
“Saya serius, Mas,” sahut Harum yakin.
Ia memandang wajah lelaki yang dicintainya itu lekat-lekat. Pilihan yang ia lontarkan sore tadi sudah dipikirkannya seminggu ini, sejak kejadian subuh yang memorak-porandakan hatinya.
“Saya sadar posisi saya saat ini. Saya bukan istri yang diinginkan Mas Hangga. Jadi, untuk apa saya bertahan kalau posisi saya justru menyulitkan bahkan menyakiti kita bertiga.” Harum berkata dengan tenang. Intonasi bicaranya berbanding lurus dengan rautnya yang juga tampak begitu tenang.
Padahal saat awal ia berpikir untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai istri Hangga, hatinya merasakan kesedihan dan kepedihan yang begitu mendalam. Harum sampai menangis saat mengingat kebaikan ayah dan ibu mertuanya.
Harum menyadari dirinya tidak mendapatkan cinta dari Hangga. Akan tetapi, ia mendapatkan cinta yang begitu besar dari kedua orangtua Hangga. Bu Mirna dan Pak Hendra begitu menyayanginya dan begitu baik memperlakukannya.
Lalu, jika ia tidak lagi menjadi istri Hangga, apakah Bu Mirna dan Pak Hendra akan tetap menyayanginya? Begitu gundah di hati Harum.
“Kesalahan saya dari awal adalah begitu percaya diri menerima lamaran Ibu dan Ayah. Tanpa berpikir atau bertanya lebih dulu pada Mas Hangga apakah benar Mas Hangga juga menginginkan pernikahan tersebut? Apakah benar Mas Hangga menginginkan saya yang menjadi istri?"
“Waktu itu saya terlalu bahagia. Jujur saja, saya memang sudah mencintai Mas Hangga sejak dulu. Tapi, jika saja saya tahu Mas Hangga tidak mencintai saya dan sudah memiliki kekasih, saya pasti akan menolak lamaran tersebut,” tutur Harum.
Hangga menelan liur mendengar penuturan Harum. Perempuan yang biasanya penurut itu seakan mempunyai kekuatan lebih. Hangga bisa melihat itu dari pancaran mata Harum. Tidak sedikit pun ada keraguan dari sorot mata dan tutur kata per kata yang diucapkan Harum. Istri pertama Hangga itu benar-benar ingin mundur sebagai istri.
“Jangan, Rum. Jangan berpikir untuk berpisah. Tetaplah jadi istri aku,” ucap Hangga penuh permohonan.
__ADS_1
“Kenapa, Mas? Bukannya ini kemauan Mas dari dulu. Waktu di awal nikah Mas selalu bilang, kalau saya enggak terima sama perlakuan Mas, silakan gugat cerai."
"Maafkan aku, Rum. Tapi sekarang aku gak mau kita pisah."
"Kenapa enggak mau pisah, Mas? Keputusan ini baik untuk kita bertiga loh. Tidak akan ada lagi yang merasa tersakiti nantinya.”
“Aku enggak mau kita pisah. Aku mau kamu tetap jadi istri aku. Karena ... aku merasa mulai mencintai kamu, Harum.”
Kalau saja kalimat itu diucapkan Hangga sejak dulu, hati Harum pasti akan buncah bahagia dibuatnya. Pipinya pasti akan merona mendengar ucapan cinta dari sang Arjuna impiannya.
Sayangnya, saat ini semangat Harum untuk mendapatkan cinta Hangga telah meredup, bahkan mungkin mati.
Dua kali mendengar dengan telinga sendiri bahwa Hangga tidak mencintainya, bahkan kalimat itu diucapkan sendiri oleh Hangga, membuat Harum tidak terlena kala mendengar ucapan manis dari bibir Hangga malam ini.
“Aku serius, Rum.”
Harum tersenyum kecil. “Kalau bilang begitu di depan Mbak Nata, apa Mas Hangga berani?” tantangnya.
Hangga terdiam dengan kepala tertunduk. Jakunnya naik turun karena gugup. Ia memang belum berani mengungkapkan cinta untuk Harum di depan Nata. Tetapi, apa yang dikatakannya tadi adalah sebuah kebenaran.
__ADS_1
Ia mulai merasakan benih-benih cinta untuk Harum. Meskipun hatinya masih total mencintai Nata.
“Saya udah dengar semuanya, Mas. Dan itu sangat sakit. Sudah dua kali saya mendengar Mas Hangga mengatakan di depan Mbak Nata kalau Mas itu enggak pernah mencintai saya dan hanya mencintai Mbak Nata. Kalau yang pertama mungkin saya masih bisa memahami, Mas Hangga memang menikahi saya karena ibu. Tetapi, yang kedua rasanya sangat sakit. Saya pikir dini hari itu, apa yang Mas lakukan adalah tentang cinta yang mulai tumbuh, tapi ....”
“Aku minta maaf soal itu,” potong Hangga cepat.
“Aku enggak bermaksud bilang begitu. Aku terpaksa bilang begitu karena enggak mau menyakiti Nata.”
“Enggak mau menyakiti Kak Nata, tapi menyakiti saya.”
“Aku minta maaf.”
“Saya sudah memaafkan semuanya. Termasuk memaafkan diri saya sendiri. Ibu pernah bilang, kalau saya enggak kuat, saya boleh mundur. Dan saya enggak kuat, Mas. Bukan enggak kuat karena terus-terusan disakiti. Tapi, saya enggak kuat melihat begitu banyak kesalahan yang dilakukan Mas Hangga.
Apa Mas tahu, bahwa ada hadis yang bunyinya begini ‘barang siapa yang memiliki dua orang istri lalu dia lebih cenderung kepada salah seorang di antara keduanya, maka dia akan datang pada hari kiamat kelak dengan sebelah tubuhnya miring. Makanya lebih baik saya mundur saja. Sehingga saya enggak lagi tersakiti, Mbak Nata enggak lagi tersakiti. Dan yang paling penting, Mas Hangga enggak terus-terusan berdosa menjalani pernikahan poligami ini.”
“Beri satu kesempatan lagi, Rum. Aku janji akan memperbaikinya. Tapi aku mohon pengertian kamu soal Nata. Aku kenal betul Nata. Dia pencemburu dan cenderung posesif. Apalagi Nata itu seorang mualaf yang belum memahami bagaimana pernikahan poligami itu. Aku janji pelan-pelan akan kasih pengertian kepada Nata. Cepat atau lambat, Nata juga pasti akan paham dan mengerti.
Aku akan berusaha adil, meskipun untuk sementara ini kita harus sembunyi-sembunyi dulu. Aku percaya kamu memiliki hati yang cukup luas untuk menjalani ini.”
__ADS_1
Harum bergeming tanpa suara mendengar kalimat panjang lebar dari bibir Hangga.
“Rum, aku mohon. Kasih waktu sebulan aja. Bersabarlah dalam sebulan ini. Kalau sebulan ini, aku buat kamu kecewa lagi terus kamu memutuskan untuk pergi, aku janji enggak akan menahan kamu lagi." Hangga meraih tangan Harum lalu menggenggamnya erat. “Aku mohon, Rum. Mau ya?” mohonnya dengan penuh kesungguhan.