
Di wilayah selatan berbatasan dengan kerajaan dan hutan sedang dibuat perkemahan besar di sana.
Seorang pemuda bersama dengan kelompoknya tiba lebih awal dari perkiraan mereka pada saat itu.
Pemuda tersebut mendapatkan pesan dari keluarganya untuk mengunjungi seseorang sesampainya di sana.
"Berhenti! Di sini adalah kemah milik Keluarga Fu, keperluan apa yang ingin anda lakukan?"
Pemuda itu menghela napas panjang.
"Kalian tidak tahu aku? Aku berasal dari Keluarga Er. Aku diminta keluargaku untuk menemui Patriak kalian."
"Apa?"
Para penjaga kebingungan, masalahnya mereka tidak diberitahu tentang hal ini dari awal, mereka bingung antara mengijinkan pemuda ini masuk atau tidak. Sampai Jiang Jiang muncul dan melihat pemuda itu.
Setelah mengenali wajahnya, Jiang Jiang segera berlari menemuinya. Jiang Jiang mempersilakan pemuda itu menemui Patriak.
"Maafkan atas ketidaksopanan kami yang sebelumnya, Tuan muda Er Ling."
"Aku tidak peduli jadi tidak masalah."
Er Ling masuk dengan punggung tegak dan dada yang membusung dengan penuh kebanggaan, pemuda itu terlihat sangat arogan di mata Jiang Jiang saat ini.
Jiang Jiang membuka tirai di depannya kemudian mempersilakan Er Ling masuk.
"Er Ling!"
__ADS_1
Fu Hei langsung mengenalinya.
"Hohoho, kau sudah tumbuh besar sekarang nak. Bagaimana dengan kabar kakekmu, apa dia sudah bertambah pikun sekarang?"
Fu Hei tertawa mencoba berbasa-basi dengan Er Ling di sana.
"Salam pada Patriak Keluarga Fu, Fu Hei."
"Yaya, kau bisa melewatkan salam yang kaku itu."
"Maafkan, saya tapi hal ini sudah menjadi kewajiban saya."
Jiang Jiang yang mendengar kata-kata tersebut dari luar menjulurkan lidahnya. Dia tahu kapasitas Er Ling sebagai penjilat.
"Aigo, lihatlah pemuda yang sangat sopan ini. Bukan hanya itu saja, kau juga ahli bela diri dengan bakat yang luar biasa."
"Jadi, ada keperluan apa Patriak sampai memanggil saya kemari."
"Hmm. Apa keluargamu sama sekali belum memberitahumu?"
Saat Patriak Fu ingin membicarakan keperluannya, Jiang Jiang yang tiba-tiba masuk memotong percakapan mereka dengan berlutut dan mengatakan hal yang sangat penting.
"Tuan! Putri Fu Ning telah sampai di perkemahan, dia sekarang sedang dalam perjalanan menuju kemari bersama dengan rombongannya."
"C, C, Cucuku?!"
***
__ADS_1
"Erm... apa kita benar-benar perlu masuk ke dalam?"
Fu Ning tiba di depan perkemahan milik keluarganya.
Sekali lagi dia mencoba memastikan dengan melihat ke sekitar, tetapi tidak ada satupun dari rombongannya yang meminta dirinya agar jangan masuk ke sana.
"Baek Tian, ada apa denganmu. Kau biasanya mengatakan hal yang buruk tentang sesuatu."
"Apa masalahmu, kenapa aku malah terdengar seperti orang jahat dari kata-katamu."
Jiang Jiang tiba-tiba muncul di sana. Dirinya mengenalkan namanya dan mengucapkan salam kepada nona muda serta rombongannya.
"Dimana tetua kalian?"
Jiang Jiang tidak melihat satupun sosok wajah orang tua di sana.
"Ah. Maaf terlambat mengenalkan diri. Namaku adalah Sol Niger, aku adalah perwakilan tetua dari Sekte Pavilion Seribu Harta Karun."
"Salam, pelayan Jiang, namaku adalah Baek Tian. Saya adalah salah satu perwakilan tetua dari Sekte Pavilion Seribu Harta Karun."
Sol Niger dan Baek Tian mengenalkan dirinya secara bergantian.
Namun ekspresi terkejut dan tidak percaya muncul di wajah Jiang Jiang yang tua.
Memang Sol Niger terbilang masih muda diusianya yang menginjak hampir tiga puluh tahun dan bisa dikatakan suatu prestasi dirinya busa menjadi tetua diusianya yang sekarang.
Tetapi apa-apaan dengan Baek Tian, bukannya dia hanya seorang remaja?
__ADS_1
Pikir Jiang Jiang yang menganggap kata-kata dari Baek Tian barusan sebagai sebuah candaan.