
Harum menyantap mi tek tek dalam diam. Hanya sesekali menjawab “Hemm”, “Ya” atau “Oh”. Sementara Hangga sedari tadi banyak bicara. Berusaha mencairkan sikap Harum yang kini dingin dan pelit senyum. Tidak seperti sikap Harum biasanya.
“Kamu suka mi tek-tek kan, Rum?”
“Hemm.”
“Enak kan mi tek-teknya?”
“Ya.”
“Kamu tahu gak, abang itu jualan dari aku kecil loh.”
“Oh.”
“Iya. Dari aku masih cadel, terus kalau Abang itu lewat, aku teriak, ‘Bang beli nasi goleng’. Terus Abang itu nanti ngeledek, nanya gini, ‘nasgornya pake telor enggak?’ dan aku jawab, ‘iya pake telol’. ‘Telor dadar apa ceplok?’ telol dadal. Hahahaha.” Hangga tertawa terbahak-bahak usai menyerocos.
Harum menatap dingin Hangga yang tengah tergelak dalam tawa. ‘Mana bagian yang lucunya?’ batin Harum sembari melengoskan kembali kepalanya.
Hangga menghentikan tawanya saat menyadari Harum sama sekali tidak tertawa. ‘Kok Harum gak ketawa ya?’ Hangga membatin sembari menggaruk kepalanya.
“Rum, tau ga ayam apa yang paling besar?” Harum menggeleng tanpa menatap Hangga.
“Jawabannya .... ayam semesta. Hahahaha.” Hangga tertawa sendiri. Harum tetap kalem, tidak sedikit pun melirik Hangga.
“Rum, kalau kepiting dipotong namanya apa?” Harum lagi-lagi menggeleng dan tetap fokus menyantap mi tek-tek.
“Jawabannya ... kepotong. Hahahaha.” Lagi-lagi Hangga tertawa sendiri.
Ini Mas Hangga kenapa sih? Apa kesambet jin tol Cikupa. Harum membatin tanpa melirik Hangga.
__ADS_1
Hingga mi tek-tek yang disantap Hangga telah habis, ia tidak berhasil juga membuat Harum tertawa. Jangankan tertawa, tersenyum pun tidak, melirik pun tidak.
Gagal membuat Harum tersenyum membuat Hangga kehausan. Hangga menyambar botol air mineral milik Harum di atas meja. Lalu tanpa sungkan meneguk air mineral dalam botol bekas minum Harum yang masih sisa separuh.
Aksi Hangga itu sontak mendapatkan perhatian Harum.
“Kenapa? Mau minum lagi? Nanti aku ambilkan di kulkas ya. Atau jangan-jangan masih lapar?” lontar Hangga saat memergoki Harum tengah menatapnya.
Harum buru-buru menggelengkan kepala. Perutnya sudah kenyang. Seporsi mi tek-tek telah disantapnya hingga tandas tidak tersisa.
Benar kata Hangga, mi tek-tek itu rasanya patut diacungi dua jempol. Buktinya, Harum yang sudah berhari-hari naf-su makannya menguap, bisa menyantap makanan itu dengan lahap dan tidak rela menyisakan barang sesendok pun.
Malam ini Hangga memperlakukan Harum dengan sangat manis. Mulai dari bibir sang suami yang murah sekali tersenyum, gestur tubuh yang mendadak romantis, mengakui dirinya sebagai istri di depan abang nasi goreng, berusaha melemparkan candaan yang super duper garing, hingga meminum air mineral bekas mulutnya.
Namun, kali ini Harum berjanji untuk membentengi dirinya agar tidak terbuai atas perlakuan manis Hangga. Ia tidak mau kejadian beberapa hari yang lalu terulang kembali. Dijatuhkan ke jurang yang paling dasar setelah diterbangkan setinggi awan itu sakitnya tuh di sini, di sini, di sini, di sini.
“Ini sudah malam. Sebaiknya Mas Hangga antarkan saya pulang ke rumah saya.” Kepalang basah kepergok tengah menatap sang suami, Harum akhirnya melontarkan kalimat tersebut.
“Kita menginap di sini,” sahut Hangga.
“Mas Hangga enggak pulang ke Tangerang?”
“Enggak. Malam ini kita nginap di sini. Besok baru kita ke rumah ibu.”
“Mbak Nata gimana?”
“Nata juga lagi pulang ke rumah neneknya di Jakarta.”
Ya, pulang bekerja sore tadi, Nata juga memilih untuk pulang ke rumah neneknya, tanpa diantar Hangga. Nata pulang bersama Melly yang kebetulan akan mengunjungi kakaknya di Jakarta.
__ADS_1
Awalnya Nata tidak mengizinkan Hangga dan Harum pulang bersama, tetapi karena Hangga mengatakan itu perintah ibundanya, mau tidak mau Nata memberi izin juga. Meskipun dengan sederet pesan dan ancaman yang akhirnya kini dilanggar oleh Hangga.
“Awas kalau kamu sampai nyentuh dia! Awas kalau kamu mengkhianati aku lagi! Aku yang akan pergi ninggalin kamu!” ancam Nata.
Hangga hanya mangut-mangut serta mengiyakan saja pesan Nata. Bagi Hangga, menyentuh Harum bukanlah sebuah pengkhianatan kepada Nata. Tentu saja itu sah karena Harum juga istrinya. Nata mungkin belum memahami hal itu.
Hangga berjanji, pelan dan perlahan ia akan memberikan pengertian kepada Nata agar perempuan yang bertahun-tahun di pacarinya itu memahami posisi serta kewajibannya sebagai suami yang menjalani pernikahan poligami.
Untuk sementara, Hangga hanya mengiya-iyakan saja. Memberikan pengertian tentang poligami pada Nata yang tengah emosi bukanlah langkah yang tepat dilakukannya saat ini.
“Kenapa Mas Hangga enggak temani Mbak Nata pulang?” lontar Harum.
“Karena aku mau temani kamu pulang, Rum.”
“Seharusnya Mas Hangga temani Mbak Nata saja. Kalau saya ‘kan bisa sama Nina.”
“Aku maunya temani kamu,” sahut Hangga mantap.
Harum diam saja, tidak lagi menimpali perkataan Hangga yang terdengar sangat manis itu.
Beberapa jenak keduanya terdiam. Hangga duduk sembari memandangi wajah Harum yang ayu nan teduh. Bayangan perlakuan buruknya selama ini pada Harum melintas di angan. Perempuan pilihan ibunya itu benar-benar penyabar. Harum tidak pernah marah, protes apalagi mencaci maki sikap buruknya. Memberikan rasa sesal yang tiba-tiba hadir menghunjam ke ulu hati Hangga.
“Aku minta maaf soal waktu itu,” ucap Hangga setelah keheningan menyeruak beberapa jenak.
Ucapan maaf mungkin yang paling tepat untuk mengawali perbincangan dirinya bersama Harum.
“Yang kamu bilang sore tadi enggak serius ‘kan? Bahwa kamu mau mundur jadi istri aku, itu enggak serius ‘kan?” lontar Hangga lagi.
“Saya serius, Mas,” sahut Harum yakin
__ADS_1