Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 88


__ADS_3

Dua hari saja Nata dirawat di rumah sakit. Di hari ketiga, Hangga memutuskan untuk membawa Nata pulang sebab istri satu-satunya itu terus-menerus merengek minta pulang. Lagi pula, Hangga juga harus bekerja. Setelah lima hari cuti, ia bolos bekerja selama tiga hari karena menemani Nata di rumah sakit.


“Yang, ayo kita makan,” ajak Hangga selepas salat Isya.


Nata yang wajahnya masih tampak pucat, menggeleng lemah.


“Kamu harus makan, Yang.” Hangga yang duduk di tepi ranjang di hadapan Nata mengusap pelan puncak kepala istri cantiknya itu.


Nata menatap Hangga tanpa ekspresi. Sejak Hangga menceraikan Harum dua hari yang lalu di rumah sakit, Nata belum banyak bicara. Saat Hangga mengajaknya mengobrol pun, perempuan cantik mirip Song Hye Kyo itu hanya terdiam membisu. Sekalinya Nata bicara, hanya rengekan minta pulang yang keluar dari bibirnya.


“Katanya kamu besok ingin masuk kerja. Kalau besok mau masuk kerja, harus makan dong,” bujuk Hangga. Selama di rumah sakit, Nata juga tidak mau makan kecuali sesuap dua suap saja.


Nata akhirnya mengangguk. Sebagai karyawan baru, ia tidak mau terlalu lama bolos bekerja.


Keduanya turun ke lantai satu menuju dapur. Hangga duduk di tempat biasanya ia duduk, begitu pun dengan Nata yang duduk di sampingnya. Kemudian Hangga menyendokkan nasi, sayur dan lauk ke atas piring untuknya dan Nata.


“Makan yang banyak, Yang,” ucap Hangga setelah mengambilkan porsi makan untuk Nata.


Nata tidak menyahut, tetapi tangannya bergerak memegang sendok. Keduanya menyantap makan malam dalam diam, hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring sebagai backsound-nya.


Sepanjang aktivitas makan, berkali-kali Hangga melirik kursi di hadapannya, tempat yang biasa diduduki Harum. Ada rasa kehilangan yang teramat menyesak di dada. Itulah sebabnya makam malam kali ini, ia lebih banyak minum. Kerongkongannya terasa kering sebab mengingat getirnya luka kehilangan Harum.


Hangga belum bertemu Harum lagi sejak menjatuhkan talak dua hari yang lalu. Ia hanya mendengar kabar dari Bi Jenah bahwa istri pertama yang kini telah menjadi mantan istri itu memutuskan pergi dari rumah usai ditalak olehnya.


Oh, Harum.


Aku mengenal sakit karena kehilanganmu. Dan aku belajar ikhlas dari kehilanganmu.


*


Beberapa minggu kemudian.


Harum masih bertahan bekerja di kedai atas permintaan Bu Mirna. Ia kini tinggal di mes bersama para karyawan kedai lainnya. Mantan mertuanya itu telah mengetahui kabar perceraian antara putranya dan Harum. Meski kecewa, Bu Mirna tidak dapat berbuat banyak.


Tujuannya menikahkan Harum dengan Hangga adalah agar putra semata wayangnya itu dapat membahagiakan Harum sebagai penebus dosanya. Akan tetapi, jika Harum merasa tidak bahagia dengan pernikahannya, Bu Mirna hanya bisa pasrah saja atas keputusan menantunya tersebut.


“Terus terang ibu kecewa sama Hangga. Kalau saja Hangga sejak awal mau menerima kamu dan tidak nekat menikahi Nata,” keluh Bu Mirna.


“Tidak perlu berandai-andai, Bu. Semua yang terjadi sudah suratan takdir. Mungkin takdir jodoh saya dan Mas Hangga memang hanya sampai di sini.”


“Kalau kamu bahagia dengan perceraian ini, ibu nurut saja. Tapi, ibu mohon agar kamu tetap di sini. Meski kamu tidak lagi menjadi istri Hangga, bagi ibu kamu tetap anak ibu.”

__ADS_1


“Terima kasih banyak karena ibu selalu baik kepada saya. Terima kasih atas rasa sayang yang ibu berikan kepada saya. Tapi, saya mau resign saja, Bu.”


“Jangan, Rum. Ibu mohon agar kamu tetap di sini untuk mengurusi kedai.”


“Maaf, Bu. Saya enggak bisa terus di sini. Saya ingin memulai hidup baru dengan mencari pekerjaan yang baru.” Meskipun setelah mendengar kabar perceraiannya dan Hangga, Bu Mirna memberikan gaji tiga kali lebih banyak dari yang biasa didapatkan Harum setiap bulan, Harum tetap mantap ingin berhenti bekerja saja dari kedai milik mantan mertuanya tersebut.


“Baik, begini saja, Rum. Kalau kamu sudah mendapatkan pekerjaan baru, kamu boleh resign. Tapi, selama kamu belum mendapatkan pekerjaan yang baru, ibu minta agar kamu tetap di sini.” Begitu percakapan antara Harum dan mantan mertuanya.


Harum sudah berusaha melamar pekerjaan yang baru, namun sampai saat ini belum ada kabar satu pun dari sekian banyak perusahaan yang dilamarnya.


“Kenapa Mas Hangga masih saja ke sini? Saya kan udah bilang Mas Hangga enggak usah sering-sering datang ke sini,” lontar Harum ketus saat melihat Hangga melangkah menuju meja kerjanya. “Tolonglah, Mas. Jangan buat situasi kembali sulit,” sambungnya.


Beberapa kali, Hangga masih menemui Harum di kedai. Tentu saja tanpa sepengetahuan Nata. Ada saja alasan yang dilontarkannya, disuruh ibu lah, ambil laporan kedai lah, temannya nitip sop duren lah. Tanpa menyadari bahwa kehadiran Hangga sungguh menyiksa batin Harum.


Bagi Harum, saling mencinta tapi tidak bisa bersama itu rasa sakitnya lebih menggigit dari pengabaian Hangga kepada dirinya saat awal menikah dulu.


“Mas hanya bawa ini buat kamu. Kamu suka asinan mangga kan?” Hangga menyerahkan bungkusan berisi asinan mangga.


Harum menatap jengah mantan suaminya itu. “Bagaimana kalau Kak Nata tahu terus salah paham lalu nekat bunuh diri lagi?” sahutnya masih ketus.


Hangga diam saja memandangi Harum. Lebih baik diam daripada menjelaskan apa yang ia rasa. Kalau saja Harum tahu bahwa Hangga tidak bisa melupakan dan selalu merindukannya. Hangga tidak ingin memaksakan kehendak jika keadaan memang tidak dapat menyatukan dirinya dan Harum. Tapi, boleh dong ya jika ia ingin melihat Harum meski sebentar sebagai pengobat rindu.


“Kalau Mas Hangga terus-terusan datang ke sini, saya yang akan pergi dari sini dan kita enggak akan pernah ketemu lagi,” ancam Harum. Setelah berkata begitu, Harum melenggang pergi meninggalkan ruang kerjanya.


Karena hal tersebut, kini Harum bertekad untuk resign bekerja meskipun belum mendapatkan pekerjaan yang baru. Ia sudah mengatakan keinginannya pada Bu Mirna. Namun, seperti dugaan Harum, mantan mertuanya itu tidak mengizinkan.


Ah, peduli amat. Kali ini Harum ingin menentang.


Tanpa perintah pemilik kedai, Harum berinisiatif melakukan audit di semua cabang kedai sebagai bentuk pertanggungjawaban tugasnya sebagai staf akuntan kedai. Tujuannya agar ia bisa meninggalkan kedai dengan tenang. Harum juga telah mengajarkan kepada Nina tentang pembukaan administrasi dan sebagainya. Ia juga menyarankan Nina agar mengambil kuliah kelas karyawan.


Baru setelahnya ia akan mendatangi bos sekaligus mantan mertuanya itu untuk berpamitan.


“Udah selesai ya, Nin, auditnya?” lontar Harum kepada sahabatnya itu.


“Kamu yakin mau resign sekarang, Rum?”


“Insyaallah haqul yakin, Nin.”


“Terus kamu mau ngapain, Rum? Sedangkan kamu belum dapat kerjaan yang baru?"


“Iya, makanya saya mau fokus cari kerja, Nin. Kalau saya masih di sini, saya enggak bisa dapat-dapat pekerjaan. Doakan saya semoga segera dapat pekerjaan ya, Nin."

__ADS_1


“Tapi, ini kamu cuma mau ketemu Bu Mirna ‘kan, Rum? Nanti masih balik lagi ke sini ‘kan, Rum?”


“Yang jelas saya ingin pulang dulu, Nin. Kangen sama rumah."


“Mas Hangga tahu kalau kamu mau resign?”


Harum menggelengkan kepalanya. “Kalau Mas Hangga tahu, nanti dia juga bakalan nahan saya. Lebih baik dia enggak tahu. Saya resign juga untuk menghindari Mas Hangga. Kalau saya masih bekerja di sini, Mas Hangga akan terus-terusan datang ke sini.” Obrolan antara dua sahabat itu diakhiri dengan saling berpelukan.


Dan di sinilah Harum sekarang, menenteng tas besar di sebuah tempat yang dipenuhi hiruk pikuk kendaraan. Ia tengah berada di terminal menunggu bus yang akan membawanya pulang menemui sang mantan mertua.


Harum tengah memandangi penjual asongan yang menjual baceman mangga, tahu Sumedang, kacang dan sebagainya. Biasanya Harum tidak pernah absen untuk membeli jajanan khas yang biasa dijual pedagang asongan di dalam bus atau terminal setiap kali ia berpergian jauh. Tetapi, kali ini Harum merasa tidak berselera dengan jajanan tersebut.


Baceman mangga yang berwarna kuning tersebut tidak lagi menggiurkan di lidahnya. Ia jadi teringat asinan mangga yang dibawa Hangga ke kedai yang juga sama sekali tidak dimakannya. Asinan mangga yang menjadi alasan Hangga untuk menebus rindu itu akhirnya dinikmati oleh teman-teman karyawan kedai lainnya. Entah, belakangan ini ia jadi tidak berselera dengan rujak, asinan, dan sebagainya.


“Assalamualaikum, Nak.” Sapaan seseorang mengalihkan pandangan Harum yang tengah tertuju pada pedagang asongan.


“Waalaikum salam. Saya, Bu?” sahut Harum ramah kepada seorang ibu paruh baya yang menyapanya.


“Nak, ibu boleh bertanya?”


“Boleh, silakan, Bu.”


“Bus jurusan ke Merak yang mana ya, Nak?”


“Ibu mau ke Merak? Saya pun sedang menunggu bus jurusan Merak. Ibu bareng saja sama saya,” sahut Harum kepada ibu yang mengenakan gamis berwarna putih dan jilbab biru tersebut.


Setelahnya, Harum bersama ibu yang belum diketahui namanya itu naik ke bus jurusan Merak bersama-sama. Sepanjang perjalanan, ibu yang menurut taksiran Harum seusia dengan Bu Mirna itu terus mengajak Harum mengobrol. Meskipun sesungguhnya pikiran Harum tengah kalut, tetapi ia tetap meladeni obrolan ibu tersebut.


Bagaimana tidak kalut, sudah 19 hari lewat dari jadwal siklus bulanannya, ia belum mendapatkan menstruasi.


Bagaimana kalau saya hamil? Apa yang akan saya lakukan kalau benar saya hamil?


.


.


.


.


Terima kasih dukungannya ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2