
“Harum, kenapa kamu tidak pernah cerita tentang sikap buruk Hangga kepada ibu?” lontar Bu Mirna setelah mengambil posisi duduk.
“Saya tidak merasa diperlakukan buruk oleh Mas Hangga, Bu. Mas Hangga baik sama saya, meskipun Mas Hangga belum mencintai saya,” sahut Harum apa adanya.
Memang begitulah yang dirasakannya selama ini. Ibarat warna, sikap Hangga baginya itu abu-abu, kadang hangat kadang dingin, kadang baik kadang menyebalkan.
“Seharusnya kamu cerita sama ibu, Rum." Bu Mirna terdiam sejenak memandangi Harum. "Maafkan ibu karena sudah mengira pernikahan kalian baik-baik saja. Tapi sekarang, ibu pastikan Hangga akan menerima kamu sebagai istrinya dan meninggalkan perempuan itu,” ujar Bu Mirna sembari melirik Nata yang tengah menatapnya.
“Kenapa Ibu menentang hubungan kami, padahal kami saling mencintai. Apa salah saya, Bu?” Nata yang sejak tadi terdiam kini melontarkan tanya pada Bu Mirna. Jejak basah air mata masih tampak di pipi mulusnya.
“Hangga harus menikah dengan perempuan yang seiman dengannya. Bagi kami, itu adalah sebuah keharusan. Tidak ada toleransi untuk hal itu!” tegas Bu Mirna.
Nata yang masih sesenggukan menghampiri ibunda sang kekasih, lalu bersimpuh di hadapannya. “Kalau begitu, saya akan mengikuti keyakinan Hangga,” ucapnya.
Semua orang yang ada di tempat itu tercengang mendengar ucapan Nata.
“Kalau kami sudah seiman, ibu akan merestui kami ‘kan? Kami bisa menikah ‘kan?” lontar Nata lagi.
__ADS_1
“Nat!” seru Hangga tak kalah terkejutnya.
“Hangga, aku cinta sama kamu. Aku tidak mungkin bisa hidup tanpa kamu," sahut Nata.
“Jangan, Nata!” seru Hangga.
“Aku mau menikah sama kamu, Hangga. Aku hanya mau kamu.”
“Kamu tidak perlu mengambil keputusan besar seperti itu. Bagaimanapun juga kalian tidak mungkin bisa bersatu, karena Hangga telah menikah. Hangga sudah memiliki Harum,” sela Bu Mirna.
“Bu, Saya mohon biarkan kami bersatu. Saya sangat mencintai Hangga. Apa pun akan saya lakukan, yang penting kami bisa bersatu,” mohon Nata sambil bersimpuh di hadapan Bu Mirna.
“Tidak, Bu. Saya mohon. Saya mencintai Hangga. Kami saling mencintai. Izinkan kami bersama," ucap Nata memohon.
“Tidak bisa, Nata. Itu tidak akan mungkin. Kamu harus terima kalau kalian itu tidak berjodoh," sahut Bu Mirna.
“Bu, biarkan Mas Hangga menikahi Nata,” sela Harum di antara perdebatan ibu mertua dan kekasih suaminya.
__ADS_1
“Apa-apaan kamu, Rum? Enggak bisa. Hangga enggak akan pernah bisa menikahi perempuan itu karena sudah memiliki kamu,” sahut Bu Mirna tidak setuju.
“Tapi mereka saling mencintai, Bu,” kata Harum dengan suara bergetar menahan pilu.
Semula Harum mengira, jika sikap dingin Hangga adalah suatu kewajaran, sebab mereka menikah karena perjodohan.
Atau mungkin karena Hangga belum ingin menikah dan tidak mau terkekang dalam ikatan sakral pernikahan.
Harum meyakini lambat laun suaminya itu akan menerima pernikahannya. Harum hanya perlu menunggu dan bersabar. Begitu yang ada di benak Harum sebelumnya.
Akan tetapi, kini ia menyadari bahwa hati dan cinta Hangga adalah untuk wanita lain. Pantas saja ia kesulitan untuk menembus benteng hati Hangga yang begitu tebal dan kokoh.
“Hangga juga pasti akan mencintai kamu kalau perempuan itu benar-benar pergi dari kehidupannya," ujar Bu Mirna.
Harum menggelengkan kepalanya. Ia tidak yakin dengan pernyataan ibu mertuanya.
“Biarkan mereka menikah, Bu.” Harum menarik napas panjang untuk mengisi udara di rongga dada yang terasa sesak. Ia berusaha menguatkan diri, tidak mau menjatuhkan air mata lagi barang setetes pun. “Insyaallah saya ikhlas,” lanjutnya.
__ADS_1
“Kamu mau dimadu?” lontar Bu Mirna dengan kening mengerut.
“Insyaallah. Kalau itu bisa menyelamatkan Mas Hangga dari perbuatan dosa," ucap Harum berusaha tegar.