
“Hangga! Harum!” seru Nata yang entah sejak kapan telah berdiri di belakang Harum.
Seruan Nata sontak membuat Hangga melepaskan rangkulannya pada Harum.
“Nat, udah pulang?” lontar Hangga senormal mungkin. Kenapa rasanya seperti suami takut istri yang ketahuan selingkuh. Padahal, Harum juga istrinya.
“Kalian lagi apa?” Nata menatap Hangga dan Harum bergantian.
“Aku tadi habis ke kamar mandi. Badan aku masih lemes, jadi aku minta tolong Harum. Malah Harum yang terpeleset,” sahut Hangga sembari menyeret langkahnya menuju tempat tidur.
“Maaf, saya permisi,” ucap Harum di tengah suasana penuh kecanggungan yang terjadi di dalam kamar bernuansa abu-abu itu.
“Oya, Kak, di meja ada bubur kacang hijau untuk Mas Hangga. Kak Nata mau juga enggak? Kalau mau biar saya ambilkan untuk Kak Nata,” tawar Harum.
“Enggak usah, Rum. Nanti lagi saja, aku masih kenyang,” sahut Nata memaksakan senyum.
Setelah mendengar jawaban dari Nata, Harum beranjak pergi meninggalkan kamar Hangga.
“Nat, aku mau bubur kacang. Kamu suapin aku ya,” pinta Hangga.
“Kenapa tadi enggak minta Harum yang suapin kamu,” sahut Nata ketus sembari melemparkan tas kerjanya ke atas sofa.
Hangga menarik napas panjang melihat sikap Nata. Wanita yang sudah lama dipacari olehnya itu memang sangat pencemburu.
“Ya udah, aku makan sendiri aja deh. Aku udah baikan kok,” ucap Hangga memasang tampang sedih.
“Terserah.” Tanpa menoleh pada Hangga, Nata masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
*
Hangga sudah kembali bekerja keesokan harinya. Harum dan Nata juga beraktivitas seperti biasanya. Pagi ini, ketiganya tengah duduk bersama di meja makan menikmati sarapan.
“Kamu hari ini kerja?” lontar Hangga di sela aktivitas sarapan.
Harum mengernyit bingung karena tidak paham pertanyaan yang dilontarkan Hangga itu ditujukan kepada siapa, sebab Hangga bertanya tanpa menyebut nama yang dituju.
“Saya?” tanya Harum ketika menyadari Hangga tengah menatapnya.
“Iya kamu. Kamu hari ini kerja enggak?” ulang Hangga.
“Kerja," sahut Harum singkat.
“Pulangnya malam?” tanya Hangga lagi.
Harum lekas menggelengkan kepalanya. “Enggak. Insya Allah saya pulang sore.”
Sejak Bi Jenah menceritakan soal Hangga yang mencarinya sampai hujan-hujanan, membuat Harum berpikir untuk tidak lagi pulang malam. Ia tidak mau terlarut dalam amarah dan emosi, apalagi jengkel dan dengki.
__ADS_1
Bukankah semua luka yang ia rasakan adalah konsekuensi atas keputusannya yang mengizinkan Hangga menikahi Nata-- wanita yang sangat dicintai suaminya. Sedangkan, semenjak sebelum ada Nata saja, Hangga tidak sedikit pun meliriknya.
Apalagi setelah ada Nata, makin tenggelam lah ia di mata Hangga.
Dan kini Harum sedang membesarkan hati untuk mengikhlaskan bagaimanapun perlakuan Hangga terhadapnya.
“Bagus,” desis Hangga tanpa menatap Harum, tetap fokus pada kegiatan makannya. Sementara kedua istrinya justru kini tengah menatap Hangga bingung.
“Apanya yang bagus? Lagian terserah Harum lah mau pulang malam atau pulang siang,” sambar Nata yang masih merasa jengkel atas kejadian kemarin sore yang memergoki Hangga tengah merangkul Harum.
“Siang ini aku mau ke Bali, Nat. Aku ditugaskan untuk menghadiri workshop di sana. Makanya lebih baik Harum enggak usah pulang malam biar bisa temani kamu,” terang Hangga.
Itu juga yang menjadi alasannya hari ini masuk kerja meskipun tubuhnya masih belum benar-benar fit.
“Berapa hari?” tanya Nata.
“Dua atau tiga hari.”
“Langsung berangkat dari kantor?”
“Enggak, nanti siang pulang dulu, menyiapkan yang mau dibawa.”
“Kamu sendirian ke sana?”
“Enggak lah. Sama rekan satu tim.”
“Maksudnya, apa enggak boleh bawa istri ke sana?” Nata mungkin tidak tahu bahwa Hangga belum melaporkan pernikahannya ke kantor.
“Iya deh. Asal pulangnya bawa oleh-oleh yang banyak.”
“Iya.”
“Ingat beli apa pun harus dua, buatku dan Harum," pesan Nata.
Jika soal materi, Nata memang tidak pernah sungkan untuk berbagi dengan Harum. Tetapi jika tentang perhatian, hati dan cinta, Nata tidak mau dan tidak mampu berbagi dengan istri pertama suaminya itu.
“Iya,” sahut Hangga sembari mengelap bibirnya dengan selembar tisu. Ia menjadi orang yang pertama menghabiskan sarapannya di meja tersebut.
Harum hanya diam menyimak obrolan Hangga dan Nata.
Usai sarapan, Hangga dan Nata berangkat bekerja bersama dengan menggunakan mobil SUV putih yang disopiri sendiri oleh Hangga.
Sedangkan Harum, tidak pernah sekalipun ikut berangkat kerja bersama-sama Hangga dan Nata dikarenakan jadwal buka kedai lebih siang dari jadwal kantor pada umumnya.
Siang hari, Hangga kembali ke rumah untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Bali.
“Loh, kamu enggak ke kedai?” Hangga terkejut saat mendapati Harum yang membukakan pintu untuknya. Padahal, ia mengira Harum tengah bekerja di kedai.
__ADS_1
“Enggak, Mas,” sahut Harum. Semula ia memang berniat pergi bekerja, namun karena mendengar Hangga akan dinas ke luar kota, maka ia mengurungkannya.
Khawatir Hangga membutuhkan dirinya untuk mempersiapkan segala kebutuhan selama di luar kota.
Harum yakin, Hangga belum mempersiapkannya. Dan pasti Nata pun tidak dapat mempersiapkan kebutuhan Hangga karena tengah bekerja.
“Oh.” Hangga bersahut oh sambil berlalu.
“Mas,” panggil Harum saat Hangga hendak menjejakkan kaki ke anak tangga paling dasar.
“Ya.” Hangga mengurungkan langkah, menoleh pada Harum.
“Mau saya bantu berkemas untuk keperluan dinas ke luar kota?” tawar Harum. Inilah yang menjadi alasannya absen bekerja hari ini.
Semoga Hangga mau menerima tawarannya dan mengizinkan membantunya berkemas. Sehingga keputusan Harum bolos kerja hari ini tidak sia-sia.
“Boleh,” sahut Hangga tanpa ragu. “Kopernya ada di kamar atas,” sambungnya. Lalu melanjutkan langkahnya naik ke lantai dua menuju kamar.
Harum tersenyum senang lalu mengekor langkah di belakang Hangga. Sampai di kamar, Hangga menurunkan koper ukuran 20 inchi dari atas lemari.
“Tolong siapkan baju kira-kira untuk tiga hari. Kemeja kerja sama celananya, kaus oblong dan celana pendeknya juga jangan lupa,” pesan Hangga sembari membuka koper.
“Iya, Mas.”
Setelah memberi instruksi pada Harum, Hangga masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tidak berlama-lama, Harum segera mengambil pakaian Hangga dari dalam lemari. Mulai dari baju kerja, baju santai, baju tidur, juga charger. Tidak lupa membawakan obat-obatan untuk Hangga seperti Paracetamol dan Tolak Angin yang masih tergeletak di meja kecil samping tempat tidur. Sebab Harum tahu, suaminya itu belum benar-benar sehat.
“Apa lagi ya?” gumam Harum sembari berpikir, khawatir ada barang yang tertinggal.
Setelah beberapa jenak berpikir, akhirnya Harum menemukan sesuatu yang penting yang belum dimasukkannya ke dalam koper. Namun, Harum malah ragu untuk menyiapkan barang tersebut.
Apakah benda itu harus dirinya yang menyiapkan atau Hangga saja?
Harum berdiri mematung beberapa saat. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Harum membuka kembali lemari pakaian tersebut. Matanya menelisik tumpukan pakaian Hangga untuk menemukan sesuatu yang dicarinya.
Tidak bersusah payah mencari, Harum menemukan barang yang dimaksud. Ia mengulurkan tangan pelan mengambil benda tersebut. Ada desir halus terasa merambat di sekujur tubuh saat Harum menyentuh barang pribadi milik Hangga tersebut.
“Rum.” Suara Hangga dari belakang mengagetkan Harum, sehingga tanpa sadar menjatuhkan benda yang dipegangnya.
Pandangan Hangga dan Harum sontak tertuju pada benda yang terjatuh. Mata Hangga membulat melihat benda tersebut. Seperti seorang gadis yang tengah digoda sang bujang, Hangga seketika merasakan malu-malu.
“Itu biar saya aja,” ucap Hangga kikuk. Lalu lekas memungut benda pribadinya yang tidak lain adalah ce-lana da-lam.
“Makasih udah bantu membereskan pakaian saya,” ucap Hangga berikutnya masih dengan suasana kikuk.
“Iya.” Harum juga menjawab kikuk. “Kalau ada keperluan lain, bilang saja,” katanya lagi. Kemudian pergi meninggalkan kamar Hangga.
__ADS_1
Hangga menatap ce-lana dalam yang digenggamnya saat Harum telah meninggalkan kamar.
“Sial. Bikin keki aja,” umpatnya sembari melemparkan ce-lana dalam ke dalam koper.