seperti itu menjadi pucat karena, "Tetua Baek akhirnya menjadi rusak!" Dia berteriak sangat kencang di sana.
Baek Tian segera melepaskan pegangan tangan Luo Yan yang mengkhawatirkannya dan berlari secepat mungkin ke arah buku itu.
"Itu dia! Itu yang membuat tetua Baek menjadi gila seperti sekarang!" Luo Yan kemudian menarik pedangnya, "Akan kumusnahkan buku itu! Tunggu aku Tetua Baek, aku akan menyelamatkanmu!""
"Kau berisik sekali Luo Yan, diamlah!"
"Apa!"
Luo Yan yang mendengar itu mengernyitkan keningnya, "Apa itu benar-benar anda Tetua Baek? Anda sudah tidak gila?"
"Kau lah orang yang gila di sini, Luo Yan."
__ADS_1
Baek Tian tiba-tiba menunjukkan senyum secerah matahari setelah menyelesaikan membaca buku itu dan sekali lagi membaliknya untuk mengulang lagi membaca buku itu dari awal.
"ini mustahil....."