
Satu bulan telah berlalu, tersisa lima bulan lagi sebelum turnamen bela diri untuk generasi muda digelar. Dalam waktu yang tersisa ini, Baek Tian memanfaatkannya dengan sebaik mungkin untuk terus berlatih dan belajar.
Baek Tian ingin menembus ke tingkatan yang lebih jauh lagi, tetapi dirinya merasa ada sesuatu tembok yang menabraknya. Mendorongnya untuk terus jatuh dan membuatnya menyerah.
"Ada apa dengan tembok ini?"
Seingat Baek Tian dulu tidak ada sesuatu yang seperti ini. Dirinya di masa depan mencapai tahap Epik meskipun diusia yang sudah sangat tua, lima puluh dua tahun.
Semakin lama juga dirinya maka akan semakin cepat Tang Zihan untuk dapat membalapnya.
"Sial!"
Di masa lalu, saat diumur sekarang, Tang Zihan sama sekali belum mencapai tahap Grand Master bahkan mendekati tahap Master pun belum.
"Itulah kenapa dirinya bisa disebut Anak Tuhan..."
Semakin kuat musuhnya maka anugerah yang diberikan langit kepadanya akan meningkat.
Baek Tian terduduk di atas tanah dan mulai merenungkan segalanya. Jika dirinya tidak dapat menembus lagi ke tahap yang lebih tinggi, mungkin sudah saatnya sekarang dia mencoba hal yang berbeda seperti berlatih seni bela diri baru, mencari senjata, atau sumber daya berharga yang akan membantunya mendapat pencerahan.
"Hmmm."
Baek Tian terdiam sangat lama.
__ADS_1
"Ada satu sumber daya yang sangat berharga, namun itu berada di tempat yang sangat jauh."
Apa sekarang adalah waktu yang tepat untuk dirinya menggunakan sumber daya itu?
Baek Tian bermaksud menggunakannya nanti saat dirinya memerlukan bantuan untuk menembus di atas tahapan Epik.
"Tidak, masih belum sekarang. Bagaimana dengan senjata itu?"
Senjata yang akan menjadi milik putra pertama Kaisar Yin Song, Yin Yuze empat tahun lagi. Senjata itu sangat kuat dan memiliki kesadaran sendiri, senjata yang dapat memilih sendiri siapa tuan yang ingin dilayani.
"Bagaimana dengan kitab suci catatan sang pendekar?"
Kitab suci catatan sang pendekar juga menjadi pilihan yang utama bagi Baek Tian. Pendekar yang menjadi seseorang legendaris dari keluarga Fu, Fu Juese yang mampu menembus ketingkat yang belum pernah dicapai siapa pun di umat manusia.
"Sayang dia memiliki takdir yang tragis."
"Apa yang membuatmu jauh-jauh datang ke sini, Tetua Baek?"
Jiang Jiang menyapa Baek Tian yang berdiri di depan pintu sebelum mempersilakan dirinya untuk masuk.
"Bisakah aku bertemu dengan Patriak Fu."
"Tentu saja, silakan masuk ke dalam, mari kita bicarakan semuanya di sana."
__ADS_1
Baek Tian melihat ke dalam ruangan, ada banyak orang yang sedang mengantri untuk dapat bertemu dengan Patriak Fu di sana.
Sepertinya Patriak Fu sangat sibuk sekarang, aku datang diwaktu yang kurang tepat, ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama kurasa, pikir Baek Tian.
'Apa?'
Tetapi pikiran itu segera menghilang saat dirinya berjalan melewati sebuah antrian panjang.
-Siapa dia? Kenapa dia bisa masuk lebih dulu daripada kita?!
-Apa-apaan ini? Kami bahkan sudah datang sedari pagi!
Baek Tian bisa mendengarkan bisikan-bisikan dari semua orang yang melihat ke arahnya dengan tatapan iri dan benci.
Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya mencapai suatu ruangan kemudian Jiang Jiang memutar pegangan pintu itu untuk mempersilakan Baek Tian masuk.
Baek Tian menundukkan kepalanya dan berterima kasih.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama, Tetua Baek."
Di sana sudah ada Patriak dari Keluarga Fu, Fu Hei yang sedang meresapi tehnya.
"Tidak, ini tidak selama itu."
__ADS_1
"Silakan duduk terlebih dulu tetua."
"Terima kasih."