
Hangga masih belum dapat menemukan Harum. Ia juga sudah dua kali mendatangi kantor polisi untuk menanyakan perkembangan pencarian laporan orang hilang atas nama Harum, namun belum ditemukan juga titik terang keberadaan mantan istrinya tersebut. Korps berbaju cokelat itu mungkin punya kasus lebih besar yang lebih diutamakan dibanding kasus laporan orang hilang yang dibuat Hangga.
Hangga bukanlah CEO seperti cerita di novel yang punya uang banyak dan kekuasaan tanpa batas. Ia tidak bisa menggunakan jasa detektif untuk mencari keberadaan Harum. Yang bisa dilakukan Hangga hanyalah berdoa untuk mengiringi usaha pencariannya.
Sudah tiga hari pula, Hangga belum bertemu Nata. Nata berpesan agar Hangga tidak sering-sering datang menemuinya. Hangga patuh menuruti keinginan istri satu-satunya itu. Yang penting baginya, Nata baik-baik saja dan tidak pernah berpikir untuk melakukan hal bodoh lagi. Sudah cukup kepalanya pening memikirkan keberadaan Harum, jangan ditambah dengan beban masalah lagi.
Hangga meraih ponsel, lalu jarinya lincah mengetik sebuah pesan. Ia berniat menemui Nata di kontrakan, jika wanita cantik itu mengizinkan.
[Yang, gimana kabar kamu?]
[Kapan pulang?]
[Aku ke sana ya?]
[Aku kangen]
[Emot lope sekebon]
Deretan pesan tersebut dikirim Hangga ke nomor Nata. Setelahnya, pria ganteng yang baru pulang salat Magrib berjamaah di masjid itu melangkah menuju lemari untuk mengambil kaus oblong dan celana boxer klub bola andalannya.
Hangga duduk di tepi ranjang sembari tangannya bergerak membuka satu per satu kancing baju koko. Ia meratapi hari-harinya yang kini terasa menyedihkan tanpa istri. Kedua istrinya begitu kompak pergi meninggalkannya.
Saat jemarinya sampai di kancing terakhir, Hangga yang mendengar bunyi ponsel berdering, gegas meraih gawai miliknya yang tergeletak di atas kasur. Begitulah Hangga kini, selalu gesit kala mendengar dering ponsel. Berharap panggilan tersebut adalah dari keluarga, saudara, teman, sahabat atau polisi yang memberikan kabar baik tentang Harum. Apalagi kalau sampai panggilan telepon itu datangnya dari Harum, Hangga pasti akan bersujud syukur, seratus kali pun ia mampu.
Akan tetapi, Hangga mengernyit bingung kala melihat nama si penelepon. “Melly? Tumben amat,” pikirnya.
Hangga mengusap layar menjawab panggilan telepon sahabat Nata tersebut.
“Iya, Mel.”
“Hangga, lu cepat ke sini. Nata masuk rumah sakit.” Suara Melly terdengar cemas.
Perasaan cemas yang juga kini menular pada Hangga.
*
Saat datang ke rumah sakit, Hangga bertemu dengan Melly dan dua teman kerja Nata yang tinggal satu kontrakan.
“Gimana keadaan Nata?” tanya Hangga cemas.
“Nata masih di UGD,” jawab Melly.
“Nata udah tiga hari ini ngeluh sakit perut. Saya sama teman saya udah nawarin untuk bawa Nata ke rumah sakit, tapi Nata enggak mau,” timpal teman Nata yang berkulit hitam manis dengan rambut ikal sebahu.
__ADS_1
“Pas mau magrib tadi, Nata menjerit-jerit, katanya perutnya sakit banget. Dia enggak tahan, dan akhirnya mau dibawa ke rumah sakit,” kata teman Nata satu lagi yang kulitnya sedikit lebih terang dan berjilbab.
“Makasih ya, udah bawa Nata ke sini,” ucap Hangga yang tidak tahu lagi harus berkata apa.
Setelah dokter melakukan sejumlah prosedur pada pasien di UGD, Nata dipindahkan ke ruang inap.
“Terima kasih sudah menemani Nata. Sebaiknya kalian pulang saja. Besok kalian semua kan harus masuk kerja,” lontar Hangga kepada tiga teman Nata yang juga ikut menemani Nata di ruang perawatan.
“Iya, kalian pulang aja. Makasih ya udah mau repot-repot bawa aku ke sini,” timpal Nata.
“Nata semoga lekas sehat ya,” ucap rekan kerja Nata yang tidak berjilbab.
“Syafakillah, Nata,” ucap teman Nata yang mengenakan jilbab.
“Sakit apa pun, semoga lekas sembuh ya, Nat,” ucap Melly.
Ketiga kawan akrab Nata itu menghambur memeluk Nata yang tengah dalam posisi duduk bersandar di ranjang rumah sakit.
“Makasih semuanya. Aku sayang kalian semua,” ucap Nata setelah melepaskan pelukan.
“Kami enggak apa-apa pulang nih?” tanya Melly.
“Iya, enggak apa-apa. Kan ada Hangga yang nemenin," sahut Nata.
“Bye. Makasih semuanya.” Setelah berpelukan dan cipika-cipiki dengan Nata, ketiga teman Nata itu berpamitan pulang.
“Hangga, perut aku udah enggak sakit. Aku mau pulang aja ya,” ujar Nata sepeninggal teman-temannya.
“Jangan, Nat. Kamu udah sering sakit begini. Kali ini kamu harus nurut kata aku. Kamu dirawat dulu di sini. Biar kita tahu, kamu sakit apa,” putus Hangga.
Kali ini Nata menurut dengan keputusan suaminya tersebut.
*
Hangga terbangun saat azan subuh berkumandang merdu. Ia yang tidur dalam posisi duduk dengan kepala merebah di atas kasur hospital bad, menelengkan kepala ke kanan dan kiri untuk meregangkan otot leher yang terasa kaku.
Sebelum bangun untuk mengambil wudu, ia duduk sebentar memandangi wajah cantik istrinya. Saat itulah, ia baru menyadari wajah Nata tampak sedikit lebih tirus.
Ada perasaan bersalah merasuki jiwa Hangga. Sebegitu dalamkah ia menoreh luka pada perempuan cantik yang mirip sekali dengan artis Korea idolanya, yang hanya dengan pandangan pertama mampu menjatuhkan cinta Hangga kepadanya sangat dalam.
“Nata, maafkan aku,” lirih Hangga. Kemudian kepalanya bergerak mendekat ke wajah Nata hendak memberikan kecupan kepada perempuan cinta pertamanya itu. Namun, gerakannya berhenti karena tiba-tiba Nata membuka mata dan mendorong kepalanya agar menjauh.
“Ish, masa aku enggak boleh ci um kamu,” protes Hangga. Ia memegang tangan Nata agar tidak bisa menepis dirinya, lalu bibirnya mendaratkan kecupan di kening, pipi dan bibir.
__ADS_1
Nata tersenyum tersipu. Sudah lama sekali, ia tidak di-ci-um Hangga.
“Aku tinggal ke masjid sebentar boleh?” tanya Hangga yang dijawab anggukan oleh Nata.
“Aku solat dulu ya,” ujar Hangga seraya mengelus pipi Nata.
Nata mengangguk lagi. Ia terus menatap langkah Hangga hingga keluar ruangan.
Pukul 09.00 pagi Nata dibawa oleh perawat menemui dokter. Duduk di atas kursi roda, Nata tampak meringis menahan sakit. Perutnya terasa nyeri lagi sejak subuh tadi. Sementara Hangga yang ikut menemani Nata di belakangnya beberapa kali mengusap pundak Nata memberikan ketenangan.
Melihat rekam medis Nata yang sering mengeluh kesakitan di perut bagian bawah, dokter melakukan serangkaian pemeriksaan. Mulai dari USG transvaginal, tes darah dan tes biopsi.
Tiga hari setelahnya, perawat mengabarkan bahwa Hangga diminta datang menemui dokter.
“Udah, Hangga. Aku udah kenyang,” tolak Nata saat Hangga menyuapkan suapan kelima.
“Satu lagi, Yang.”
Nata menggeleng cepat. “Aku udah kenyang.”
“Tadi perawat bilang kalau aku disuruh menemui dokter loh, siapa tahu dokter mengizinkan kamu pulang. Makanya kamu makan yang banyak biar enggak lemas dan dokter benar-benar mengizinkan kamu pulang. Mau ya, satu suap lagi,” bujuk Hangga.
Akhirnya Nata mengangguk. Ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk menerima satu suapan bubur dari sang suami tercintanya.
"Nah, gitu dong," kata Hangga sembari mengelap mulut Nata dengan tisu setelah berhasil menelan satu suapan terakhir bubur ayam Bandung kesukaan Nata.
Selesai menyuapi Nata, Hangga pergi menemui dokter dengan hati harap-harap cemas.
“Jadi, bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Hangga saat sudah duduk di hadapan dokter.
“Begini, Pak. Melihat rekam medis pasien, kami menduga sesuatu. Akan tetapi, tentu dugaan itu tidak dapat kami simpulkan tanpa pemeriksaan lebih lanjut." Dokter menjeda sejenak ucapannya. "Kami telah melakukan pemeriksaan USG dan ditemukan ada tumor dalam rahim pasien.”
“Tu-tumor?” Hangga tergemap mendengar kabar dari sang dokter.
“Betul, Pak.” Dokter tersebut menarik napas sejenak untuk melanjutkan paparannya. “Saat kami telah mendeteksi adanya tumor, yang pertama kali kami lakukan adalah mencari tahu apakah tumor itu jinak atau ganas karena akan mempengaruhi metode pengobatannya nanti. Untuk mengetahui tumor itu jinak atau ganas kami melakukan biopsi dengan cara mengambil sampel jaringan dalam rahim. Dan dari hasil biopsi, sebagian besar sel yang ditemukan pada jaringan biopsi adalah sel abnormal. Artinya tumor pada rahim pasien bersifat ganas, atau disebut kanker. Istri Anda terdeteksi menderita kanker rahim."
Bagai disambar petir berita yang disampaikan dokter tersebut. Hangga menggelengkan kepalanya tidak percaya.
.
.
.
__ADS_1
Udah dibikin dua bab, ternyata belum selesai juga. Aku potong sampai sini dulu, karena kepanjangan. Tadinya kalau bab ini selesai, aku mau loncat ke dua tahun kemudian, menceritakan kisah Harum lagi.