
“Harum Sayang, Papi bilang setengah jam lagi Papi mau jemput," ujar Harum usai membaca pesan balasan dari Yuda.
Harum kecil yang tengah duduk murung sembari memeluk lutut, hanya mengangkat wajah menatap Harum.
"Jadi nih makan burger sama Papi. Harum cantik senang enggak?” lontar Harum seraya membelai rambut putri Yuda yang sepertinya tengah bersedih. Sejak mulai bersekolah dan mengenal apa arti ulang tahun, Harum kecil memang selalu begini di hari ulang tahunnya. Ia sedih karena tidak pernah mendapatkan ucapan selamat ulang tahun serta hadiah dari papinya.
Menatap Harum sekejap, Harum kecil menganggukkan kepala.
“Ayo senyum dong,” kata Harum sebab putri cantik Yuda itu masih terlihat murung.
“Kalau Papi bohong lagi bagaimana?”
“Hush. Anak cantik enggak boleh bilang begitu. Papi itu enggak pernah bohong. Kalau Papi belum dapat menepati janji, itu karena Papi harus menolong banyak orang. Harum kan anak baik, Harum juga suka menolong orang kan?”
Harum kecil mengangguk lagi.
“Bagaimana kalau sekarang Harum bobo siang dulu. Nanti bangun bobo, insyaallah Papi udah datang. Terus ajak Harum ke Mekdi deh.”
“Tapi bobonya sama Mami. Aku mau dibacain cerita.”
“Anak cantik, mau dibacakan cerita apa?”
“Eng ... cerita Cinderella.”
“Boleh.”
“Yeay,” sorak Harum kecil.
Harum menuntun putri kecil Yuda menuju kamar. Dengan antusias Harum kecil naik ke atas kasur dan merebahkan tubuh. Harum ikut merebahkan tubuh di sisi cucu Bu Yusma itu.
“Harum mau dengar cerita Cerita Cinderella syar’i?”
“Cinderella syar’i itu apa, Mami?”
“Cinderella syar’i itu Cinderellanya pake jilbab. dan gamis.”
“Kayak Mami dong.”
Harum menyunggingkan senyum. Ia pernah merasa menjadi Cinderella saat orangtua Hangga melamarnya dulu. Seketika ia jadi teringat dengan sosok Hangga. Tidak, yang benar ia memang belum bisa melupakan Hangga.
Mas Hangga apa kabar ya? Apa sekarang Mas Hangga dan Kak Nata sudah punya anak ya?
Belum selesai Harum bercerita tentang dongeng Cinderella syar’i , Harum kecil telah terlelap.
Harum beringsut turun dari atas tempat tidur. Sebelum keluar kamar, ia menyelimuti Harum kecil dengan selimut bergambar Minnie Mouse lalu mengecup pelipis putri cantik itu dengan lembut.
“Harum udah tidur, Nak?” lontar Bu Yusma tepat saat Harum keluar kamar.
__ADS_1
“Sudah, Bu. Alhamdulillah.”
“Alhamdulilah. Daripada rewel nanyain papinya, lebih baik tidur.”
“Mas Yuda bilang, setengah jam lagi mau jemput Harum. Mas Yuda kan udah janji mau ajak Harum ke restoran burger.”
“Alhamdulilah kalau Yuda mau berubah. Biasanya setiap hari ulang tahun Harum, Yuda kan enggak pernah datang dan sepertinya sengaja pulang malam supaya enggak ketemu sama Harum.”
Harum sudah sering mendengar cerita tersebut dari Bu Yusma. Menurutnya, adalah suatu kewajaran jika Yuda bersikap seperti itu. Mungkin Yuda masih belum bisa melupakan rasa trauma kehilangan istri yang bertepatan dengan kelahiran Harum.
“Bu, saya nitip Harum. Saya mau nengok kantin. Mau ngecek kebutuhan dapur di sana.” Selain mengurusi Harum kecil, Harum juga ditugaskan untuk mengelola sebuah kantin milik Yuda yang berada di lingkungan rumah sakit tempat Yuda berdinas.
“Iya, Nak. Sekalian tolong rekap absensi anak-anak. Ini udah mau akhir bulan, sudah dekat waktunya gajian,” pesan Bu Yusma.
“Baik, Bu.”
Setelah berpamitan, Harum pergi ke kantin dengan menggunakan motor matik milik Yuda. Saat sampai di area parkir, ia malah bertemu dengan Yuda yang baru saja turun dari mobil.
“Mas Yuda,” panggil Harum.
“Loh, Rum, kok ke sini?”
“Loh, Mas Yuda, kok di sini?” Pertanyaan tersebut diucapkan Harum dan Yuda bersamaan. Kemudian keduanya terdiam bersamaan.
“Mas Yuda enggak pulang ke rumah?” tanya Harum setelahnya.
“Mau ke kantin, Mas. Mau ngecek stok kebutuhan dapur.”
“Udah, udah, kamu enggak usah lama-lama di kantin. Terus kamu langsung balik lagi ke rumah aja. Tolong bujuk Harum supaya enggak ngambek. Mungkin saya bakal pulang malam.”
Setelah mengunjungi makam almarhumah Ranum, Yuda mendapatkan telepon dari rumah sakit, sehingga membuatnya membatalkan rencana pulang menjemput sang putri untuk kemudian mengajaknya ke restoran burger.
“Terus janji mau ajak Harum ke Mekdi gimana, Mas?”
“Kayaknya enggak bisa hari ini. Atau kamu aja yang ajak ke Mekdi gimana?”
“Tapi ....”
“Ya udah ya, Rum. Aku tinggal dulu. Pasien aku udah nunggu," pungkas Yuda kemudian mengambil langkah gegas terburu-buru menuju gedung rumah sakit. Meninggalkan Harum yang menggantung kalimatnya.
“Tapi, ini kan hari ulang tahun Harum. Harum ingin ke Mekdi sama papinya,” lirih Harum sembari memandangi langkah Yuda yang terus menjauh.
Seperti pesan Yuda, Harum tidak berlama-lama di kantin. Hanya mengecek kebutuhan dapur sebentar dan sedikit memberi instruksi pada karyawan kantin yang berjumlah kurang dari sepuluh orang. Setelahnya, ia langsung pulang ke rumah.
Dan benar saja seperti yang dicemaskan nya, saat sampai rumah, Harum kecil tengah tantrum. Bu Yusma dan seorang ART-nya tengah kewalahan menenangkan putri Yuda tersebut. Hati Harum ikut meringis menyaksikannya.
Harum tidak lekas menemui putri Yuda itu. Ia memilih lekas pergi ke kamar untuk mengambil sesuatu. Sebuah ide yang melintas di kepalanya menuntun tangan Harum membuka lemari dan mengambil sebuah benda dari sana.
__ADS_1
Duduk di tepi ranjang, Harum memandangi benda itu. Satu-satunya benda yang menjadi kenangannya bersama Hangga. Boneka Barbie versi muslimah yang mengenakan gaun pengantin model hijab, yang dulu pernah dibelikan Hangga untuknya sebagai kenang-kenangan saat liburan di Bali.
Hanya itu kenangan dari Hangga yang masih ia simpan. Sementara ponsel Harum yang banyak menyimpan foto-foto Hangga dalam galerinya, juga gelang tridatu khas Bali, tertinggal di mes kedai.
Harum tersenyum seraya menitikkan air mata memandangi boneka tersebut. Bayangan senyum Hangga yang merekah saat memberikan boneka tersebut masih terekam jelas di memori Harum.
Taraaaaa. Mas beli kembaran kamu dong.
Ini? Boneka Barbie?
Hem.
Kenapa boneka Barbie, Mas?
Ini tuh kembaran kamu, Harum Sayang. Nanti kalau mas kangen sama kamu, sementara mas enggak bisa dekat kamu, mas mau pandangin ini aja.
“Memangnya ini mirip aku, Mas?”
“Hem. Kamu itu cantik banget kayak Barbie. Tapi lebih cantik kamu sih. Oya, mas beli dua. Satu buat kamu, satu buat mas. Kamu pilih yang mana?”
Suara tangisan Harum kecil yang semakin keras membuyarkan lamunan Harum. Ia memasukkan boneka Barbie ke dalam wadahnya, lalu lekas menemui Harum kecil yang tengah tantrum.
“Harum cantik, coba tebak, Papi belikan apa untuk Harum?” lontar Harum dengan kedua tangan berada di belakang menyembunyikan boneka.
Pancingan Harum berhasil, putri Yuda itu seketika berhenti menangis.
“Taraaaa. Ini hadiah dari Papi untuk Harum. Boneka cantik untuk anak Papi yang cantik.” Harum menyodorkan boneka pemberian Hangga yang masih terbungkus di dalam wadahnya.
Senyum Harum kecil terbit seketika. Ia mengambil boneka Barbie dari tangan Harum. “Ini hadiah dari Papi?”
“Hem. Tadi Papi nitip ini ke mami. Katanya untuk Harum, tapi belum sempat dibungkus kado. Terus Papi juga nitip ucapan buat Harum.”
“Nitip ucapan apa?”
“Kata Papi, selamat ulang tahun, Harum sayang. Semoga Harum selalu sayang sama Papi. Begitu katanya.”
“Harum akan selalu sayang Papi,” balas Harum kecil.
“Terus bilang apa kalau habis menerima sesuatu?”
“Alhamdulilah. Terima kasih, Papi.”
“Anak pintar.”
“Mami, apa boneka ini yang namanya Cinderella syar’i?” lontar Harum kecil sembari memandang takjub boneka miniatur pengantin perempuan cantik berjilbab.
“Mungkin,” sahut Harum sembari tersenyum kecil.
__ADS_1
Bayangan wajah Hangga dengan air yang menggenangi pelupuk mata saat mengucapkan talak untuknya melintas di angan Harum. "Maafkan aku, Mas," lirih Harum dalam hati.