Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 53


__ADS_3

"Ya Allah,” lirih Hangga sambil meremas kepalanya sesaat setelah Harum masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras. "Maafkan aku, Rum," gumamnya dalam hati.


Berat sekali rasanya melihat dua orang perempuan itu terluka karenanya.


Dengan langkah gontai seperti ditimpa beban yang sangat berat, Hangga pergi ke kamarnya. Ia bertemu dengan Bi Jenah yang tengah terbengong di depan pintu kamar Hangga. Perempuan yang sudah lama mengabdi pada keluarga Hangga itu menyiratkan banyak tanya dalam sorot matanya.


“Bersih-bersihnya udah aja, Bi. Bi Jenah siapin sarapan aja,” ujar Hangga mengusir dengan halus.


Hangga yakin saat masuk kamar nanti, Nata mungkin masih ingin meluapkan emosi kepadanya. Ia tidak ingin Bi Jenah, yang menurut penilaian Hangga adalah “mata-mata” ibunya, mengetahui keributan yang terjadi subuh ini lalu melaporkan kepada ibundanya.


“Iya, Mas,” sahut Bi Jenah patuh, lalu segera berlalu dari hadapan Hangga dan pergi ke dapur.


Hangga menarik napas panjang sebelum tangannya menekan gagang pintu. Saat pintu kamarnya terbuka, ia mendapati Nata tengah memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.


“Loh, apa-apaan ini, Nat?”


Nata tidak menggubris seruan Hangga. Wanita cantik yang masih mengenakan baju tidur dan belum mandi itu melempar pakaiannya ke dalam koper dengan raut wajah penuh amarah.


“Nat, please maaafin aku,” mohon Hangga sembari berusaha menyentuh wanita pujaannya itu.


“Jangan sentuh!” hardik Nata.


“Nat, please. Jangan begini.”


“Aku mau pergi!”


“Jangan, Nat.”


“Kamu udah mengkhianati aku, Hangga! Aku benci kamu.”


“Aku enggak pernah mengkhianati kamu,” bantah Hangga.

__ADS_1


Nata menghentikan aksinya, lalu menatap Hangga dengan tatapan tajam.


“Yang kamu lakukan sama Harum itu bukan pengkhianatan? Hatiku sakit itu bukan pengkhianatan? Aku nangis karena kamu itu bukan pengkhianatan?” cecar Nata.


“Harum juga istri aku, Nat. Kamu juga tahu itu. Aku sama sekali enggak mengkhianati kamu.”


“Hangga, Hangga. Apa kamu enggak sadar bahwa saat kamu menikahi Harum itu artinya kamu udah mengkhianati aku!” ujar Nata judes.


“Aku minta maaf, Nat. Kamu mau marah boleh, yang penting kamu enggak pergi dari aku. Aku cinta kamu, Nat.” Hangga berusaha meraih tubuh Nata ke dalam pelukannya.


“Lepas, jangan sentuh aku! Menjauh dari aku! Aku benci kamu!” hardik Nata sembari memukuli dada Hangga. Lalu memberontak melepaskan diri dari pelukan suaminya.


Setelahnya, air mata Nata meluruh jatuh. Wanita cantik itu menangis sembari bibirnya mengeluarkan kata-kata umpatan kepada pria yang sangat dicintainya itu.


Hangga diam saja tidak membalas makian dan umpatan dari istri keduanya itu. Membiarkan Nata menumpahkan amarahnya. Menunggu hingga tangis dan amarah Nata mereda.


“Maafin aku, Nat. Aku mohon. Aku khilaf,” ucap Hangga setelah dilihatnya emosi Nata mulai mereda.


Dekapan Hangga serta belaian lembut tangan Hangga ibarat penawar bagi amarah Nata. Terbukti, wanita cantik itu kini luluh dan balas memeluk Hangga.


“Jangan kamu ulangi lagi ya,” pinta Nata.


“Iya, Sayang,” sahut Hangga yang masih memeluk perempuan tercintanya.


“Hatiku sakit banget kalau kamu begitu.”


“Maafin aku, Sayang.” Hangga melepas pelukan lalu mengecup semua bagian wajah Nata sembari mengucap kata “maaf” berulang-ulang.


Sebelah hati Hangga merasa lega sebab bisa meluluhkan dan meraih kembali hati Nata. Namun, sebelah hati yang lainnya merasa resah sebab telah menyakiti hati Harum. Ditambah lagi, ia terlewat waktu subuh untuk kedua kalinya.


Beberapa minggu yang lalu, ia terlewat waktu subuh usai menghabiskan malam pertamanya bersama Nata. Dan kini, kembali terlewat waktu subuh usai momen pertamanya dengan Harum.

__ADS_1


"Alangkah banyaknya dosa yang aku lakukan pagi ini," lirih Hangga dalam hati.


*


Hangga benar-benar tidak dapat memusatkan konsentrasinya dalam pekerjaan. Beruntung pekerjaan hari ini tidak banyak. Jaringan komputer dan segala sistem yang menjadi tanggung jawabnya dalam mode aman dan lancar jaya. Tadi, ia hanya melakukan back up data berkala saja. Mem back up data perusahaan secara berkala ini penting dan menjadi bagian dari job desc seorang staf IT seperti Hangga.


Hangga duduk termenung di meja kerjanya. Drama subuh tadi berputar di kepala Hangga.


Mulai dari bayangan paras ayu Harum yang merona di bawah impitannya. Hingga wajah cantik Nata yang meradang penuh emosi.


Rasa bersalah kini memenuhi hati Hangga. Ia merasa bersalah pada Harum atas ucapannya yang kejam di hadapan Nata pagi tadi.


“Apa yang aku lakukan sama Harum itu sebuah kekhilafan.”


Bisa-bisanya kalimat itu keluar dari mulut Hangga yang tidak beradab. Sungguh, ia tidak bermaksud demikian. Tetapi, apa lagi yang dapat dilakukannya kecuali menenangkan Nata dengan cara seperti itu.


Padahal sejujurnya ia sungguh terpesona pada Harum—istri pertama yang ia abaikan selama ini. Sosok Harum dini hari tadi benar-benar telah menyentuh hatinya untuk kemudian menggugah geloranya.


Ia yakin hatinya bahagia. Bukan tertekan, terpaksa apalagi menyesal. Ia sangat menikmati keintimannya bersama Harum. Bahkan sensasi rasanya masih melekat dan menggigit hingga kini.


Tetapi amarah Nata membuat mulutnya tidak terkontrol. Dan celakanya Harum mendengar semuanya.


Seharusnya tadi, saat Nata meluapkan amarah, ia lekas menggiring Nata ke tempat yang jauh dari jangkauan Harum. Baru kemudian menenangkan Nata dengan kalimat-kalimat bualan yang tidak sesuai dengan kenyataan.


Berbohong sedikit tidak apalah yang penting Nata tidak berpikir untuk pergi. Bagaimana pun ia sangat mencintai Nata.


Hangga memijit pelipisnya, berusaha mengurai beban pikirannya.


“Maafkan aku, Rum. Maafkan aku, Nata,” lirihnya.


Berpoligami memang tidak mudah. Tidak semudah pria memuntahkan sper*a pada lu-bang wanita.

__ADS_1


Dan Hangga mengamini pernyataan tersebut.


__ADS_2