Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 68


__ADS_3

Setelah drama tangisan pilu Nata yang “dibuang” keluarganya, Hangga mengajak Nata jalan-jalan atas usulan Harum.


“Ini kan hari Minggu, baiknya Mas Hangga ajak Kak Nata jalan-jalan deh. Nonton atau makan atau apalah untuk menghibur Kak Nata,” usul Harum.


“Terus, kamu gimana, Rum?” tanya Hangga.


“Enggak usah mengkhawatirkan saya, Mas. Saya udah biasa sendiri. Lagi pula kan ada Bi Jenah,” jawab Harum tersenyum kecil.


Selanjutnya, Hangga benar-benar membawa Nata jalan-jalan keluar untuk sekedar refreshing. Sekaligus sebagai penebus rasa bersalahnya pada Nata karena telah membiarkan wanita cantik itu pulang sendiri.


Hangga tidak bisa membayangkan bagaimana Nata yang telah lama menjalin hubungan cinta bersamanya itu sendirian menghadapi keluarga besarnya. Nata pasti syok disidang oleh keluarganya, sendirian tanpa didampingi Hangga.


Padahal Hangga lah yang menjadi alasan atas keputusan pilihan hidup Nata. Seharusnya dialah yang maju dan menyampaikan berita tentang pernikahan mereka pada keluarga Nata.


Seharian Hangga mengajak Nata ke tempat-tempat yang menjadi favorit istri keduanya itu. Mulai dari bioskop, makan di restoran favorit, shopping hingga ke salon. Bukankah hal-hal tersebut begitu menyenangkan bagi perempuan, meskipun begitu membosankan bagi kaum laki-laki.


Harum mengira, Hangga dan Nata akan pulang sore harinya. Ternyata hingga langit telah kelam, Hangga dan Nata belum juga kembali ke rumah. Bi Jenah bahkan telah tertidur. ART di rumah Hangga itu memang biasa tidur selepas isya.


Harum memilih untuk duduk di sofa depan televisi. Tangannya meraih remot, lalu menyalakan televisi. Ia memutar saluran tv mencari program komedi favoritnya.


Sudah lama sekali ia tidak menonton program komedi tersebut, bahkan hampir tidak pernah lagi menonton televisi sejak dirinya resmi dimadu.


Belum lima menit ia duduk menonton televisi, telinganya mendengar deru suara mobil yang sudah sangat dihafalnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah mobil Hangga.


Jika saja Bi Jenah belum tidur, Harum pasti akan menyuruhnya membuka pintu untuk suami dan madunya. Harum bukan tidak mau bertatap muka dengan kedua orang itu, tetapi ia khawatir Nata masih marah padanya.


Kemarahan Nata yang ia saksikan subuh hari itu, menjelaskan bahwa Nata sangat marah atas perbuatan Hangga yang tentu saja menyeret Harum juga.


Sejak kejadian subuh seminggu yang lalu itu hingga hari ini, Nata dan Harum yang sama-sama merasa terluka, belum pernah bertegur sapa. Meskipun tinggal satu rumah, kedua istri Hangga itu berusaha saling menghindar.


Bi Jenah telah pergi tidur. Harum tidak memiliki hati jika harus membangunkan ART-nya tersebut hanya untuk membukakan pintu. Harum bangkit dari duduknya, lalu mengayun langkah menuju pintu utama. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan kekuatan sebelum membuka pintu. Tepat setelah napasnya terhembus, terdengar pintu rumah diketuk.


Bibir Harum melengkungkan senyum ramah saat pintu telah terbuka. Pandangannya bertemu dengan Nata yang sudah berdiri di depan pintu. Sementara Hangga jauh di belakangnya, baru turun dari mobil.

__ADS_1


“Kak Nata sudah pulang?” sapa Harum basa-basi. Setelah sekian lama melakukan aksi mogok sapa kepada madunya itu.


“Hem.” Sekilas Harum bisa melihat Nata tersenyum singkat dan cenderung kaku.


“Kenapa bukan Jenah yang buka pintu?” Nata yang malam ini memakai t shirt hitam yang semakin memancarkan kulit putih mulusnya dipadukan dengan celana joger warna coklat bertanya pada Harum.


Harum sejenak memperhatikan penampilan Nata. Madunya itu memang sangat cantik luar biasa. Dengan penampilan “biasa” dan rambut dikucir asal-asalan saja tetap terlihat memesona. Harum jadi teringat dress yang kemarin dibelinya sepulang dari Pantai Anyer bersama Hangga. Nata pasti semakin cantik memesona mengenakan dress itu.


“Jenah sudah tidur, Kak,” sahut Harum.


Nata mangut-mangut tanpa suara. Sedetik kemudian Hangga muncul di depan pintu. Nata melenggang masuk diikuti Hangga di belakangnya. Harum sempat melihat Hangga tersenyum padanya sebelum melangkah mengikuti Nata.


“Bi, Bi Jenah!” seru Hangga saat hendak menaiki tangga.


“Bi Jenah sudah tidur, Mas,” sahut Harum yang sudah berada di belakang Hangga.


“Kalau Mas butuh sesuatu, biar saya saja yang siapkan,” katanya lagi.


Nata yang sudah menginjakkan kaki di anak tangga kedua sontak menoleh ke belakang, keningnya mengerut karena menyadari ada yang berbeda dengan kalimat yang diucapkan Hangga.


Mas? Hangga menyebut dirinya “Mas”? Biasanya Hangga ber-saya saya ketika berbicara dengan Harum. Gumam hati Nata.


“Kamu mau susu coklat juga, Yang?” tawar Hangga.


“Boleh. Kalau enggak merepotkan Harum,” sahut Nata.


“Enggak merepotkan kok, Kak. Saya buatkan sekarang.”


“Ya udah, buat dua ya, Rum. Nanti taruh di situ aja.” Telunjuk Hangga menunjuk meja di ruang TV.


“Iya, Mas.” Harum lekas pergi ke dapur tanpa menunggu Nata atau Hangga berbicara lagi.


Harum membuat tiga gelas susu coklat hangat. Tiba-tiba saja ia pun menginginkannya. Semoga saja segelas susu hangat dapat membuat tidurnya lebih nyenyak.

__ADS_1


Dua gelas susu coklat hangat yang disajikan di atas baki, ia letakkan di atas meja yang ditunjuk Hangga. Sementara yang segelas lagi, ia bawa ke kamar untuk dinikmati di dalam sana.


Lima belas menit telah berlalu, Harum belum mendengar suara Hangga atau pun Nata turun dari kamarnya. Sembari berpikir, Harum meneguk susu coklat yang tinggal seperempat gelas itu hingga tetes terakhir.


Setelahnya, ia keluar kamar dan melihat dua gelas susu di atas meja masih utuh belum tersentuh. Harum berpikir untuk mengantarkan susu tersebut ke kamar Hangga dan Nata. Setelah meletakkan gelas kosong miliknya di atas meja, ia pergi ke lantai atas membawa baki berisi dua gelas susu yang sudah hampir dingin.


Harum menghentikan langkahnya saat sampai di depan pintu kamar Hangga yang sedikit terbuka. Dari celah pintu yang sedikit itu ia bisa melihat Hangga yang tengah memagut mesra bibir Nata sembari bersahutan kata cinta.


I love you.


I love you too.


Aku mencintaimu, Nata. Sangat mencintaimu


Dada Harum bergemuruh seketika. Ia memejamkan mata sekejap, lalu segera berbalik badan. Meskipun ia juga pernah diperlakukan seperti itu oleh Hangga, tetap saja hatinya berdenyut nyeri menyaksikan keintiman Hangga dan Nata.


Mungkin seperti itulah juga yang dirasakan Nata kala memergoki Hangga keluar kamarnya di pagi buta.


Harum tidak yakin, segelas susu hangat yang tadi dinikmatinya akan membuat tidurnya lebih nyenyak. Sudah dipastikan ia akan merajut dinginnya malam sendirian. Sedingin dua gelas susu yang kembali diletakkannya di atas meja.


*


Beruntung kebekuan hati Harum melumer esok harinya. Harum yang telah bersiap memesan ojek online untuk pergi ke kedai, dikejutkan dengan kehadiran Hangga yang kembali ke rumah. Padahal baru beberapa menit yang lalu Hangga berangkat bekerja bersama Nata.


“Kok Mas Hangga pulang lagi?” lontar Harum begitu Hangga turun dari mobil.


“Kamu udah siap, Rum?” sahut Hangga.


“Siap apanya, Mas?”


“Kamu ikut ke kantor ya dan bawa buku nikah serta dokumen-dokumen yang diperlukan. Mas mau mendaftarkan pernikahan kita ke kantor agar nantinya kamu berhak mendapatkan segala fasilitas atau tunjangan-tunjangan yang diberikan kantor seperti tunjangan kesehatan dan lainnya.”


Hangga sungguh-sungguh menepati janjinya untuk meninggikan Harum dengan caranya.

__ADS_1


__ADS_2