
“Nanti saya sampaikan sama Harum. Sekalian saya mau menyampaikan kepada Pak Hangga dan Bu Nata bahwa minggu depan saya dan Harum akan menikah.”
“Minggu depan, Dok?” tanya Nata cukup terkejut. Tidak menyangka pernikahan Harum dan Yuda akan dilakukan secepat itu.
“Emm, iya.”
“Semoga lancar sampai hari H ya, Dok. Semoga dokter Yuda dan Harum diberikan kebahagiaan, rumah tangganya sakinah mawadah warahmah.” Ucapan Nata ditanggapi dengan sebuah senyuman oleh dokter berusia 37 tahun itu.
“Kalau kondisi Bu Nata baik dan memungkinkan untuk datang, saya inginnya Bu Nata dan Pak Hangga bisa datang ke acara pernikahan kami.”
“Insyallah, Dok. Kami akan berusaha datang karena kami pun ingin melihat pernikahan Harum." Nata melirik pada Hangga. "Iya kan, Hangga?”
“Iya.” Hangga mengangguk ragu.
“Tanggal berapa nikahnya dan di mana tempatnya, Dok?” lontar Nata.
“Kalau enggak ada perubahan, akad nikahnya dilaksanakan di rumah saya. Nanti saya serlok lokasi rumah saya. Tentang tanggal dan jam acaranya, saya kabari nanti, jika sudah mendekati hari H. Soalnya kami memang enggak nyebar undangan. Hanya akad nikah saja, resepsinya nanti menyusul."
“Terima kasih, Dok. Saya tunggu kabar dari dokter.”
“Oke. Sekarang saya mau periksa Bu Nata dulu ya.”
Setelah melakukan pemeriksaan singkat kepada Nata, lalu Yuda berpamitan keluar.
“Pak Hangga, mari ikut saya ke ruang perawat. Ada surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh Pak Hangga,” kata Yuda.
Hangga mengangguk. Kemudian ia mendekati Nata untuk berpamitan. “Aku keluar dulu sebentar ya, Yang,” pamitnya sembari mengusap kepala Nata.
Kedua pria tampan dengan selisih usia sembilan tahun itu berjalan bersama keluar dari ruang perawatan Nata.
“Pak Hangga.”
“Iya, Dok.”
“Saya dan Harum, kami sepakat untuk melangsungkan akad nikah minggu depan,” ujar Yuda membuka percakapan di sela ayunan langkah keduanya.
“Iya, Dok. Semoga acaranya lancar. Selamat ya,” sahut Hangga menyunggingkan senyum.
“Saya belum ada waktu untuk menemani Harum mengurus perceraian, jadi kami akan nikah siri saja dulu. Yang penting sah dulu secara agama.”
Hangga menolehkan kepalanya pada Yuda yang berjalan di sisinya. “Saya boleh minta tolong, Dok?”
“Hem. Minta tolong apa, Pak?”
“Tolong jaga Harum.”
Menoleh pada Hangga, Yuda menghentikan langkahnya.
“Jangan pernah sia-siakan Harum. Dan tolong bahagiakan dia," lanjut Hangga turut menghentikan langkah, menatap Yuda yang juga tengah menatapnya.
“Saya percaya, dokter Yuda bisa membahagiakannya,” pungkas Hangga seraya menepuk pundak Yuda. Setelahnya, mantan suami Harum itu masuk ke ruang perawat.
*
Hari pernikahan yang telah disepakati pun tiba. Yuda memilih pernikahannya dilakukan di hari kerja agar tidak kelihatan ‘mencolok’. Toh, ini hanya pernikahan siri sehingga tidak ada persiapan layaknya pernikahan sebelumnya. Tidak ada pelaminan, tidak ada tenda maupun kursi tamu yang jumlahnya ratusan, serta tidak ada janur kuning yang bertuliskan nama kedua mempelai.
__ADS_1
Yuda juga hanya mengundang pejabat desa setempat seperti ketua RT, ketua RW dan ketua pemuda serta beberapa tetangga sekitar tempat tinggalnya. Keluarga yang diundang pun hanya keluarga terdekat Bu Yusma yang berdomisili di Jakarta yang hanya berjumlah dua keluarga saja. Bahkan, Yuda tidak mengundang satu pun teman, sahabat maupun koleganya.
“Kamu enggak ngundang teman-teman kamu, Yuda?” lontar Bu Yusma saat tiga hari menjelang pernikahan.
“Enggak lah, Bu. Ini kan hanya nikah siri. Nanti saja lah kalau resepsi, baru diundang semua. Ibu juga enggak usah ngabari keluarga yang di Lampung. Kasihan, jauh kalau harus ke sini, lagian di sini enggak ada pesta kok.”
“Ya sudah lah kalau mau kamu begitu. Tapi, nanti kalau kalian sudah mendaftarkan pernikahan kalian secara hukum, harus ada resepsi ya. Nanti semua keluarga dan teman-teman kamu diundang semua.”
“Iya, ibu, iya.”
Harum menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Mengenakan kebaya gamis warna putih yang baru ia beli beberapa hari yang lalu, Harum memoles sendiri wajahnya dengan make up tipis. Sembari merias wajah, dalam hati Harum tidak berhenti melantunkan solawat agar dapat memberikan ketenangan jiwanya.
Harum berharap keputusannya adalah tepat. Menerima pinangan Yuda, padahal ia jelas menyadari bahwa Yuda tidak mencintainya.
Tidak apa, toh dulu Mas Hangga juga tidak mencintai aku. Tapi, tetap beda, Harum! Dulu Mas Hangga tidak mencintai kamu, tapi kamu sangat mencintai dia. Sementara pernikahan ini, kamu dan Mas Yuda sama-sama enggak saling mencintai. Akan bagaimana nanti kamu menghadapi hari-hari bersama Yuda sebagai pasangan suami istri. Bukan Yuda sebagai seseorang yang telah kamu anggap sebagai keluarga sendiri.
Harum memijit pelipis sembari beristighfar setiap hatinya mempertentangkan soal keputusannya tersebut. “Astagfiruloh, astaghfirullah, astaghfirullah,” lirihnya.
“Hai, Mami. Mami cantik sekali.” Sapaan Harum kecil menghentikan kegalauan Harum.
Putri Yuda itu tampil cantik dengan gaun warna putih, serasi dengan gamis yang dipakai Harum. Rambut lurusnya digerai dengan bandana silky mutiara bunga putih sebagai aksesorinya. Harum yang mendandani putri Yuda itu sebelum ia mendandani dirinya sendiri.
“Hai juga. Anak mami cantik sekali. Bajunya cantik, rambutnya cantik, orangnya juga cantik. Anaknya siapa sih ini?” lontar Harum mencubit dagu putrinya Yuda.
“Anaknya Yuda Mahendra.” Harum selalu tertawa setiap Harum kecil menyebutkan nama papinya dengan lengkap.
“Mami mirip ini ya.” Putri kecil Yuda itu menunjukkan boneka Barbie muslimah berbaju pengantin model gamis warna putih yang tengah digendongnya. “Mami mirip Cinderella syar’i.”
Tawa Harum terhenti saat melihat boneka Barbie muslimah itu. Ia mengambil boneka tersebut dari tangan Harum kecil. Duduk di tepi ranjang, Harum memandangi boneka tersebut. Ingatan saat hari terakhir di Bali di mana ia dan Hangga berjalan-jalan di mal, tidak pernah dapat ia lupakan.
“Ini tuh kembaran kamu, Harum Sayang. Nanti kalau mas kangen sama kamu, sementara mas enggak bisa dekat kamu, mas mau mandangin ini aja.”
Harum tersenyum haru mengenang momen tersebut.
"Kalau boleh jujur, tadinya mas berharap bisa kembali sama kamu. Karena mas masih sangat mencintai kamu, Rum. Tapi, sekarang mas berpikir bahwa kamu berhak bahagia. Dan mungkin dokter Yuda lah laki-laki yang bisa membahagiakan kamu. Mas hanya bisa berdoa semoga kamu bahagia bersama dokter Yuda. Mas ikut bahagia kalau kamu bahagia.”
"Aku sedih. Teman-teman aku semuanya punya mama, punya bunda, punya ibu, punya mami, tapi Harum enggak. Huuu, huuu.”
“Harum kan punya Mami, tapi Mami Harum udah ada di surga."
“Aku ingin seperti teman-teman yang punya mami di dunia. Kakak cantik, boleh enggak kalau aku panggil mami aja?”
"Ini untuk kamu, Rum. Saya mau menikahi kamu. Apakah kamu bersedia menjadi istri sekaligus ibu sambung untuk anak saya Harum.”
“Mungkin apa yang saya katakan barusan mengejutkan kamu. Tetapi, apa yang saya katakan tadi adalah sebuah kesungguhan. Saya sungguh ingin menikahi kamu."
Bibir Harum tengah tersenyum, namun matanya malah menjatuhkan sebulir air mata yang membasahi pipi.
“Mami kenapa nangis?” lontar Harum kecil berdiri di hadapan Harum. Putri Yuda itu mengusap pipi Harum yang basah dengan tangan mungilnya.
“Enggak, Sayang. Enggak papa,” sahut Harum memeluk putrinya Yuda.
*
Yuda bergeming memandangi pantulan bayangan dirinya di depan cermin. Angannya terbang ke belasan tahun yang lalu.
__ADS_1
“Aku mau cepat jadi dokter biar bisa cepat melamar kamu.”
“Memangnya kamu serius sama aku, Yang?”
“Sejuta rius, Honey.”
“Yuda, kamu ngapain ke sini? Kamu enggak boleh ke sini. Kita tuh lagi dipingit, besok kita nikah. Pulang sana, hush, hush.”
“Aku enggak bisa nahan rindu, Honey.”
“Besok kita ‘kan nikah. Mulai besok kita akan sama-sama terus selamanya.”
“Selamanya?”
“Iya, selamanya.”
Air mata Yuda jatuh meluruh saat mengenang detik-detik kematian Ranum. Wajah pucat wanita yang sangat dicintainya sesaat setelah menghembuskan napas terakhir, masih melekat di ingatan dokter muda itu. Bayangan tersebut yang selalu meletupkan penyesalan begitu dalam hingga dirinya merasa tidak pernah bisa jatuh cinta lagi pada perempuan lainnya.
“Papi, aku ingin punya mami.”
“Loh, Harum ‘kan udah punya mami. Namanya Mami Ranum. Harum udah lihat kan foto Mami yang cantik.”
“Tapi, Mami Ranum ‘kan tinggalnya di surga. Aku pengen punya mami di sini, yang bisa temenin aku."
“Papi, boleh enggak kalau aku panggil Kakak Harum itu ‘Mami’?”
“Yuda!” Teriakan Bu Yusma membuyarkan lamunan Yuda.
“Kamu belum ganti baju? Itu pak ustadznya sudah datang loh!”
.
.
.
.
Habis ini Mak Othornya mau salat istikharah dulu ya. 😂😂😂
Minta petunjuk siapa yang harus menjadi jodohnya Harum.
Thor, saya maunya Harum sama Hangga. Awas kalau enggak sama Hangga, enggak tak kasih vote.
Thor, saya maunya sama Yuda ya. Kalau enggak sama Yuda saya enggak mau lanjut baca.
Tidak apa Kakak-kakak sayang, emak-emak cantik. Ini paling dua bab lagi juga tamat. Terima kasih banyak sudah membaca karya aku sampai sejauh ini. Menurut aku pribadi, dari keempat karyaku, ini yang statistik minat pembacanya paling statis.
Kalau ketiga novel sebelumnya lihat aja like di bab pertama dan bab terakhir itu pasti beda jauh. Kalau cerita ini, pembaca sepertinya masih setia sampai bab terakhir. Meskipun ada juga yang milih mundur karena gak suka alurnya, tapi hanya segelintir saja, enggak begitu signifikan.
Terima kasih banyak untuk semua yang sudah mendukung karyaku. Yang enggak pernah absen untuk kasih like, komen, hadiah atau vote. Aku enggak bisa balas apa-apa kecuali doa, semoga sahabat-sahabatku tersayang semuanya sehat-sehat selalu, murah rezekinya, rumah tangganya rukun selalu sakinah mawadah warahmah, yang singel segera menjadi dobel, eh dapat jodoh maksudnya. Doa yang sama juga buat diriku sendiri.
Amin yang kenceng.
AAAMIIIIIIN
__ADS_1
Maaf banget ya kalau aku jarang balas komentar, aku balas pake ini. ❤️❤️❤️❤️❤️