
Seperti biasa Harum terbangun pukul 02.30 dini hari. Ia terbiasa bangun di jam tersebut. Karena terbiasa, ia bahkan dapat bangun di jam tersebut tanpa alarm.
Ia berusaha untuk selalu menjalankan sunah malam, meski tidak selalu istiqomah.
Ya, sebagai manusia biasa, terkadang ia merasa malas juga menjalankan ibadah sunah.
Harum beringsut turun lalu duduk sebentar di tepi ranjang untuk mengembalikan kesadaran. Keningnya mengerut saat telinganya mendengar suara televisi.
‘Tumben sekali malam buta begini tivi nyala. Mungkin Bi Jenah lagi enggak bisa tidur,' gumam hatinya.
Setelah sekitar lima menit duduk, Harum menyeret langkahnya menuju pintu. Tangannya memutar kenop dan pintu pun terbuka. Seketika ia terkejut saat mendapati Hangga yang tengah duduk di depan televisi.
Kalau saja Harum tahu bahwa Hangga yang duduk di sana, ia akan memilih untuk tetap berdiam di kamar. Berpapasan dengan Hangga tanpa ada kepentingan apa pun sedikit membuat hatinya gusar tidak karuan.
“Mas Hangga enggak kenapa-kenapa?” Harum bertanya khawatir. Sesaat usai pandangan mereka beradu, Hangga terbatuk-batuk karena tersedak.
“Eee, enggak. Enggak apa-apa. Saya enggak apa-apa,” sahut Hangga tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
Tidak ada pertanyaan maupun ucapan yang dilontarkan Harum setelahnya. Meskipun keningnya mengerut bingung atas reaksi Hangga, Harum memilih melenggang pergi. Tujuannya adalah ke dapur untuk mengambil minum. Ia terbiasa minum segelas air setiap bangun tidur.
“Rum.” Selangkah sebelum belok menuju dapur, terdengar suara Hangga memanggil namanya.
“Iya, Mas.” Berbalik badan, Harum menjawab panggilan Hangga.
“Bisa buatkan kopi,” sahut Hangga ragu.
“Bisa, Mas,” jawab Harum seraya tersenyum. Hal-hal seperti ini saja sudah membuat Harum sangat bahagia.
“Rum,” panggil Hangga lagi, saat Harum hendak melanjutkan langkahnya.
“Iya, Mas.”
“Jangan kopi hitam.”
“Iya, Mas.” Harum tersenyum lagi.
__ADS_1
Harum lekas pergi ke dapur, membuat kopi pesanan suaminya. Saking senangnya, ia bahkan mendahulukan membuat kopi, sebelum minum segelas air seperti tujuan sebelumnya.
Secangkir kopi susu di atas baki siap dihantarkan. Melangkah menuju Hangga, tiba-tiba ia merasa sang suami berkali-kali mencuri pandang kepadanya.
Ada apa? Kenapa tatapan Hangga berbeda, tidak seperti biasanya.
“Makasih, Rum,” ucap Hangga seraya bibirnya mengukir senyum.
Harum terkesiap. Baru kali ini Hangga tersenyum kepadanya.
“Sama-sama.” Harum balas tersenyum. “Kalau ada yang diperlukan lagi, Mas panggil saya saja,” lanjutnya.
“Iya.” Hangga mengangguk dan bibirnya tersenyum lagi.
Sungguh jantung Harum berdebar dibuatnya. Hatinya bertanya-tanya, ada apa dengan Hangga?
Setelah membalas senyum Hangga sekali lagi, Harum berbalik badan dan berlalu meninggalkan Hangga. Ia pergi ke dapur untuk minum segelas air, lalu pergi ke kamar mandi yang letaknya dekat dengan dapur untuk mengambil wudu.
“Astagfirulloh,” desis Harum. Saat hendak mengambil wudu, ia baru menyadari kepalanya tidak tertutup jilbab.
Harum sama sekali tidak berpikir bahwa mungkin Hangga takjub melihat dirinya.
Setelah mengambil wudu, ia langsung beranjak ke kamarnya, berjalan dengan menundukkan kepala saat melewati Hangga. Jauh di sudut hati, Harum merasa malu sendiri atas kecerobohannya yang lupa memakai jilbab.
Bukan lupa, tetapi karena tidak mengira Hangga yang duduk di depan televisi.
Seharusnya sah-sah saja dan juga halal tentunya, ia berpenampilan tanpa jilbab di depan Hangga. Karena pria yang duduk di depan televisi itu adalah mahramnya. Akan tetapi, Harum merasa enggan untuk membuka aurat di hadapan suami yang tidak atau belum menerimanya sebagai istri.
Harum segera menutup pintu begitu kakinya telah sampai di dalam kamar. Berusaha menghilangkan gelisah hatinya, ia lekas menggelar sajadah. Dan memilih fokus untuk kegiatan ibadah sunah yang akan dilakukannya.
Sementara di luar sana, Hangga duduk gelisah. Ia menggigit bibir, dan berkali-kali menelengkan kepalanya sendiri.
Bayang-bayang Harum dengan rambut indahnya yang terurai, menari-nari di pikiran Hangga. Apalagi setelahnya, Harum lewat di hadapan Hangga dengan titik-titik rambut basah bekas air wudu yang membuat jiwa Hangga semakin bergetar.
Sungguh, Harum terlihat sangat cantik tanpa jilbab. Dan menjadi semakin cantik setelah berwudu.
__ADS_1
Entah kenapa, pertandingan bola AC Milan vs Inter Milan di depannya mendadak jadi tidak menarik lagi. Ia terus terpikirkan Harum. Ada rasa yang mendesak sangat kuat yang membuatnya kepayahan.
Menikmati kopi susu buatan Harum justru membuat rasa yang mendesak itu semakin kuat dan menggigit.
Sudah tiga puluh lima menit berlalu sejak Harum masuk kamar dan menutup pintu, Hangga memutuskan untuk bangkit dari posisi duduknya. Tangannya menekan tombol off pada remote tv. Ia menyudahi menonton bola saat tim jagoannya masih berlaga di awal babak kedua.
Ia mengayun langkah pelan menuju pintu kamar Harum, lalu mengetuk pintunya. “Rum,” panggilnya.
Di dalam kamar, Harum tengah menggerakkan jarinya menelusuri butiran tasbih. Ketukan di pintu kamar, membuat Harum menghentikan kegiatannya. Ia bangkit dan lekas melipat mukena.
Mungkin Mas Hangga memerlukan sesuatu dan membutuhkan bantuannya. Begitu pikir Harum.
Menutup kepala dengan bergo warna hitam yang semakin memancarkan cahaya di wajahnya, Harum membuka pintu kamar. “Iya, Mas,” ucapnya saat pintu telah terbuka.
“Sudah selesai salatnya?” tanya Hangga yang berdiri di depan pintu kamar Harum.
Harum terenyak beberapa saat. Dari mana Hangga tahu dirinya habis salat? Menoleh sejenak ke belakang, Harum baru sadar bahwa sajadahnya masih terhampar di lantai.
“Sudah,” jawab Harum. “Mas Hangga perlu sesuatu?”
“Aku boleh masuk ya, Rum,” pinta Hangga.
Pria yang memakai kaos oblong warna hitam dan celana boxer tim bola kesayangannya itu meminta izin sembari merangsek masuk ke kamar, meski belum mendapat persetujuan Harum.
Harum yang berdiri terbengong-bengong itu belum mengucap satu kata pun menjawab permintaan Hangga. Atau mungkin kalimat yang dilontarkan Hangga tadi bukan permintaan izin, melainkan pemberitahuan bahwa ia ingin masuk ke kamar tersebut.
“Kamarnya harum, kayak orangnya,” celetuk Hangga sembari pandangannya mengitari seisi ruang kamar.
Harum pernah mendengar kalimat tersebut lima hari yang lalu. Bedanya waktu itu, kalimat tersebut terucap dari bibir madunya. Bedanya lagi, saat itu Harum tersenyum kecil menanggapinya. Namun, kali ini reaksinya malah berdiri kaku dengan raut wajah terbengong-bengong penuh tanda tanya.
Harum yang masih syok atas ucapan Hangga, terlambat menyadari bahwa Hangga telah berjalan mendekatinya yang masih berdiri kaku di dekat pintu. Kemudian Hangga menutup pintu kamar yang masih terbuka lebar itu.
“Rum.” Kedua tangan Hangga merengkuh jemari halus Harum lalu menggenggamnya lembut.
Posisi keduanya saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Harum tercekat luar biasa karena perlakuan Hangga yang di luar prediksinya.
__ADS_1
Wanita berparas ayu itu mungkin nyaris pingsan atau malah sekarat, saat Hangga mengucapkan kalimat berikutnya. “Kamu ... kamu cantik sekali, Rum.”