Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 56


__ADS_3

Harum yang tengah duduk termenung di bangku taman dekat kedai dikejutkan dengan kehadiran pria berjaket denim yang tanpa permisi duduk di sebelahnya.


Begitu menyadari kehadiran pria berjaket yang tidak lain adalah Arya, perempuan yang mengenakan jilbab warna biru langit itu segera bangkit dari duduknya.


"Mau ke mana, Rum?” lontar Arya saat melihat Harum bangun dari duduk. Arya tahu Harum ingin menghindarinya.


“Aku rasa ndak ada salahnya kalau aku duduk di sini. Ini tempat umum dan di sini banyak orang. Lagi pula kita duduk berjauh-jauhan kayak Pulau Sumatera dan Papua,” kata Arya lagi.


Harum yang sudah berdiri, akhirnya memutuskan untuk duduk kembali. Beberapa saat, hanya ada keheningan di antara mereka.


Arya melirik Harum yang duduk di sampingnya. Ia tahu perempuan berjilbab yang pernah menjadi makmum idamannya itu tengah ada masalah. Ia mendapatkan informasi tersebut dari Nina yang mengatakan bahwa sudah beberapa hari ini Harum sering melamun.


“Setahu aku, menikah itu adalah untuk bahagia,” ujar Arya seolah mengetahui beban pikiran Harum. Atau pria bermata sipit itu mungkin hanya sok tahu.


Harum menoleh dan menatap sekilas Arya. Merasa tersindir dengan pernyataan pria yang duduk di bangku panjang bersamanya.


“Jika kamu ingin berbahagia maka menikahlah. Jika kamu menikah maka berbahagialah,” ujar Arya dengan ekspresi serius.


“Tuh ‘kan aku udah kayak motivator pernikahan aja,” selorohnya diiringi tawa kecil.


Harum ikut tersenyum mendengar selorohan Arya yang hari ini tampil keren dengan outfit casual. Mengenakan kaus hitam yang dibalut jaket denim. Yang menjadi perhatian Harum adalah tulisan kecil pada kaus itu yang masih terbaca meski ditutup jaket.

__ADS_1


“SUDAH LAKU” begitu tulisan pada kaus yang tidak terlalu ketat, namun begitu pas di tubuh Arya. Akan tetapi, huruf “D” pada kalimat tersebut dicoret dan diganti huruf “S” di bawahnya.


Harum hampir saja tertawa tergelak begitu menyadari kalimat “SUDAH LAKU” kalau huruf “D” diganti “S” berarti menjadi “SUSAH LAKU”. Beruntung, ia bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Lagi pula ia sedang tidak mood untuk tertawa. Suasana hatinya tengah tertutup awan kelabu.


“Apa Nina pernah menceritakan sesuatu tentang saya?” Harum bertanya tanpa menoleh pada pria yang duduk di sampingnya. Sorot matanya nanar menatap para pengunjung taman yang datang dan pulang silih berganti. Ada yang datang sendiri, ada yang datang bersama pasangannya, entah pasangan halal atau sekedar pacar. Ada pula yang datang bersama anak kecil yang kemungkinan adalah anaknya.


“Ndak tuh. Nina ndak pernah cerita apa-apa. Bahwa kamu sudah menikah adalah satu-satunya informasi yang aku dapat dari Nina,” ujar Arya.


"Oh, begitu ya," sahut Harum memaksakan senyum.


“Aku kira kamu masih single loh. Jujur ya, status aku yang jomblo fii sabililah ....”


Harum tertawa tertahan saat Arya menyebut dirinya jomblo fii sabililah.


Kali ini Harum benaran tertawa mendengar selorohan Arya. Dan Arya senang luar biasa karena berhasil membuat perempuan yang dirundung pilu itu tertawa lepas.


“Tadinya aku senang banget waktu Nata bilang mau nyomblangin aku sama kamu, tapi ...."


“Kak Nata bilang begitu?” Kening Harum mengernyit mendengar pengakuan Arya.


“Tapi ternyata cuma nge-prank. Karena kemudian aku tahu dari Nina kalau ternyata kamu sudah menikah," ungkap Arya.

__ADS_1


Arya memang pernah ditegur oleh Hangga saat pernah berusaha melakukan pedekate. Saat itu Hangga mengatakan bahwa Harum sudah memiliki suami, tetapi kala itu ia belum percaya seratus persen. Ia baru percaya ketika menanyakan hal tersebut kepada Nina, dan Nina menjelaskan bahwa Harum memang telah menikah.


Harum hanya bergeming mendengar Arya bicara, tanpa berniat untuk berkomentar. Hatinya masih bingung mengetahui Nata pernah berniat menjodohkannya dengan Arya.


“Jujur ada sedikit rasa kecewa saat tahu kalau kamu sudah menikah. Maklum, hati aku sempat begitu percaya diri menyatakan kalau kamu itu calon jodoh aku," tutur Arya kelepasan.


Harum terkesiap mendengar pengakuan Arya. Ia menatap Arya dengan raut tidak percaya. Tidak percaya kalau Arya bisa sejujur itu kepadanya.


"Eh, maaf, Rum. Maaf aku gak bermaksud ...." Seketika Arya merasa mulutnya tidak tahu diri. Bisa-bisanya ia mengatakan hal tersebut kepada perempuan yang telah bersuami.


“Mas Arya itu baik, pasti dapat jodoh yang baik juga,” kata Harum usai keterkejutannya mendengar pengakuan Arya.


“Amin," sahut Arya. Hatinya sedikit lega karena Harum tidak marah atas ucapannya yang tidak tahu etika itu.


“Kamu juga baik, Rum. Seharusnya kamu dapat jodoh yang baik juga. Semestinya kamu dapat suami yang baik.”


Harum tertawa kecil. “Memangnya menurut Mas Arya, suami saya enggak baik gitu?”


“Kalau suami kamu baik, wajah kamu enggak sering murung begitu, Rum.”


“Suami saya ....”

__ADS_1


Belum Harum menyelesaikan kalimatnya, ia dikejutkan dengan kehadiran Hangga yang sudah berdiri di samping Arya.


“Ngapain lu di sini!” hardik Hangga sembari menarik kerah jaket Arya.


__ADS_2