
Setelah Yuda meninggalkan bangku taman, Harum turut berdiri lalu beranjak menuju kantin. Sampai di sana, Harum mengerjakan pekerjaannya. Tugas dan tanggung jawab Harum di kantin sama seperti tugasnya dulu saat bekerja di kedai milik Bu Mirna, yaitu mengurus administrasi pembukuan dan keuangan.
Tidak hanya itu, sesungguhnya Harum memiliki andil besar dalam perkembangan kantin milik Yuda yang baru berdiri sejak dua tahun terakhir. Beberapa menu masakan di kantin tersebut adalah menggunakan resep dari Harum.
Saat awal membuka usaha kantin, Yuda yang mengetahui bahwa Harum jago memasak dan konon masakannya enak, mengajak Harum untuk bekerja sama. Yuda membeli resep masakan Harum dengan sistem jual putus. Jual putus merupakan perjanjian yang mengharuskan pencipta menyerahkan ciptaannya melalui pembayaran lunas oleh pihak pembeli sehingga hak ekonominya beralih kepada pihak pembeli. Yuda membayar mahal beberapa resep masakan Harum. Terutama nasi goreng Harum dan soto bening Harum yang menjadi menu andalan di kantin milik dokter tampan itu.
Dua jam saja Harum berada di kantin sebab ia harus menjemput putrinya Yuda. Seperti pesan Yuda, sepulang sekolah ia membawa Harum kecil ke kantin dan nantinya akan menunggu Yuda mengajaknya makan siang bersama.
“Mami kita nunggu di ruangan papi aja yuk!” ajak Harum kecil saat turun dari mobil. Putrinya Yuda itu menolak untuk diajak ke kantin dan minta menunggu di ruangan sang papi.
“Enggak boleh, Sayang. Kan kata Papi, Harum enggak boleh masuk ke rumah sakit karena banyak virus.”
“Ah, enggak mau. Aku mau nunggu di ruangan papi aja.”
“Kita main ke rumah singgah aja yuk! Di sana banyak permainan loh,” bujuk Harum.
“Ada perosotan enggak?”
“Ada dong.”
“Kalau ayunan ada enggak?”
“Ada dong.”
“Iya, aku mau ke sana.”
Harum akhirnya membawa Harum kecil ke rumah singgah yang juga adalah milik keluarga Yuda. Bu Yusma mendirikan rumah singgah dengan tujuan membantu para pasien yang berasal dari luar Jakarta bahkan dari seluruh daerah Indonesia sebagai alternatif tempat tinggal pasien agar lebih dekat dengan rumah sakit.
Setelah sekitar setengah jam bermain dan sudah mendekati waktunya jam makan siang, Harum mengajak Harum kecil ke kantin.
“Mami kok ke kantin sih? Aku mau ke tempatnya Papi aja,” protes Harum kecil yang tengah bergelayut manja di lengan Harum.
“Iya, Sayang. Tapi kita ke kantin dulu ya. Tas mami ketinggalan di kantin sama hapenya juga. Nanti kalau papi telepon, gimana?”
“Tapi, jangan lama-lama ya, Mami.”
“Iya, Sayang.”
Keduanya berjalan bergandengan tangan sembari berbincang tentang kegiatan di sekolah.
“Mami, tadi di sekolah ada kecoa loh.”
“Hah, masa sih?”
“Iya. Terus teman aku ada yang nangis karena ketakutan sama kecoa. Aku mah enggak takut dong.”
“Wih, Harum hebat dong enggak takut sama kecoa.”
__ADS_1
“Iya dong.”
“Anak siapa dulu.”
“Anaknya Yuda Mahendra," celetuk Harum kecil yang sontak membuat Harum tertawa.
Harum tengah tertawa renyah karena mendengar Harum kecil menyebutkan nama Yuda dengan lengkap ketika terdengar suara seorang pria memanggil namanya.
“Ha-rum.”
Tanpa menoleh pun Harum sudah mengetahui siapa pria yang memanggil namanya. Mana mungkin Harum bisa melupakan suara Hangga jika nyatanya selama dua tahun ini ia begitu merindukan panggilan ‘Harum Sayang’ dari pria tersebut. Suara Hangga yang bergetar memanggil namanya turut menggetarkan hati Harum.
Perlahan Harum menolehkan kepalanya ke arah Hangga. Sorot mata penuh kerinduan itu bertemu. Tidak ada suara yang keluar dari bibir Harum. Tidak ada salam, sapa atau kalimat panjang yang mengalir dari bibir perempuan ayu itu. Begitu pun dengan Hangga, semua deretan aksara seakan lenyap dari otak dan tidak dapat tercetus dari bibirnya. Keduanya hanya terdiam, terpaku, membisu dan saling pandang. Hingga suara rengekan Harum kecil memutus tatapan mereka.
“Mami, ayo kita ke tempat Papi,” rengek Harum kecil sembari menarik tangan Harum agar mengikutinya. “Ayo, Mami, kita ke Papi. Itu papinya udah keluar.”
Hangga tergemap mendengar kalimat yang diucapkan anak kecil berparas cantik itu. Terlalu fokus menatap Harum menyebabkan ia baru menyadari bahwa ada seorang anak kecil yang digandeng oleh sang mantan istri.
Tanpa kalimat berpamitan. Hanya anggukan kepala sebagai salam pamit, Harum meninggalkan mantan suami yang masih dicintainya itu, mengikuti rengekan Harum kecil untuk pergi ke tempat papinya.
Hangga masih terpaku memandangi langkah Harum yang terus menjauh meninggalkannya. Ia yang dalam posisi berdiri kemudian melungsur duduk di bangku yang tadi ditempatinya.
Mami? Anak kecil tadi menyebut nama Harum dengan sebutan Mami? Apakah anak itu anaknya Harum? Batin Hangga bertanya-tanya. Harum pasti sudah menikah dengan seorang duda dan itu adalah anak dari suaminya.
Hangga masih menerka-nerka perihal pertemuannya dengan Harum yang tidak terduga ketika dering ponselnya berbunyi. Perasaan cemas seketika menyeruak di hati Hangga tatkala mengetahui nomor perawat lah yang menghubunginya.
“Iya, Sus.”
“Sedang makan siang, Sus. Ada apa ya?”
“Kalau bisa, Bapak cepat ke sini. Bu Nata jangan lama-lama ditinggal sendiri. Kondisinya ngedrop lagi, Pak, Hbnya turun lagi.”
“Baik, Sus. Terima kasih, saya segera ke sana,” sahut Hangga panik. Seketika ia teringat dengan pertemuannya dengan Harum barusan. “Astagfiruloh, kenapa tadi aku enggak tahan Harum agar mau menemui Nata,” lirihnya.
Rasa syok membuat Hangga tidak bisa berpikir dengan benar. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Harum di rumah sakit ini. Ditambah lagi sebutan ‘Mami’ dari seorang anak kecil yang kelihatan sangat akrab dengan Harum.
Hangga sudah mengayun langkah tergesa hendak menyusul Harum, namun suara pelayan kantin menghentikan langkahnya.
“Pak, mau ke mana? Makanannya belum dibayar!”
“Astagfirulloh.” Hangga kembali ke kantin untuk membayar makanannya.
“Maaf, saya lupa. Semuanya berapa, Mbak?” Pelayan menyebutkan nominal harga yang harus dibayar dan Hangga langsung membayarnya.
“Terima kasih, Mbak.”
“Iya, sama-sama, Pak.”
__ADS_1
“Oya, Mbak. Maaf kalau boleh tahu kantin ini punya siapa ya?” tanya Hangga yang jadi teringat tentang nama kantin yang menggunakan nama Harum. Apa jangan-jangan kantin ini milik Harum. Pikirnya.
“Kantin ini punya dokter yang kerja di sini juga, Pak. Namanya dokter Yuda.”
“Oh, dokter Yuda.”
“Betul, Pak. Bapak tahu dokter Yuda?”
“Iya, dia yang menangani istri saya di rumah sakit ini,” jawab Hangga. Pantas saja namanya Harum, bukankah putrinya dokter Yuda itu bernama Harum. “Makasih ya, Mbak,” tutupnya.
Kemudian Hangga melanjutkan usahanya mencari Harum, namun jejak mantan istrinya tersebut telah menghilang. Tidak mau berlama-lama meninggalkan Nata, ia memutuskan untuk kembali saja ke kamar perawatan Nata.
*
Sepanjang aktivitas makan siang bersama Yuda dan putrinya, Harum tidak pernah berhenti memikirkan pertemuannya dengan Hangga. Berkali-kali Yuda menegurnya karena mendapati dirinya melamun.
“Rum, kamu kenapa?” tanya Yuda. Dari riak wajahnya, Yuda meyakini ada sesuatu yang terjadi dengan Harum.
“Eh, enggak kenapa-kenapa, Mas,” jawab Harum gugup dengan menguntai sedikit senyum.
Yuda mangut-mangut sembari menyantap makan siangnya. “Semoga bukan karena kamu sedang berpikir untuk mengubah jawaban kamu tadi pagi,” ucapnya sembari menatap tepat di bola mata perempuan yang baru saja menerima lamarannya tadi pagi.
“Oh, enggak, Mas. Kalau soal itu, saya sudah meyakini keputusan saya,” sahut Harum yakin.
“Bagus lah kalau begitu.”
“Mas, saya boleh bertanya?” lontar Harum.
Yuda menarik napas panjang. Mau tanya apa lagi, Rum? Tolong jangan tanya yang susah-susah. Jangan bertanya lagi tentang bagaimana perasaan saya sama kamu.
“Boleh, silakan,” sahut Yuda pasrah.
“Kalau di rumah sakit tempat Mas Yuda bekerja itu, apakah semua pasiennya adalah penderita kanker? Ataukah ada pasien dengan penyakit lain?” Harum jadi berpikir tentang keberadaan Hangga di rumah sakit tersebut.
Yuda tertawa renyah. Ia mengira Harum akan bertanya tentang perasaannya lagi. Sungguh bagi Yuda, pertanyaan tentang bagaimana perasaannya pada Harum lebih sulit dijawab ketimbang soal fisika tersulit yang pernah ditemuinya di bangku sekolah dulu.
“Kamu lucu, Rum. Itu kan namanya rumah sakit spesialis kanker, jadi ya pasiennya adalah orang-orang yang menderita kanker.”
Harum tertegun mendengar jawaban Yuda. Siapa yang sakit kanker? Apakah ibu? Atau Bapak? Rasa cemas menyeruak di hati Harum. Meskipun orangtua Hangga adalah yang telah menyebabkan kematian orangtuanya, namun sedikit pun Harum tidak menyimpan dendam. Ia malah sangat mencemaskan mantan mertuanya tersebut.
Kecemasan itu menuntun Harum untuk mencari tahu informasi tentang kabar mantan mertuanya. Malam hari setelah pekerjaannya usai, Harum berkutat dengan ponselnya. Ia yang telah menutup akan sosial media, kini membuat akun baru. Yang pertama ia lakukan adalah mencari akun sosial media milik Nina—sahabatnya.
Saat kepergiannya dua tahun yang lalu, Harum sengaja memutus komunikasi dengan semua orang, bahkan dengan Nina, sahabatnya. Ia tidak mau komunikasinya dengan Nina akan menimbulkan jejak tentang keberadaannya. Saat itu Harum benar-benar ingin meninggalkan kehidupan lamannya dan tidak ingin mengganggu hubungan Hangga dengan Nata.
Bibir Harum tersenyum begitu melihat foto selfi Nina. Sesungguhnya Harum juga sangat merindukan sahabatnya itu. Di foto tersebut, Nina tengah berada di ruangan kelas. Harum yakin, Nina tengah mengikuti kuliah kelas karyawan. Kemudian jarinya menscroll postingan Nina selanjutnya sampai ia menemukan foto Nina bersama para karyawan kedai tengah mengikuti acara gathering tahunan. Dalam beberapa foto yang diposting seminggu yang lalu, Harum menemukan foto Bu Mirna dan Pak Hendra yang juga mengikuti acara tersebut.
Keberadaan Bu Mirna dan Pak Hendra dalam acara gathering membuat Harum menarik kesimpulan bahwa bukan kedua orangtua Hangga yang tengah dirawat di rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Kalau bukan Bapak dan Ibu, lalu siapa yang sakit?
Batin Harum bertanya cemas.