
"Sepertinya jika itu denganmu, aku dapat merelakan Fu Ning bersanding denganmu."
Sungguh tidak ada basa-basinya sama sekali pria tua yang berdiri di sampingnya itu. Dia mengutarakan langsung apa yang sangat ingin dikatakannya pada Baek Tian.
Sifatnya yang ceplas ceplos dan langsung ke intinya seperti itu mengingatkannya kembali pada Fu Ning.
'Yah, mereka memang keluarga, jadi wajar saja kurasa.'
Baek Tian tersenyum.
"Terima kasih atas tawaran anda Patriak, tapi saya masih belum memikirkan dengan siapa saya akan menikah di masa depan."
"Apa? Ini Fu Ning yang kita bicarakan loh, kau tidak melihatnya sebagai perempuan? Kau bahkan belum mencoba yang di dal--"
"Baiklah berhenti di sana."
Dengan mukanya yang berwarna merah padam, Fu Ning menarik telinga kakeknya itu dengan niat ingin memutuskannya.
Sedangkan Baek Tian menelan ludahnya ingin mendengar kelanjutan dari cerita kakek itu.
Di sebelah Fu Ning, Baek Tian bisa melihat Tang Zihan yang memberikan tatapan dingin.
'Oho. Sepertinya ada yang terbakar cemburu di sini.'
Baek Tian membalas tatapan Tang Zihan.
__ADS_1
Kontes menatap kembali diadakan dan keduanya sama-sama mengerahkan kemampuan terbaik masing-masing.
Adu tatap itu berlangsung sengit sampai melotot-melotot, tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya.
Fu Ning hanya bisa menghela napas melihat kebiasaan dari kedua rival itu masih belum berubah.
Ekspedisi telah resmi selesai dan malam itu semua orang berpesta dengan makan dan minum yang enak. Mereka bernyanyi dan tertawa bersama.
Beberapa orang juga mendapatkan hadiah dan penghargaan atas jasanya.
Atas permintaan Baek Tian sendiri, dia meminta Patriak Fu untuk merahasiakan mengenai apa pun tentangnya.
Tetapi semua itu terbongkar langsung dari mulut Fu Hei sendiri saat dirinya sedang mabuk di tengah pesta.
Rumor mengenai Baek Tian mulai tersebar dan perlahan Baek Tian menjadi pusat perhatian di kerajaan.
-Tentang seorang remaja jenius tahap Grand Master yang mengalahkan lawan-lawan di atas tingkatannya.
Satu bulan akhirnya berlalu, acara perjodohan Fu Ning dan Baek Tian ternyata dianggap serius oleh Patriak Fu.
Para tetua dan anggota keluarga juga setuju mengambil Baek Tian sebagai calon menantu mereka melihat kualifikasinya selama ini.
"Apa-apaan?"
Baek Tian meremas surat undangan pernikahan dirinya dan Fu Ning.
__ADS_1
"Ah. Selamat atas pernikahan anda dengan nona, Fu Ning, tuan."
"Bos, kukira anda membenci Fu Ning karena perempuan itu terus mengatai muka anda yang jelek setiap hari. Tapi dari itu semua rupanya, cinta bisa terjadi diantara kalian. Aku mengucapkan selamat untukmu, Bos."
Luo Yan dan Bing Suinyuan memberikan selamat secara tulus dari lubuk hati mereka yang paling dalam untuk Baek Tian, keduanya hanya terus bisa mengharapkan kebahagiaan selalu menyertai Tuan dan Bos mereka.
'Ini sudah keterlaluan, tidak dapat dibiarkan lagi!'
Baek Tian bergegas menuju kediaman utama keluarga Fu Ning.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dirinya akhirnya sampai di mansion utama.
"Salam Tetua Baek, anda di sini rupanya."
"Salam wahai Pelayan Utama Fu, Jiang Jiang."
"Tidak perlu sesopan itu, anda bisa memanggil saya Jiang Jiang seperti halnya Patriak Fu."
Kedatangan Baek Tian langsung disambut oleh Jiang Jiang di sana, seolah saja kedatangan dirinya sudah diprediksi
"Akan ada sedikit keributan di dalam, tapi itu tidak masalah masuk saja."
Di sana dia bisa melihat Fu Ning bersama dengan Tang Zihan saling menggenggam tangan satu sama lain.
'Oh.' Dan ada satu lagi orang yang hampir terlewatkan, Er Ling.
__ADS_1
'Apa yang dilakukan Er Ling di sini?'
Kedatangan Baek Tian membuat mata semua orang tertuju padanya.