Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 78


__ADS_3

Harum menuntun Nata menuju sofa ruang tengah. Setelah membaringkan Nata di sofa, ia pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat. Tidak membutuhkan waktu lama, Harum kembali dengan membawa segelas teh jahe hangat dan meletakkannya di atas meja.


“Masih sakit, Kak?” tanya Harum usai mengoles minyak kayu putih di perut Nata.


Nata menjawab dengan anggukan.


“Apa sakit perut mau datang bulan, Kak?”


Nata menggelengkan kepalanya. “Aku udah sering sakit perut begini, hanya saja malam ini terasa lebih sakit,” jawabnya lirih.


‘Hanya saja malam ini terasa lebih sakit’. Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Nata, hati Harum tersentil. Ia merasa punya andil atas kesakitan yang dialami Nata. Bukankah malam ini untuk pertama kalinya Hangga tidur di kamar Harum atas sepengetahuan Nata.


“Kak Nata minum dulu teh jahenya, saya akan bangunkan Mas Hangga. Biar nanti Mas Hangga pindah saja ke kamar Kak Nata,” kata Harum lalu bangun dari duduk.


“Jangan, Rum. Nanti ibu marah,” sahut Nata sembari mencekal lengan Harum.


“Enggak apa-apa, Kak. Biar nanti saya yang bicara sama ibu. Kak Nata sedang sakit, jadi Kak Nata yang lebih butuh untuk ditemani Mas Hangga. Insyaallah Ibu akan mengerti.” Setelah berkata begitu, Harum pergi ke kamar untuk membangunkan Hangga.


“Mas Hangga, bangun!” seru Harum sembari menggoyang-goyang kaki Hangga. Setelah berkali-kali dibangunkan, baru terdengar suara sahutan Hangga.


“Hem.” Hangga menyahut tanpa membuka matanya.


“Mas, bangun dong!”


Hangga memicingkan mata memandang Harum. “Ada apa, Hum?” tanya Hangga dengan suara serak khas bangun tidur.


“Kak Nata sakit, Mas.”


“Nata sakit?”


“Iya, Mas.”


“Sakit beneran atau pura-pura sakit?” tukas Hangga. Mengingat sikap Nata yang tidak pernah rela jika ia berdua bersama Harum, membuat Hangga jadi suudzon kepada istri keduanya itu.

__ADS_1


“Astagfirulloh, jangan begitu, Mas! Ayo cepat tolong Kak Nata.” Harum menarik tangan Hangga agar turun dari kasur.


Hangga menyeret langkah malas mengekor di belakang Harum. Namun, begitu melihat Nata yang terbaring lemas di sofa dengan wajah pucat, ia gegas menghampiri Nata dengan raut cemas.


“Kamu kenapa, Nat? Kok pucat?” tanya Hangga khawatir.


Nata tidak menjawab dengan kata, hanya air matanya saja yang meluruh jatuh.


Hati Hangga langsung mencelus saat tatapannya bertemu dengan sorot mata Nata. Hangga bisa melihat mata sipit Nata menyiratkan kesakitan.


“Kamu sakit, Yang? Apanya yang sakit?” ulang Hangga yang kini telah berjongkok di bawah sofa tempat Nata terbaring lemas.


“Perut Kak Nata sakit katanya, Mas.” Harum yang menjawab pertanyaan Hangga.


Baru Harum berkata begitu, Bu Mirna yang mendengar keributan di ruang tengah, keluar kamar dan menghampiri mereka.


“Ada apa ini?” tanya Bu Mirna.


“Biar Mas Hangga tidur sama Kak Nata saja, Bu,” sela Harum.


“Nata, kamu beneran sakit?” lontar Bu Mirna sembari memandang Nata.


‘Ya Tuhan, apa mereka berpikir aku berbohong,' keluh Nata dalam hati.


“Oke, aku enggak apa-apa,” ujar Nata akhirnya.


Ia yang kesal karena reaksi ibu mertua yang meragukan sakitnya, kemudian bangkit berdiri. Tidak ada gunanya mengeluh sakit di hadapan ibunya Hangga. Nata beranggapan sang ibu mertua memang tidak menyukai dirinya dan hanya menyukai Harum.


Nata berusaha menguatkan diri dengan menahan sakit. Ia hendak pergi ke kamarnya, namun baru dua ayun kakinya melangkah, tubuhnya ambruk. Beruntung Hangga sigap menangkap tubuhnya.


Nata dibawa ke rumah sakit saat itu juga. Perempuan cantik berwajah oriental itu kini terbaring di ranjang rumah sakit dengan tangan terinfus. Harum dan Hangga yang menunggui Nata di rumah sakit.


“Kak Nata makan dulu ya, biar saya yang suapi,” bujuk Harum kepada madunya.

__ADS_1


“Aku gak mau makan, aku maunya pulang,” sahut Nata yang sedari tadi merengek minta pulang, padahal belum setengah hari ia dibawa ke rumah sakit.


“Memangnya perut Kak Nata udah gak sakit lagi?” tanya Harum.


“Yang penting Hangga ada di sisi aku, aku pasti akan selalu sehat, Rum,” jawab Nata.


Bukannya selama ini Mas Hangga memang selalu ada di sisi kamu ya. Ingin sekali Harum berkata begitu.


“Hangga ke mana, Rum?” tanya Nata saat Harum diam saja tidak menanggapi ucapannya.


Baru Nata berkata begitu, pintu ruang kamar perawatan VIP itu dibuka oleh Hangga yang baru keluar menemui perawat.


“Hangga, aku mau pulang!” seru Nata.


"Dokter bilang, kamu belum boleh pulang. Karena ini hari libur, dokternya enggak ada. Hanya ada perawat dan dokter jaga aja. Sabar ya, kita pulang kalau sudah tahu kamu sakit apa,” ujar Hangga.


“Aku udah sehat, Hangga.”


“Kata dokter yang berjaga harus ada pemeriksaan lanjutan seperti USG dan lainnya supaya ketahuan perut kamu sakit karena apa. Dan USG baru bisa dilakukan nanti hari Senin. Kamu sabar dulu. Untuk sementara kamu dirawat dulu di sini.”


Saat masuk rumah sakit dini hari tadi, Nata ditangani oleh dokter jaga. Dokter hanya memberikan terapi infus untuk meredakan rasa nyeri. Nata yang sudah tidak merasakan sakit di perutnya, kini ngotot minta pulang.


“Aku enggak sakit, Hangga. Aku enggak akan sakit selama kamu enggak mengkhianati aku!”


Hangga hanya menarik napas panjang sembari melirik Harum. Ia jadi teringat janjinya pada Harum. Bagaimana kalau dalam waktu satu bulan yang ia janjikan itu tidak ada kemajuan tentang hubungannya bersama Harum. Apakah istri pertamanya itu akan memilih mundur ataukah memilih bersabar dan bertahan?


Gagal membujuk Nata yang terus-terusan merengek minta pulang, Hangga akhirnya membawa Nata pulang ke rumah meski dokter belum mengizinkan istri kedua Hangga itu pulang dan menetapkan status pulang paksa pada pasien.


Sepulangnya Nata ke rumah, Harum memohon pada Bu Mirna agar ibu mertuanya itu mengizinkan Hangga untuk menemani Nata yang kondisinya belum pulih benar.


Nyatanya sampai satu minggu keberadaan Bu Mirna di rumah putranya itu, Hangga tetap menjadi milik Nata seperti biasanya. Dan Harum lagi-lagi harus berbesar hati dan mengikhlaskan.


Hingga kemudian Hangga yang merasa kesulitan untuk memberikan waktunya kepada Harum, berpikir untuk mengajukan cuti dan mengajak Harum berbulan madu tanpa sepengetahuan Nata.

__ADS_1


__ADS_2