
Hell Dog akan menyemburkan api birunya sekali lagi dan Er Ling berteriak untuk memperingati Tang Zihan agar menghindar.
Tapi usahanya itu hanya diremehkan oleh seseorang.
"Sebenarnya dengan siapa kau berbicara?"
"Apa?"
Fu Ning mendengus melihat kebodohan Er Ling.
"Apa kau tidak pernah mendengar nama, Anak Tuhan sebelumnya?"
Seketika kedua mata Er Ling terbelalak. Dia melihat ke arah Tang Zhan sekali lagi lalu menelan ludahnya.
Di sana Tang Zihan sudah bersiap dengan mengangkat senjatanya.
"Meski begitu, tidak mungkin dia bisa mengalahkan Hell Dog dengan satu serangan kan?"
Er Ling terkekeh di sana. Dia pernah mendengar nama Anak Tuhan sebelumnya dan dirinya juga dibandingkan dengan bocah itu di masa lalu karena bakatnya.
"Seni Takdir,"
Tang Zihan membalik pegangannya pada pedang baru di tangannya.
"Takdir Sang Tombak!"
Tapi apa yang terjadi sungguh menakjubkan.
__ADS_1
Dengan satu serangan itu, Tang Zihan mampu membelah api biru dan membuat lubang yang sangat lebar di kepala Hell Dog sampai menembus keluar dari belakang tubuhnya.
Er Ling yang melihat semua itu tidak dapat berkata-kata dan haya menahan napasnya.
***
"Darimana kau mendapatkan senjata yang aneh seperti itu?"
Fu Ning bertanya karena merasa aneh melihat senjata berwarna biru dan seperti kristal di tangan Tang Zihan sekarang.
Senjata itu tampaknya bukan pedang dan bukan juga tombak, bentuknya hampir mirip sebuah jarum.
"Ini? Ini adalah pedang panjang kristal naga. Aku mendapatkannya dari ruangan harta."
"Oh, begitukah. Selamat karena sudah menjadi tetua."
Tang Zihan melihat ke arah pedangnya lalu tersenyum.
Tang Zihan tidak sengaja menemukan sebuah senjata yang tidak dirawat dan dibiarkan sampai berdebu.
Pedang itu secara tiba-tiba beresonansi dengan qi miliknya dan mengatakan sesuatu seperti memilihnya dan sesuatu mengenai takdir.
Kristal yang tadinya jelek dan butek setelah menerima suntikan energi qi dari Tang Zihan perlahan mulai bercahaya dan berubah warna.
"Itu adalah takdir. Dikatakan dulu kala pedang ini dibuat dari inti naga. Hei, apa kau mendengarkan?"
"Apa aku harus memanggilmu Tetua mulai sekarang?"
__ADS_1
Tang Zihan hanya menghela napas panjang mendengarkan Fu Ning mengatakan sesuatu yang tidak berkaitan dengan topik pembicaraan mereka yang pertama.
"Baiklah, terserahmu."
Setelah mengumpulkan mereka yang masih bisa bertarung dan membunuh para monster yang tersisa, Tang Zihan bersama dengan beberapa orang mulai bergerak menuju barat untuk menjadi bala bantuan Patriak Fu.
Namun dirinya sungguh terkejut ketika melihat gunungan monster dimana-mana dan juga mayat tak tertolong lagi dari tim penakluk. Bau amis bahkan sudah bisa tercium di sana.
Apa mereka sudah terlambat?
Tidak ada satupun suara pertarungan yang terdengar. Sungguh aneh karena di sini merupakan tempat pertarungan utamanya.
"Kita terlambat?"
"Lihat di sana!"
Fu Ning kemudian menunjuk pada Jiang Jiang yang berada tidak jauh. Mereka pun bergegas untuk menemunya.
"Jiang Jiang!"
"Ah. Nona..."
"Apa yang terjadi?"
Jiang Jiang tidak mengatakan apa pun dan hanya melirik ke suatu tempat. Di sana bisa terlihat Patriak Fu, Fu Hei yang sedang berbicara dengan seseorang.
Setelah berada lebih dekat lagi, mereka akhirnya mengetahui siapa orang tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya jika itu denganmu, aku dapat merelakan Fu Ning bersanding denganmu."
Fu Ning yang mendengar itu lantas berteriak 'Apaaaa!' dan itu mengagetkan Baek Tian yang sedang terduduk di samping Patriak Fu.