
Yuda mengajak putrinya dan Harum meninggalkan Dufan saat cacing-cacing di perutnya mulai berdemo minta makan.
“Udah ya mainnya segini aja. Sekarang waktunya kita makan siang,” ujar Yuda.
“Ih, Papi. Aku kan masih mau main tau.”
“Nanti kapan-kapan kita main ke sini lagi ya, Harum cantik. Agenda papi hari ini padat, dan harus tuntas semuanya hari ini.”
Awalnya putri Yuda itu menolak menyudahi bermain di tempat wisata tersebut. Namun, setelah dibujuk Harum, baru putri Yuda itu mau menuruti keinginan papinya.
“Harum ‘kan anak pintar dan solehah ya,” pungkas Harum saat berhasil membujuk putrinya Yuda.
Yuda memandang takjub Harum yang begitu telaten menghadapi putrinya yang rewel.
Meninggalkan Dufan, Yuda membawa kedua perempuan bernama Harum itu ke sebuah restoran burger. Mewujudkan keinginan putrinya yang tidak sempat dikabulkan hari kemarin.
Harum kira setelah makan di restoran burger, Yuda akan membawanya pulang, namun ternyata tidak. Yuda mengatakan akan mengajaknya pergi ke suatu tempat dan memerlukan bantuannya. Akan tetapi, Yuda tidak mengatakan bantuan seperti apa yang dapat dilakukan Harum serta ke tempat mana Yuda akan mengajaknya pergi.
“Habis ini temani saya ya,” pinta Yuda usai menandaskan seporsi burger sebagai menu makan siangnya.
“Ke mana?”
“Ke ....” Yuda menatap intens wajah Harum untuk pertama kalinya. “Pokoknya ke suatu tempat,” sambungnya.
Harum menanggapi dengan anggukan.
Yuda sudah melajukan mobilnya hendak menuju suatu tempat yang masih dirahasiakannya. Harum yang duduk di sebelahnya sembari memangku putri Yuda, melihat jam digital di ponselnya yang menunjukkan pukul 13.30.
“Mas, saya belum solat Zuhur. Kalau ada masjid atau mushola, tolong menepi sejenak. Saya mau solat Zuhur dulu,” pinta Harum.
“Oke,” sahut Yuda.
Baru selesai menyahut, penglihatan Yuda menemukan masjid kecil di pinggir jalan. Ia lekas menepikan mobilnya di depan bangunan bercat putih bertuliskan Masjid Al Muttaqin.
“Ini masjid ya, Mami?” tanya Harum kecil seraya memandangi bangunan di depannya.
“Iya, Sayang. Kita solat Zuhur dulu di sini.”
“Tapi mukenanya ada enggak?”
“Ada dong. Mami udah bawa mukena untuk kita solat.” Sudah menjadi kebiasaan Harum membawa mukena saat berpergian.
Harum menuntun putrinya Yuda masuk ke dalam masjid. Suasana masjid tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa jamaah saja yang keluar masjid usai melaksanakan salat. Sementara Yuda tetap berada di mobil dan tidak ikut turun.
Sebelum masuk ke dalam masjid, Harum sempat melemparkan pandang ke arah mobil Yuda. Berharap si pemilik mobil itu mau turun dan ikut melaksanakan salat. Harum membuang napas berat setelah menunggu beberapa saat dan tidak juga mendapati dokter muda itu turun dari mobil.
Begitulah Yuda. Selama mengenal sosok Yuda--pria dengan spek tinggi dan berkualitas, Harum belum pernah sekalipun melihat Yuda menunaikan salat. Harum sangat menyayangkan hal tersebut. Namun, ia juga tidak memiliki keberanian untuk menanyakan, menasihati, apalagi menceramahi.
“Yuda itu persis ayahnya. Suami ibu juga dulu begitu. Orangnya sangat baik ke semua orang. Gemar berbagi dan menolong orang. Dia juga suami yang setia, tanggung jawab dan sayang keluarga. Tapi, sangat kurang kalau soal ibadah. Ibu selalu berdoa agar suami ibu dan juga Yuda diberikan hidayah. Alhamdulillah saat mulai sakit-sakitan, almarhum suami ibu sudah mau solat,” kenang Bu Yusma di suatu hari Jumat. Saat itu Harum mengingatkan Bu Yusma agar membangunkan Yuda yang masih tertidur kala azan Jumat sudah berkumandang. (Btw, ada enggak suami model begitu? Banyak dong ya)
Selepas salat Zuhur bersama putrinya Yuda, Harum kembali ke mobil yang di dalamnya ada Yuda yang tengah memejamkan mata. Mungkin Yuda tertidur. pikir Harum.
Tok ... tok. Harum mengetuk kaca mobil dua kali dan Yuda langsung terbangun karenanya.
“Udah solatnya?” Pertanyaan basa basi itu dilontarkan Yuda begitu Harum duduk di tempatnya.
“Sudah, Mas. Alhamdulillah."
“Oke. Kita jalan lagi sekarang.” Yuda kembali melajukan mobilnya.
Kening Harum mengerut saat Yuda membawanya ke sebuah toko perhiasan. Mau apa Mas Yuda membawa aku ke sini? Batin Harum bertanya-tanya.
“Menurut kamu, yang bagus yang mana, Rum?” lontar Yuda sembari matanya menelusuri deretan perhiasan di etalase.
“Saya kurang mengerti tentang perhiasan, Mas,” jawab Harum jujur. Ia memang jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah membeli perhiasan. Terakhir ia ke toko perhiasan adalah saat diajak sang mantan mertua, membeli mas kawin untuk pernikahannya dengan Hangga.
__ADS_1
“Yang kamu suka aja, Rum. Terserah kamu aja pilih yang mana.”
“Maaf, Mas. Kalau boleh tahu, perhiasannya untuk siapa, Mas? Masalahnya saya tidak punya selera yang baik soal perhiasan, karena memang saya enggak paham.”
Yuda menarik napas panjang. “Pokoknya kamu pilih aja yang mana. Mana pun yang kamu suka, pasti akan disukai juga sama orang yang mau saya kasih perhiasan ini. Oke, paham?”
“Iya, Mas.” Harum mengangguk ragu.
“Perhiasannya apa, Mas? Cincin, kalung apa gelang?”
“Semuanya. Ukuran cincinnya sama kayak jari kamu.”
“Baik, Mas.”
Harum mulai mencari perhiasan yang menurutnya bagus semua. Sembari mencari, hatinya menerka-nerka, untuk siapakah perhiasan tersebut?
Mungkin untuk ibunya Mas Yuda. Atau jangan-jangan untuk seseorang yang spesial di hati Mas Yuda. Jika benar begitu, artinya doa dan harapan Harum kecil yang menginginkan papinya menikah, akan segera terwujud. Kalau papinya Harum menikah, berarti aku harus siap untuk melanjutkan hidup yang baru. Aku harus berhenti bekerja sebagai pengasuh Harum. Begitu yang ada di benak perempuan berjilbab merah muda tersebut.
“Kalau yang itu gimana, Mas?” Harum menunjuk sebuah cincin dengan model sederhana. Sebuah cincin emas putih dengan sebuah batu mengkilap kecil warna putih sebagai hiasannya. Harum tidak paham tentang batu apakah itu. Apakah batu permata, intan atau berlian? Atau malah jangan-jangan itu batu bacan atau batu kalimaya? Ah, pokoknya Harum enggak paham. Yang ia tahu hanya batu kerikil dan batu baterai.
“Kamu sukanya itu?” Harum tergugu mendengar pertanyaan Yuda. Kalau dibilang suka, enggak juga. Harum hanya ingin cepat selesai dan tidak berlama-lama memilih perhiasan yang membuat kepalanya pening.
“Mbak saya pilih yang model ini, satu set sama gelang dan kalungnya kalau ada,” ujar Yuda kepada penjaga toko.
“Baik, Pak.” Penjaga toko perhiasan itu dengan cekatan mengambilkan perhiasan yang dimaksud Yuda.
Setelah proses transaksi pembelian selesai, Yuda berniat untuk pulang. Sebab ia tidak ingin membuat Harum kelelahan.
“Papi, habis ini kita ke mandi bola ya,” pinta Harum kecil yang tidak ada capeknya.
“Memangnya Harum enggak cape?”
“Aku enggak cape dong.”
Harum tertawa melihat reaksi Yuda hingga tampak deretan giginya yang putih dan rapi. Yuda sempat melirik momen Harum tertawa. Ia baru menyadari bahwa Harum terlihat sangat cantik jika sedang tertawa lepas seperti itu.
Keluar dari toko perhiasan, mereka pergi ke mal menuju arena permainan mandi bola. Harum sering mengajak putri Yuda itu bermain mandi bola, tetapi bagi Yuda ini adalah pertama kalinya.
Dari tempatnya duduk, Yuda tersenyum memandangi interaksi antara Harum dan putrinya. Kemudian pandangannya mengedari ke segala penjuru. Yuda baru sadar, bahwa sebagian besar anak-anak yang bermain di arena permainan tersebut didampingi oleh papa dan mamanya. Hal tersebut membuat Yuda jadi semakin yakin, bahwa sudah waktunya menghadirkan ibu sambung untuk putrinya.
“Nih, minum dulu.” Yuda menyodorkan satu cup minuman kepada Harum.
“Makasih.” Harum menerima cup minuman dari tangan Yuda dan tidak sengaja tangan mereka bersentuhan. Refleks Harum menarik tangannya yang membuat cup minuman tersebut hampir jatuh dan tumpah andai tangan Yuda yang satu lagi tidak menahannya.
“Ma-maaf, Mas,” ucap Harum keki.
Yuda tidak menyahut, ia meletakkan minuman untuk Harum di bangku panjang tempat Harum duduk. Kemudian pria yang berprofesi sebagai dokter itu mengambil posisi duduk di samping Harum.
Kedua insan terpaut usia 14 tahun itu menyesap minuman dalam diam sambil memandangi Harum kecil yang bermain ceria bersama seorang anak lain yang baru dikenalnya.
“Makasih ya, Rum,” ucap Yuda memecah kebekuan di antara mereka.
Harum menoleh pada Yuda yang duduk di sampingnya. Bertepatan dengan Yuda yang juga menoleh ke arahnya.
“Untuk hadiah yang kamu berikan kepada Harum dengan mengatasnamakan saya,” lanjut Yuda.
“Sama-sama, Mas.”
“Nanti uangnya saya ganti.”
“Oh, enggak usah, Mas. Itu bonekanya bukan dapat beli kok."
“Bonekanya punya kamu?”
“Iya. Pemberian seseorang.” Suara Harum terdengar lirih.
__ADS_1
“Oh, gitu.” Yuda memandangi Harum dengan pandangan penuh selidik. Dari intonasi bicaranya, kata ‘seseorang’ itu terdengar memiliki makna yang dalam.
Mendapatkan tatapan dari Yuda, Harum memalingkan wajahnya ke depan, kembali mengawasi putrinya Yuda.
Menjelang petang, mobil yang dikendarai Yuda telah sampai rumah. Selama perjalanan pulang, putrinya Yuda yang kelelahan tertidur di pangkuan Harum.
“Biar saya saja yang menggendong Harum,” kata Yuda begitu mesin mobil dimatikan dan Harum hendak membuka pintu mobilnya.
Yuda turun dari mobil lebih dulu, lalu berjalan memutar menghampiri Harum dan membukakan pintu mobil untuknya. Yuda membungkukkan tubuh meraih putrinya yang tertidur pulas di pangkuan Harum. Saat itulah Harum merasa, Yuda melambatkan gerakannya dan mencuri-curi pandang padanya. Membuat jantung Harum dag dig dug der jadinya.
Ish, apalah kamu ini Harum. Perempuan berwajah ayu itu membatin sendiri.
“Makasih ya, Rum. Sudah mau menemani kami jalan-jalan,” ucap Yuda setelah berhasil mengangkat tubuh putrinya.
“Sama-sama, Mas,” sahut Harum sembari menutup pintu mobil.
“Oya, Rum. Nanti malam saya ada perlu sama kamu. Saya mau bicara sama kamu.”
“Baik, Mas,” sahut Harum cepat tanpa berpikir panjang. Pasti yang akan dibicarakan Yuda adalah tentang sekolah Harum atau tentang perkembangan kantin. Tebak hatinya.
Selanjutnya, keduanya masuk ke rumah masing-masing.
Pukul delapan malam, Harum sudah masuk ke kamarnya. Sebab Putri Yuda yang kelelahan, tidur lebih cepat malam ini.
Sembari rebahan, pikiran Harum melayang ke kegiatannya siang tadi saat Yuda memintanya untuk memilih perhiasan. Ia menerka Yuda mungkin akan melamar seseorang. Atau paling tidak, papinya Harum itu pasti sudah memiliki kekasih, meskipun Yuda belum pernah membawanya ke rumah dan mengenalkannya pada Bu Yusma.
Harum beringsut bangun dari posisi rebahan. Tangannya bergerak mengambil sebuah kertas dan bolpoin dari laci nakas. Bersandar pada headboard, ia mulai menulis di atas kertas.
Buka warung nasi
Buka counter pulsa
Buka gerai donat
Buka warung jajanan anak
Melamar pekerjaan
“Apa lagi ya?” Harum mengetuk-ngetuk bolpoin ke bibirnya. Ia tengah merancang rencana. Apa yang akan dilakukannya setelah berhenti menjadi pengasuh putrinya Yuda.
Saat Harum masih berpikir tentang rencananya, terdengar bunyi ketukan pintu dari pintu utama. Harum yang mengira itu adalah Bi Inah—ARTnya Yuda, tidak langsung bereaksi. Setelah pintu itu diketuk beberapa kali, ia baru tersadar bahwa Bi Inah tidak mungkin masuk dengan mengetuk pintu, sebab Bi Inah justru yang memegang kunci rumah.
Mengambil jilbab yang tergantung di kapstok, Harum gegas beranjak keluar kamar untuk membuka pintu utama. Saat pintu dibuka, Harum tergugu sejenak begitu mengetahui Yuda lah yang mengetuk pintu.
Astaghfirullah. Aku lupa kalau Mas Yuda tadi sore bilang mau ada perlu sama aku.
“Saya masuk ya, Rum,” ujar Yuda.
“Iya, Mas. Silakan. Maaf saya lupa, kalau Mas Yuda ada perlu sama saya,” sahut Harum jujur. Kalau saja ia ingat pesan Yuda tadi sore, mungkin ia yang akan menemui Yuda di kediamannya. Bukannya malah Yuda yang mendatanginya begini.
“Harusnya saya yang nyamperin Mas Yuda ke rumah. Maafkan saya, Mas,” sesal Harum. Keduanya sudah duduk saling berhadapan dengan meja sofa sebagai penyekatnya.
“Oh, enggak. Justru saya memang ada perlu sama kamu dan hanya ingin bicara berdua saja sama kamu. Makanya saya yang datang ke sini.”
“Oh, gitu.” Harum mangut-mangut. Pantas saja Bi Inah belum pulang dan masih berada di kediaman Yuda. Pikirnya.
“Jadi begini. Langsung saja ya.” Yuda meletakkan sebuah kotak perhiasan ke atas meja lalu mendorong pelan ke depan sambil berkata, “ini untuk kamu, Rum. Saya mau menikahi kamu. Apakah kamu bersedia menjadi istri sekaligus ibu sambung untuk anak saya Harum?
__ADS_1