
Dari atas tempat tidur pasien, Nata--perempuan cantik dengan wajah pucat itu terus memandang nanar suaminya yang tengah melantunkan ayat-ayat suci. Hingga kemudian bulir air mata meluruh membasahi pelipisnya.
“Shodaqolohul azim.” Hangga menyudahi kegiatannya membaca Alquran sebab mendapati Nata yang menangis. Kemudian ia buru-buru meletakkan mushaf Alquran ke dalam laci nakas.
“Kenapa kamu nangis, Yang?” lontar Hangga seraya mengusap bulir air mata sang istri yang terus meluruh deras. Pertanyaan Hangga dijawab dengan isak tangis Nata yang semakin menjadi.
“Udah, Yang, enggak boleh nangis ah.” Hangga membelai lembut rambut Nata.
“Kayaknya hidup aku udah enggak lama lagi, Hangga,” kata Nata di sela isak tangisnya.
“Hush, enggak boleh bilang begitu, Yang. Ini kamu cuma lagi lemas aja. HB kamu lagi turun. Kamu enggak usah khawatir, aku udah minta bantuan Arya untuk menghubungi teman-teman kita yang mau mendonorkan darah buat kamu. Kamu yang kuat ya. Kemarin kamu bisa lewati kondisi yang sama seperti ini. Sekarang pun kamu pasti bisa. Semangat, Nata. Semangat, Sayang."
Beberapa hari yang lalu, kondisi Nata juga mengalami penurunan. Kadar hemoglobin dalam darah rendah dan Nata harus mendapatkan transfusi darah. Beruntung, Hangga tidak mendapatkan kesulitan mencari pendonor darah untuk istrinya, sebab teman kuliah Nata dan Hangga banyak yang berdomisili di Jakarta.
“Aku udah capek, Hangga. Aku udah lelah menghadapi penyakit ini. Huuu, huuu.” Nata menangis pilu sembari *******-***** perut bagian bawahnya. “Ini sakit banget.”
Mata Hangga memerah karena menahan tangis. Ia seakan ikut merasakan kesakitan perempuan cinta pertamanya itu. Jika Nata sedang kesakitan begini, terkadang Hangga ingin mengikhlaskan saja istrinya itu. Daripada menahan sakit yang teramat sangat, lebih baik Nata ...
Hangga sudah pasrah. Kalau memang hal itu yang terbaik, Hangga akan ikhlas melepaskan Nata kepada Sang Pemilik Kehidupan.
“Mana yang sakit, Yang? Aku usap-usap ya,” katanya dengan suara bergetar pilu lalu tangannya bergerak mengusap perut Nata.
“Kalau aku mati, nanti kamu sama siapa?” tanya Nata lirih.
“Kamu enggak boleh bilang begitu, Nat. Dan enggak usah mikirin aku. Kamu hanya perlu semangat untuk sembuh, kalau kamu mau sembuh."
“Aku akan mati. Harum belum ketemu. Kamu akan sendirian, Hangga.”
Kali ini mata Hangga bukan hanya memerah, tetapi ada air yang menggenang di pelupuk matanya. Hangga lekas meraupkan kedua tangan ke wajah untuk menyamarkan kesedihannya.
Hari ini adalah hari keterpurukannya. Ia kehilangan Harum untuk kedua kali di menit pertama perjumpaannya. Pertemuan dengan Harum yang selalu diimpikannya itu sungguh jauh dari ekspektasi. Harum bahkan tidak menyapa dan memberi salam kepadanya. Apakah dua tahun ini kamu melupakan Mas, Rum? Ditambah dengan kondisi Nata yang mengalami penurunan, padahal belum seminggu Nata dirawat di rumah sakit ini.
Hangga benar-benar merasa terpuruk saat ini.
__ADS_1
“Hangga, kalau aku mati sebelum bertemu Harum, tolong titip salam buat Harum agar mau maafin semua kesalahanku.”
“Harum pasti sudah memaafkan kamu.” Hangga yang memutuskan untuk tidak menceritakan pertemuannya dengan Harum kepada Nata, menjawab lirih.
*
Keesokan harinya.
“Kenapa HB istri saya turun lagi, Dok?” tanya Hangga yang nekat menemui dokter Yuda di ruangannya. Beruntung, dokter yang menangani sakitnya Nata itu adalah dokter yang baik hati. Yuda tidak berkeberatan Hangga menemuinya, padahal banyak pasien yang sudah mengantre dari subuh.
“Begini, Pak Hangga. Kondisi ini sebenarnya wajar dialami oleh pasien kanker terutama saat melakukan pengobatan kanker seperti kemoterapi dan radioterapi yang bisa mengganggu produksi sel darah. Hanya saja, Bu Nata ‘kan belum masuk ke tahap pengobatan kanker tersebut. Dari hasil pemeriksaan biopsi, sel kanker di tubuh Bu Nata diketahui bersifat ganas dan sudah menyebar ke organ-organ lain. Makanya HB Bu Nata turun terus padahal beberapa hari yang lalu sudah transfusi. Bahasa lebih mudahnya, darahnya Bu Nata dimakan oleh sel kanker itu sendiri." Dokter Yuda menjeda ucapannya sejenak. "Maaf kalau saya mau memberikan kabar kurang baik kepada Pak Hangga. Dari hasil pemeriksaan, kali ini kanker Bu Nata sudah masuk stadium lanjut.”
“A-apa itu artinya istri saya tidak mungkin sembuh, Dok?” lontar Hangga dengan mata berkaca-kaca menahan kepiluan hati.
“Saya yakin Pak Hangga pasti tahu, kita sama-sama tahu apa risiko dan kemungkinan yang terjadi pada pasien kanker dengan stadium lanjut. Kita hanya bisa berdoa dan menyerahkan semuanya pada Sang Pemilik Kehidupan. Akan tetapi, selama Tuhan masih memberikan kesempatan, kami akan berupaya sebaik mungkin, melakukan segala cara demi keberlangsungan hidup pasien.”
Hangga tertunduk mendengar penuturan dokter baik hati itu. Hidungnya kembang kempis menahan dadanya yang terasa sesak. Meskipun ia sudah memasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta, tetap saja membayangkan kematian Nata adalah hal yang sangat menyakitkan baginya.
“Kemarin sore sudah, Dok. Ada dua orang teman kami yang memberikan donor darah buat istri saya.”
“Oh, begitu.” Tangan Yuda bergerak meraih gagang telepon di atas meja. “Sebentar saya tanyakan pada perawat dulu,” katanya sembari menekan angka di telepon meja.
Setelah berbincang beberapa saat dengan perawat yang merawat Nata, dokter Yuda menutup teleponnya.
“Mari, Pak Hangga. Saya mau lihat kondisi Bu Nata.” Yuda berdiri dari tempat duduknya, Hangga yang duduk di hadapan Yuda turut berdiri. Kemudian keduanya sama-sama keluar ruangan dan beranjak menuju kamar perawatan Nata.
“Bu Nata bagaimana kabarnya pagi ini? Baik dong ya?” sapa Yuda begitu sampai di hadapan Nata.
Nata yang wajahnya pucat dan tubuhnya semakin kurus hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dokter tampan yang merawatnya itu.
“Masih semangat dong, Bu Nata. Ya ‘kan?” lontar Yuda lagi.
“Semangat dong, Dok. Iya kan, Yang?” Hangga yang menjawab pertanyaan dokter Yuda sebab Nata hanya terdiam dengan tatapan mata yang kosong.
__ADS_1
“Mari kita periksa dulu ya.” Yuda melakukan pemeriksaan kepada Nata dengan didampingi seorang perawat di sampingnya.
“HB-nya masih belum mencapai ke angka normal, Dok,” kata perawat kepada Yuda.
“Kemarin sudah transfusi kan?” lontar Yuda.
“Sudah, Dok. Kemarin sudah mendapatkan dua kantong darah dari dua pendonor, tapi HB pasien masih belum sampai ke angka normal," terang perawat perempuan berjilbab itu.
“Belum mencapai target HB yang dibutuhkan ya?” sahut Yuda mangut-mangut.
“Iya, Dok.”
“Pak Hangga, kalau bisa bawa satu orang lagi yang bisa mendonorkan darahnya untuk Bu Nata. Karena transfusi kemarin belum mencapai target HB yang dibutuhkan pasien. Tapi harus segera ya, Pak. Harus pagi ini juga transfusinya.”
“Harus pagi ini, Dok?” sahut Hangga.
“Iya, usahakan harus pagi ini. Kita akan lakukan transfusi lagi untuk Bu Nata.”
Hangga terdiam sembari otaknya berpikir keras bagaimana caranya mendapatkan pendonor darah pagi hari begini. Meskipun Hangga dan Nata memiliki banyak teman di Jakarta, tetapi kalau pagi rasanya sulit karena teman-temannya pasti sudah pergi bekerja dan bergelut dengan aktivitasnya masing-masing.
Saat Hangga masih berpikir, tiba-tiba suara seseorang mengejutkan dirinya dan orang-orang dalam ruangan tersebut.
“Apa golongan darah Kak Nata, Sus?” Tanpa ada seorang pun yang menyadari, Harum yang pagi ini memakai jilbab warna putih telah berdiri tepat di depan ranjang pasien Nata. “Saya mau mendonorkan darah untuk Kak Nata,” sambungnya dengan suara bergetar menahan tangis. Bulir air mata menggenang di pelupuk mata indahnya.
“Ha-rum.” Tangis Nata pecah seketika. Tangannya melambai-lambai memanggil Harum untuk mendekat ke arahnya.
.
.
.
Aku merebes mili nulis part ini 😭😭😭
__ADS_1