
Dari balik kacamata hitam Ray-Ban, Hangga sedari tadi memperhatikan Harum.
Hati Hangga sedikit melega saat melihat Harum tengah bermain air laut bersama seorang anak kecil. Setidaknya Harum tidak lagi duduk sendiri kesepian dan terlihat nelangsa.
Nelangsa karena acara liburan yang sejatinya sebagai ajang relaksasi, malah jadi nyeri hati sebab merasa tersisih.
“Yang, foto lagi di sana yuk!” ajak Nata menunjuk sebuah spot yang menurutnya menarik.
Hangga melirik sekejap ke arah Harum yang berjarak beberapa meter darinya. Jarak spot yang ditunjuk Nata lebih jauh lagi dari tempat Harum bermain dengan anak kecil itu.
Hangga ingin menolak sebab khawatir tidak dapat mengawasi Harum dengan jarak yang begitu jauh. Tetapi, lagi-lagi Hangga tidak dapat berbuat apa-apa selain mengiya-iyakan saja keinginan Nata.
Mood Nata yang sedang tidak bagus dipastikan akan membuatnya semakin rungsing jika ia berani menolak keinginan Nata.
Mungkin turuti saja dulu kemauan Nata. Nanti ia akan menyeret Nata kembali ke tempat ini agar bisa mengawasi Harum. Begitu pikir si pria beristri dua.
Setelah sekitar setengah jam berswafoto bersama Nata, Hangga kembali mengajak istri keduanya itu ke tempat semula. Untungnya Nata menurut dan tidak protes.
“Dari sederet pantai di sekitar Anyer ini, kamu paling suka yang mana, Yang?” Nata yang tengah duduk di atas pasir kecoklatan dan membiarkan kaki putih mulusnya tertutup pasir bertanya pada Hangga.
Hening tidak ada jawaban. Pertanyaan Nata justru dijawab oleh riuh deburan ombak yang menggulung-gulung.
__ADS_1
“Yang, kamu cari apa sih?” Pantas saja Hangga tidak menjawab pertanyaannya. Suami Nata itu terpergok tengah mengedarkan pandangan ke sekitar dengan raut cemas.
Plak
Nata memukul paha Hangga yang juga tengah selonjoran di atas pasir.
“Kenapa, Yang?” lontar Hangga.
“Kamu yang kenapa? Ditanya enggak jawab,” sahut Nata kesal dengan wajah cemberut.
“Harum ke mana ya?” sahut Hangga.
Setelah kembali ke tempat awal, Hangga malah tidak menemukan Harum. Ditambah pengunjung pantai yang semakin siang semakin banyak, membuat pandangan Hangga kesulitan menemukan istri pertamanya itu.
“Mau ke mana, Yang?” tanya Nata.
“Di sebelah sana ada rame-rame. Ada apa ya? Lihat yuk!” Hangga menarik tangan Nata kemudian berlari-lari menuju kerumunan.
“Ada apa, Bu?” tanya Hangga pada seorang ibu-ibu yang dilihatnya baru keluar dari kerumunan.
“Ada yang terseret ombak dan hampir tenggelam. Untung bisa diselamatkan,” sahut ibu-ibu dengan rambut dicepol.
__ADS_1
Hangga segera mempercepat langkahnya menuju kerumunan. Nata mengikuti di belakangnya masih dengan wajah ditekuk.
“Ya Allah, Harum.” Hangga syok luar biasa saat mendapati orang yang terkapar dan dikerumuni banyak orang itu adalah Harum.
Hangga lekas berjongkok mendekati tubuh Harum.
Refleks yang berjalan sangat baik itu menuntun bibir Hangga mendarat di bibir Harum. Tujuannya adalah memberikan napas buatan.
Harum yang dalam keadaan terpejam merasakan bibirnya disentuh bibir seseorang. Entah bagaimana, dalam keadaan mata terpejam, Harum bisa merasakan dan mengetahui kalau yang menyentuh bibirnya adalah Hangga.
Maklum, Hangga adalah satu-satunya orang yang pernah mengecap bibirnya.
“Mas,” lirih Harum saat Hangga memberikan jeda dalam aktivitasnya.
“Rum, kamu enggak apa-apa?” tanya Hangga khawatir.
“Saya enggak apa-apa. Saya enggak pingsan. Yang pingsan itu Ninis.” Harum melirik ke arah anak kecil yang berbaring tidak jauh darinya.
Hangga melihat sekelilingnya dan baru menyadari bahwa orang-orang lebih banyak mengerumuni seorang anak kecil di sana. Rasa cemas yang berlebihan membuatnya hanya berfokus pada Harum.
Sayangnya, Hangga tidak menyadari atau lupa bahwa di belakangnya ada sosok Nata yang berdiri menyaksikan perlakuannya pada Harum.
__ADS_1
Nata berdiri membeku. Melihat perlakuan Hangga pada Harum membuat dadanya mendadak terasa sesak dan panas. Sepanas terik matahari yang membakar pantai berpasir hingga terasa membara.