
Sejak insiden kehabisan bensin dan kedai bakso tetelan Pakde Ganteng, Harum dan Nina menjadi semakin akrab dengan Arya. Lebih tepatnya, karena Nina yang ceriwis dan mudah akrab dengan siapa pun, termasuk orang yang baru dikenal seperti Arya, Harum jadi tertular akrab dengan pria berwajah manis tersebut.
Ditambah sikap Arya yang kini lebih independen, tanpa terkesan mempunyai rasa spesial pada Harum, membuat gadis ayu berjilbab itu semakin nyaman berkawan dengan Arya.
Kedua gadis itu pun sudah beberapa kali singgah ke kedai bakso milik Arya, selain karena ketagihan dengan rasa baksonya yang juara, juga karena keduanya mendapat diskon spesial setiap berkunjung ke kedai bakso tersebut.
“Assalamualaikum, Bang Arya,” sapa Nina saat suatu sore kembali datang ke kedai bakso Pakde Ganteng bersama Harum.
“Assalamualaikum.” Harum turut menyapa Arya yang tengah duduk di meja kasir.
“Waalaikum salam, Ukhti.” Arya membalas salam Harum lebih dulu dengan senyum super manis. Kemudian pandangannya beralih pada Nina dan menjawab salamnya. “Waalaikum salam, Kunti.”
“Harum dipanggil Ukhti, Nina dipanggil Kunti. Dasar Pakde Ganteng enggak ada akhlak!” protes Nina tidak terima. Sahabat Harum itu memukul tubuh Arya dengan tas selempang miliknya. Sementara Harum dan Arya tertawa terpingkal-pingkal.
“Bercanda, Nin. Maaf ya,” ucap Arya setelah tawanya reda.
“Gak dimaafkan kalau enggak dikasih gratis,” ujar Nina sembari melipat tangan di dada dan memasang wajah manyun.
“Khusus hari ini, kalian berdua, ukhti-ukhti sekalian, saya kasih gratis.”
“Yeay.” Nina bersorak girang.
“Gratis ... saus, kecap, dan sambelnya,” sambung Arya lagi.
“Sekalian aja yang digratiskan itu udara di sekitar kedai,” sahut Nina sembari mencebikkan bibirnya.
Begitulah hubungan pertemanan ketiganya kini yang semakin akrab. Ejekan, canda dan tawa kerap menghiasi setiap pertemuan mereka. Bahkan, Nina dan Arya sudah saling tukar nomor WA. Berawal dari keinginan Nina untuk memesan bakso secara delivery, akhirnya gadis itu bisa mendapatkan nomor ponsel Arya.
Modus tepat sasaran.
Untuk urusan tukar nomor telepon, Harum tidak ikut-ikutan. Sebagai wanita bersuami, ia berusaha untuk menempatkan dirinya dengan baik dan bersikap dengan benar. Meskipun Harum seolah tidak berarti di mata Hangga, tidak terbesit sedikit pun di benak Harum untuk berbuat curang dalam pernikahannya.
Setelah kejadian de-sahan di subuh buta itu, Harum memilih untuk menyibukkan diri di kedai demi mengurai rasa sakit. Mata dan hatinya lelah melihat kemesraan sang suami dan sang madu. Ditambah sikap Hangga yang dingin dan seolah tidak peduli padanya.
Harum tidak pernah lagi pulang kerja pada sore hari. Meskipun pekerjaannya di kedai sudah selesai, ia tetap memilih untuk bertahan di kedai atau membantu rekan-rekan kerjanya. Biasanya menjelang isya atau bakda isya, ia baru sampai di rumah.
Pernah suatu malam, ia sampai rumah di atas jam sembilan malam. Sengaja melakukannya dengan harapan Hangga akan menegurnya. Akan tetapi, suaminya itu sama sekali tidak menegur, malah terkesan masa bodo. Bahkan bertanya dengan siapa dan bagaimana Harum pulang pun sepertinya Hangga enggan.
“Rum, kamu kenapa sih belakangan ini pulang malam terus?” Setelah sekian lama, Nina baru bisa menanyakan hal tersebut.
“Daripada di rumah, jenuh. Enggak ada yang bisa saya kerjakan karena semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh BI Jenah. Kalau di sini ‘kan banyak yang bisa saya kerjakan dan bisa ketawa-ketiwi juga,” sahut Harum sembari memainkan pulpen di tangannya.
“Kan ada Mas Hangga. Memangnya Mas Hangga pulang malam juga? Memangnya Mas Hangga enggak marah, kamu pulang malam setiap hari?”
__ADS_1
Harum menghela napas panjang mendengar pertanyaan Nina. Sampai saat ini, Harum masih menyimpan sendiri masalah rumah tangganya. Belum terpikir untuk menceritakan masalahnya kepada sang sahabat.
“Rum, kalau kamu ada masalah, coba cerita deh. Mungkin Nina bisa bantu. Nina ‘kan sahabat kamu,” ujar Nina saat Harum hanya diam, tidak menanggapi pertanyaannya.
Dahulu saat masih gadis, Harum selalu curhat masalah apapun kepada Nina, begitu pun sebaliknya. Namun, untuk masalah rumah tangga, rasanya tidak elok untuk diceritakan kepada sahabatnya itu. Begitu pikir Harum.
“Maaf ya, Nin,” ucap Harum hampir menangis. Disinggung soal masalah rumah tangga, membuat dadanya sesak karena kembali mengingat pelik kehidupan pernikahan yang dijalaninya.
“Nina yang minta maaf, Rum. Karena udah kepo sama masalah kamu. Kalau kamu enggak mau cerita, enggak apa-apa kok.” Nina mengusap tangan Harum. “Apa pun masalahnya, Nina berharap segera diberikan jalan keluar. Dan semoga kamu selalu bahagia dengan pernikahanmu,” ucapnya tulus.
“Terima kasih, Nin.”
“Sama-sama, Rum.”
“Antar pulang sekarang, yuk!” pinta Harum setelah melepas pelukannya.
“Siap, Harum Geulis,” sahut Nina mantap. Setiap malam, Ninalah yang mengantar pulang Harum sampai ke rumahnya.
“Pokoknya, nanti kalau udah sebulan ada imbalannya deh.”
“Memangnya Nina tukang ojek,” protes Nina sembari tersenyum. Tentu saja Nina ikhlas mengantarkan sahabatnya itu pulang setiap malam.
Kedua gadis itu beranjak menuju motor yang terparkir di depan kedai. Keduanya naik ke atas motor dengan berboncengan. Saat motor baru jalan beberapa meter, Nina merasa ada yang janggal dengan ban motornya.
“Kenapa bannya, Nin?” tanya Harum saat keduanya telah turun dari motor.
“Enggak tahu, Rum,” sahut Nina yang berjongkok mengecek ban.
Baru Nina berkata begitu, terdengar deru motor dan klakson yang dibunyikan berkali-kali oleh seorang pengendara motor yang tidak lain adalah Arya.
“Nah, kebetulan ada Mas Arya,” kata Nina.
“Kenapa Nin?” tanya Arya setelah melepas helm.
“Bannya gak enak,” jawab Nina.
"Jelas ban ndak enak, karena yang enak itu bakso Pakde Ganteng," gurau Arya seraya turun dari motor lalu ikut berjongkok di dekat Nina.
“Ini kempes bannya. Kayaknya ban e bocor," kata Arya usai mengecek ban dengan cara menekan. “Harus dibawa ke dinas perbocoran dan pengendalian angin,” selorohnya.
“Apa tuh?” tanya Nina.
“Tukang tambal ban,” sahut Arya.
__ADS_1
“Kalau malam-malam begini dinas perbocoran dan pengendalian angin tutup,” kata Nina.
“Ya udah besok aja. Lagian kamu kerjanya ndak harus pake motor ‘kan,” ujar Arya yang telah mengetahui bahwa Nina tinggal di mes.
“Terus kamu pulangnya gimana, Rum?” tanya Nina pada Harum.
“Enggak apa-apa. Saya pesan ojek online aja,” sahut Harum yang sedari tadi diam.
“Rum, kamu pulang sama Mas Arya aja,” usul Nina.
“Enggak ah. Makasih. Saya pesan ojek aja.”
Kenapa harus pesan ojek online? Kenapa enggak minta jemput suamimu, Dek Harum? Gumam Arya dalam hati.
“Ini malam, Rum. Memangnya enggak takut kalau dibawa lari sama abang ojeknya,” kata Nina menakut-nakuti Harum.
Harum yang bersikukuh menolak usulan Nina, nyatanya resah juga. Apalagi beberapa hari yang lalu, ia membaca berita tentang pelecehan pada penumpang perempuan oleh oknum driver ojek.
Harum yang belum pernah menggunakan transportasi umum pada malam hari, seketika merasa cemas. Hatinya tengah menimbang-nimbang apakah harus meminta pertolongan Arya. Sementara meminta pertolongan teman karyawan lain juga tidak mungkin, sebab mereka tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang masih bertugas di kedai, ada yang sedang ngapelin pacarnya.
“Mas Arya, mau ya antar Harum pulang?” lontar Nina pada Arya.
“Aku?” Arya yang tengah bergumam dalam hati menyahut terkejut.
“Iya. Mau kan?”
“Kalau Dek Harumnya mau, aku ya mau aja,” sahut Arya melirik Harum.
“Udah mau aja, Rum,” bujuk Nina.
Harum terdiam sejenak untuk berpikir.
“Mau aja, Rum. Dari pada dibawa kabur orang, susah nyarinya. Mending dibawa kabur Mas Arya. Gampang nyarinya. Kan Mas Arya mah bukan orang.”
“Bukan orang? Setan, gitu?” lontar Arya.
“Bukan orang lain, gitu maksudnya. Alias bestie,” sahut Nina sembari menautkan kedua jari telunjuknya.
Betul kata Nina. Arya kan bukan orang lain. Arya adalah teman Kak Nata dan Mas Hangga. Jadi, bukan masalah kalau pulang bareng Mas Arya. Begitu pikir Harum.
"Mas Arya bisa minta tolong antarkan saya pulang?" pinta Harum akhirnya.
Arya tidak langsung menjawab pertanyaan Harum. Ia sedikit terkejut dengan permintaan perempuan ayu itu.
__ADS_1