
“Kalau bukan Bapak dan Ibu, lalu siapa yang sakit?”
Tidur Harum gelisah karena memikirkan hal tersebut. Hingga esok paginya, pertanyaan tersebut tidak juga lenyap dari pikirannya.
“Mas, maaf, saya boleh bertanya?” lontar Harum saat bertemu Yuda di meja makan. Yuda hendak bersiap sarapan, sedangkan Harum tengah menyuapi putrinya Yuda sarapan.
Yuda menatap Harum dengan kening mengerut. Kalau tidak salah, Harum sudah beberapa kali melontarkan kalimat tersebut dua hari belakangan ini. Mau tanya apa lagi dia?
“Ya, silakan,” sahut Yuda sembari mengambil selembar roti gandum lalu mengolesinya dengan selai kacang kesukaannya.
“Di mana saya bisa mendapatkan informasi tentang pasien di rumah sakit tempat Mas Yuda berdinas?” lontar Harum di sela kegiatan menyuapi Harum kecil.
“Maksudnya?” sahut Yuda tanpa menatap Harum, sebab tangannya masih sibuk mengoles selai ke atas roti.
“Begini, Mas. Saya kemarin bertemu seseorang yang saya kenal di rumah sakit itu, tapi saya lupa menanyakan sedang apa dia berada di sana. Apakah dia sedang menunggu keluarganya yang sakit atau apa. Kalau saya ingin mengetahui informasi tersebut, apakah bisa, Mas?"
Yuda tertawa. Lebih tepatnya, menertawakan Harum. “Kenapa hidup kamu ribet banget sih, Rum?” sahutnya tanpa menjawab pertanyaan Harum.
Kalau kemarin Harum bertemu dengan temannya, seharusnya dia bisa langsung bertanya sama temannya saat itu juga tentang keberadaan temannya di rumah sakit itu. Atau minimal saling tukar nomor ponsel. Lalu mereka bisa mengobrol dan saling berkirim pesan. Bukannya malah repot begini. Apa karena dia itu pendiam. Saking pendiamnya, dia sampai enggak bisa menanyakan hal sepele itu kepada temannya. Begitu yang ada di benak Yuda.
Harum menarik napas, lalu menghembuskannya pelan. Kalimat yang diucapkan Yuda barusan, lumayan membuat hati Harum sedikit sakit. Ribet? Apa maksudnya hidup saya ribet?
Harum memilih untuk tidak bicara lagi. Ia fokus menyuapi putrinya Yuda sarapan, tanpa sedikit pun berani menatap papinya si Harum kecil. Begitu pun dengan Yuda, ia melanjutkan kegiatan sarapannya. Sampai suapan terakhir roti gandum masuk ke mulut Yuda, dokter ganteng itu baru menyadari ada perubahan riak di wajah pengasuh putrinya. Harum yang biasa menyuapi sambil berceloteh bersama Harum kecil, malah tidak terdengar suaranya.
“Kalau kamu mau cari informasi tentang pasien, nanti kamu datang ke ruangan saya saja. Tapi, saya enggak janji bisa menemukan yang kamu cari. Saya hanya punya data tentang pasien yang saya tangani saja,” ujar Yuda usai menandaskan sarapannya, kemudian ia berdiri meninggalkan meja makan.
__ADS_1
Selepas mengantar putrinya Yuda ke sekolah, Harum lekas pergi ke rumah sakit. Tujuannya adalah menuju ruangan Yuda. Meskipun tadi Yuda bersikap menyebalkan, Harum memutuskan untuk tetap menemui Yuda, sebab ia benar-benar membutuhkan bantuan papinya Harum demi menjawab rasa penasarannya tentang keberadaan Hangga di rumah sakit tersebut.
Harum mengayun langkah menuju ruangan Yuda dengan ribuan pertanyaan dan praduga dalam benaknya. Apa mungkin Mas Hangga hanya pengunjung rumah sakit atau sedang menjenguk temannya yang sakit? Tetapi, kalau benar Mas Hangga hanya menjenguk temannya, rasanya tidak mungkin sampai makan di kantin rumah sakit. Begitu yang diyakini Harum.
Saat Harum masih berkecamuk dalam dugaan dan pertanyaan di benaknya, tiba-tiba matanya menangkap sosok Hangga yang masuk ke ruangan Yuda. Harum sontak menghentikan langkahnya, ia yang berdiri beberapa meter dari pintu ruangan Yuda memilih untuk bersembunyi dengan membaur bersama para pasien dan pengunjung rumah sakit
Dengan perasaan cemas tidak terkira, Harum duduk di kursi tunggu bersama para pengunjung rumah sakit lainnya. Cemas sebab kedatangan Hangga ke ruangan Yuda mengindikasikan bahwa Hangga memang bagian dari keluarga pasien yang ditangani Yuda. Lalu, siapa yang sakit? Apakah ...
Harum lekas menepis dugaannya segera.
Beberapa menit kemudian, ia melihat Hangga dan Yuda keluar dari ruangan dan kedua laki-laki tampan itu berjalan bersama menuju suatu tempat. Harum beringsut bangun dari posisi duduknya, lalu membuntuti kedua pria tersebut sampai masuk ke ruang perawatan.
Dari balik tirai pemisah ranjang pasien, Harum mendengar semuanya. Harum berdiri tergugu ketika mengetahui Nata lah yang dirawat di rumah sakit ini.
“Pak Hangga, kalau bisa bawa satu orang lagi yang bisa mendonorkan darahnya untuk Bu Nata. Karena transfusi kemarin belum mencapai target HB yang dibutuhkan pasien. Tapi harus segera ya, Pak. Harus pagi ini juga transfusinya.”
“Apa golongan darah Kak Nata, Sus? Saya mau mendonorkan darah untuk Kak Nata,” kata Harum dengan suara bergetar menahan tangis. Bulir air mata menggenang di pelupuk mata indahnya.
Nata yang tengah berbaring dengan tatapan kosong sontak menoleh ke arah Harum.. “Ha-rum,” panggilnya dengan suara yang lemah tidak berdaya.
Tangis Nata pecah seketika. Tangannya melambai-lambai memanggil Harum agar mendekat ke arahnya.
Harum melangkah mendekati Nata. Ia meraih tangan Nata yang melambai lemah lalu menggenggamnya erat. “Kak Nata.” Terisak-isak Harum memanggil nama mantan madunya itu.
“Harum. Huuu, huuu.”
__ADS_1
Harum membungkukkan tubuhnya lalu lekas memeluk Nata. Kedua perempuan yang pernah hadir di kehidupan Hangga itu saling berpelukan dalam tangis. Menumpahkan rasa sesal di hati mereka masing-masing. Nata yang menyesal atas sikapnya dulu terhadap Harum. Sedangkan Harum menyesal karena terlambat mengetahui kondisi Nata yang sakit parah.
“Harum, maafkan aku,” ucap Nata dengan berderai air mata usai melepaskan pelukan panjang antara dirinya dan Harum.
“Saya yang minta maaf, Kak. Maafkan saya,” sahut Harum yang juga berderai air mata.
“Aku banyak salah sama kamu, Rum. Aku egois. Maafkan semua kesalahan aku.”
“Enggak, Kak. Kak Nata enggak salah. Kita enggak usah membahas yang dulu-dulu. Yang terpenting sekarang adalah Kak Nata harus berjuang untuk sembuh.”
“Jangan pergi lagi, Rum. Kamu di sini aja. Aku mau belajar solat sama kamu. Kamu mau kan ajari aku solat?” lontar Nata dengan air mata yang masih bercucuran.
“Iya, Kak. Aku akan ajari Kak Nata solat. Nanti kita solat bersama." Harum mengusap air mata yang membasahi wajah Nata. “Kak Nata yang semangat ya. Semangat untuk sembuh.”
Nata yang tidak berhenti menangis, tidak menyahut dengan deretan kata. Hanya genggaman tangannya pada Harum yang semakin ia eratkan.
“Sus, apa golongan darah Kak Nata?” tanya Harum pada perawat yang berdiri di dekat Hangga.
“Bu Nata golongan darahnya A,” jawab perawat.
“Golongan darah saya juga A. Saya mau mendonorkan darah saya untuk Kak Nata.”
Perawat itu tidak langsung menjawab keinginan Harum, melainkan melirik ke arah dokter Yuda. Harum yang memperhatikan hal tersebut, langsung menoleh pada Yuda yang berdiri di sampingnya. “Mas, saya mau mendonorkan darah untuk Kak Nata.”
Tidak langsung mendapatkan jawaban dari Yuda, Harum melepas perlahan genggaman tangan Nata lalu memutar tubuh menghadap Yuda. “Mas, izinkan saya menjadi pendonor darah untuk Kak Nata,” mohonnya sembari menyentuh lengan Yuda yang tertutup lengan kemeja.
__ADS_1
Hangga yang berdiri menyandar di dinding menatap pemandangan tersebut dengan alis berkerut. Mas? Harum memanggil Yuda dengan sebutan ‘Mas’?
Sesaat kemudian pandangannya turun, menatap tangan Harum yang menggenggam lengan Yuda. Ada hubungan apa Harum dengan dokter Yuda? Batinnya bertanya gelisah.