
Meskipun Harum tengah mendapatkan tamu bulanan, tetap tidak menyurutkan kebahagiaan Hangga menjalani liburan bersama Harum di Bali. Sebab berduaan bersama Harum seperti sekarang adalah hal langka dan sulit dilakukan jika masih berdekatan dengan Nata.
Harum tengah membaca daftar menu makanan. Beberapa saat lalu, seorang staf hotel mendatangi kamarnya dan menawarkan kepada Harum barangkali mau memesan kudapan dan menu makanan lainnya.
Sementara Hangga tengah berada di kamar mandi. Entah apa yang sedang dilakukan Hangga di kamar mandi. Pasalnya tadi, berani-beraninya Hangga mencumbu Harum padahal jelas-jelas istrinya itu tengah datang bulan. Jadinya Hangga KENTANG deh, alias Kena Tanggung.
Harum terkikik geli melihat wajah Hangga yang memerah menahan has rat beberapa saat yang lalu.
“Nasi goreng kecombrang.” Harum membaca salah satu daftar menu masakan yang menarik perhatiannya. Baru selesai mengeja, ia dikejutkan dengan bunyi dering ponsel Hangga.
Harum lekas mengambil ponsel Hangga yang tergeletak di atas nakas. Tangan Harum langsung gemetar kala mengetahui Nata lah yang melakukan panggilan ke nomor Hangga tersebut. Panggilan video pula.
“Aduh, video call dari Kak Nata. Gimana nih?” Reaksi Harum persis seperti seorang selingkuhan yang takut ketahuan istri sah kekasihnya.
Harum gegas mengayun langkah terburu-buru menuju kamar mandi sembari membawa ponsel milik Hangga. “Mas," panggilnya seraya mengetuk pintu kamar mandi.
“Mas Hangga!” panggil Harum yang kedua kali sebab Hangga tidak menyahut juga.
“Iya, Humairaku sayang.” Tanpa aba-aba, Hangga membuka pintu kamar mandinya lebar-lebar sembari tersenyum lebar. Bertepatan dengan bunyi ponsel yang berhenti berdering.
“Ish, Mas Hangga!” Harum langsung berbalik badan sembari menutup wajahnya dengan satu tangan karena melihat penampakan Hangga yang polos tanpa sensor.
Hangga terkikik geli melihat reaksi Harum. Ia memang sengaja menampakkan diri dalam keadaan polos untuk menggoda istrinya yang pemalu. Meskipun telah menjadi istri sah dan beberapa kali berhubungan in tim, Harum masih malu-malu kalau didekati Hangga.
Berbeda sekali dengan Nata yang agresif dan hot jeletot, Harum cenderung lebih pasif. Tetapi, hal tersebut justru membuat Hangga lebih berga irah dua kali lipat. Sensasi memadu cinta bersama perempuan yang malu-malu itu berbeda. Hangga selalu merindukan wajah ayu Harum yang merona dalam impitannya.
“Pakai handuknya dulu, Mas!” titah Harum masih dengan posisi membelakangi Hangga.
“Iya, ini udah.”
__ADS_1
“Bener?”
“Iya, Harum sayang.”
“Awas kalau bohong!”
“Enggak, Harum sayang! Kalau bohong, mas rela dicium sampai jontor.”
“Enak di kamu, Mas!” Pelan dan perlahan Harum memutar tubuh berbalik badan. Hatinya merasa lega manakala melihat handuk berwarna putih sudah terlilit di perut suaminya yang tidak sixpack, tetapi rata dan cukup menggiurkan.
“Ada apa ketuk-ketuk pintu kamar mandi? Mau mandi bareng?” goda Hangga sembari mengerlingkan matanya.
“Tadi ....” Ucapan Harum terputus karena ponsel Hangga berdering lagi.
“Kak Nata video call, Mas. Gimana nih?” lontar Harum seraya menunjukkan i phone mewah dengan spesifikasi super canggih milik Hangga kepada si empunya.
“Gak usah dijawab, Rum. Abaikan saja,” sahut Hangga.
“Sini, ponselnya,” kata Hangga seolah merasakan apa yang diresahkan Harum.
Harum menyerahkan ponsel tersebut kepada pemiliknya yang masih berdiri di gawang pintu kamar mandi. Masih dengan memakai handuk, Hangga mengayun langkahnya menuju ranjang lalu duduk di sana. Ponsel terus berdering dan Hangga hanya memandangi layarnya. Setelah ponsel berhenti berdering, baru Hangga mulai mengetik pesan.
[Sayang, maaf aku gak bawa charger. Ketinggalan di mobil]
[Hp aku lowbat]
[Baik-baik di sana ya, Sayang. Jangan lupa makan]
[Love U]
__ADS_1
[Mmmuach]
[Emot love banyak]
Hangga mengirim pesan tersebut kepada Nata, baru kemudian mematikan ponselnya.
“Rum, ponsel kamu mana?” tanya Hangga setelahnya.
“Ada.”
“Sini ponselnya.”
Harum patuh menyerahkan ponselnya kepada Hangga.
“Selama lima hari di Bali ini, mas mau kita fokus liburan. Pokoknya hanya ada mas dan kamu. Jangan ada orang lain ataupun memikirkan orang lain.” Setelah berkata begitu, Hangga mematikan ponsel Harum.
Harum mengangguk setuju. “Oya, Mas. Nanti kita makan siangnya bagaimana?” tanyanya mengingat sebentar lagi adalah jam makan siang.
“Enggak usah khawatir, Harum sayang. Mas ambil paket menginap komplit di hotel ini. Sudah termasuk breakfast, lunch, dinner dan juga mini bar. Di kulkas pasti udah disediakan makanan cemilan buat kita.” Bukan kaleng-kaleng, Hangga menyiapkan liburan ini bersama Harum.
“Kenapa begitu, Mas?"
"Soalnya yang dibayangkan mas itu, mas bakalan kekepin kamu lima hari lima malam. Jadi kan enggak pusing cari makan kalau mas ambil paket komplit di hotel ini."
"Padahal mending kita cari makan di luar aja biar lebih hemat dan sekalian jalan-jalan. Sayang uangnya, mending ditabung.”
“Sayang uang? Mas lebih sayang kamu, Rum.” Hangga meraih tangan Harum lalu mengecupnya. “Semua yang mas lakukan enggak sebanding dengan kesalahan mas sama kamu. Maafin, mas ya. Semua ini adalah untuk menebus kesalahan, Mas."
"Menebus kesalahan kepada saya dengan membuat kesalahan kepada Kak Nata?" lontar Harum sembari menatap Hangga.
__ADS_1
Ucapan Harum membuat lidah Hangga kelu.