Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 50


__ADS_3

Tangan Nata meraba-raba sisi tempat tidur, sedangkan matanya masih dalam keadaan terpejam. Sontak, ia membuka mata saat menyadari tidak ada Hangga di sisinya.


Setelah kesadarannya terkumpul, Nata bangun lalu duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya melirik jam bentuk segi tiga motif etnik yang tergantung di dinding.


Waktu yang terpampang masih menunjukkan pukul 04. 45. Bagi Nata yang terbiasa bangun di atas pukul enam, rentang waktu tersebut masih masuk kategori subuh buta.


Wanita cantik itu menarik napas panjang kala mengingat mimpinya barusan. Mimpi yang membuatnya terbangun di subuh buta. Di dalam mimpi itu, ia menangis sekaligus marah besar saat melihat Harum memakai baju kesayangannya.


Pertanda apakah mimpinya itu? Nata tidak tahu. Dan tidak berminat mencari tahu. Ia bukan tipe orang yang percaya hal di luar nalar.


Setelah beberapa saat duduk termenung, Nata turun dari tempat tidur.


‘Hangga ke mana? Apa masih nonton bola?’ Ia bertanya dalam hati.


Nata keluar kamar untuk mencari Hangga. Turun ke lantai satu, ia tidak menemukan Hangga di ruang TV. Lalu pergi ke dapur, juga tidak menemukan Hangga di sana.


Mungkin Hangga masih ada di masjid. Begitu pikir Nata.


Di dapur, Nata mengambil segelas air. Minum segelas air saat bangun tidur sudah menjadi kebiasaan Nata sejak dulu. Saat tengah meneguk segelas air, ia melihat Harum yang baru keluar kamar mandi dengan rambut basah layaknya orang yang habis keramas.

__ADS_1


“Udah bangun, Rum?” sapa Nata. Ia mungkin tidak tahu kalau Harum memang terbiasa bangun subuh.


“Eh, I-iya,” jawab Harum yang tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya.


Terkejut karena tidak terbiasa melihat Nata di subuh hari, juga karena mengingat apa yang sudah dilakukannya bersama Hangga.


Terlebih kini Hangga masih ada di kamarnya.


"Sa-saya ke kamar dulu, mau solat Subuh,” pamitnya kemudian.


“Iya, silakan,” sahut Nata.


Sampai di kamar, Nata merebahkan tubuhnya di atas kasur ukuran king size yang dibalut sprei motif papan catur. Nata yang tidak terbiasa mandi subuh, memilih untuk bermain ponsel sambil rebahan.


Membuka akun sosial media miliknya, Nata mulai berselancar di dunia maya. Melihat berbagai macam postingan mulai dari yang berfaedah sampai yang unfaedah. Hingga kemudian, ia menemukan postingan resep nasi goreng spesial yang menarik perhatiannya.


“Kayaknya gampang deh bikinnya. Mumpung bangun subuh, apa aku buat nasi goreng aja ya, untuk Hangga sarapan,” ujar Nata berbicara sendiri.


“Ngomong-ngomong, Hangga kok belum pulang ya,” ucapnya lagi.

__ADS_1


Sampai jarum jam berhenti di angka lima lebih dua puluh menit, Hangga yang ditunggunya belum datang juga. Nata kemudian kembali keluar kamar untuk mencari Hangga.


Saat membuka pintu kamar, ia berpapasan dengan Bi Jenah yang sedang membersihkan area lantai dua.


“Bi, Hangga belum pulang ya?” tanya Nata pada Bi Jenah yang tengah memegang sapu dan kemoceng.


“Sejak bangun tidur tadi, bibi belum melihat Mas Hangga, Mbak,” sahut Bi Jenah.


“Hangga ke masjid ‘kan?” tanya Nata lagi.


“Kurang tahu, Mbak. Soalnya bibi enggak lihat Mas Hangga,” jawab Bi Jenah. “Tapi kalau ke masjid, biasanya jam segini udah pulang,” lanjut Bi Jenah.


Nata hanya mangut-mangut, tanpa berniat untuk bertanya kembali. Setelahnya, istri kedua Hangga itu turun ke lantai satu.


Nata yang masih berpikir Hangga pergi ke masjid dan belum pulang, memilih untuk duduk di depan televisi. Tangannya baru saja memegang remote hendak menyalakan televisi saat terdengar decit pintu terbuka dari kamar Harum.


Seketika mata sipit Nata terbelalak saat mendapati Hangga yang keluar dari kamar Harum.


“Hangga! Kamu ....”

__ADS_1


__ADS_2