
Inara menatap pantulan wajahnya dari kaca spion dalam mobil. Berantakan macam orang gila, namun masih terlihat cantik-cantiknya, kinyis-kinyisnya serta unyu-unyunya. Matanya yang indah menjadi tampak aneh dan tidak simetris sebab bulu mata anti badai yang menghiasi sebelah matanya jatuh meluruh bersamaan jatuhnya ikrar putus dari sang kekasih.
“Dasar si Dery jelek! Huaaa ... Huaaa ....” Di dalam mobil, Inara kembali melanjutkan tangisannya sembari tangannya memukul-mukul setir mobil dan mulutnya terus mengumpat nama sang kekasih yang kini telah menjadi mantan.
Sesaat kemudian, sorot matanya jatuh pada benda yang melingkar cantik di jari manisnya. Inara menatap nanar benda yang pernah menjadi bukti keseriusan hubungannya bersama Dery. Masih terekam jelas di memorinya, senyum dan tatapan penuh cinta Dery saat menyematkan cincin emas putih bermata tersebut di jari manisnya, setahun yang lalu. Kala itu mereka berikrar untuk melangkah ke jenjang pernikahan pada tahun berikutnya, yang berarti adalah tahun ini. Akan tetapi, yang terjadi kini malah Dery memutuskan hubungan percintaan mereka dengan alasan yang tidak masuk akal pula. Meyakini bahwa Inara adalah gadis pembawa sial.
Dengan bersungut-sungut, Inara yang hatinya tengah meradang penuh luka melepas cincin tersebut lalu melemparkannya ke belakang sembari mengumpat.
“DERY KAMPRET!” Inara berteriak penuh emosi. Beruntung dirinya tengah berada di dalam mobil, sehingga tidak ada yang mendengar teriakannya.
“Buat apa kamu beliin cincin kalau ujung-ujungnya putus!” Inara mengoceh sendiri.
Setahun yang lalu, Inara bahagia luar biasa karena Dery membelikannya cincin seharga enam juta ....
Eh, tunggu. Enam juta itu lumayan loh. Bisa untuk mentraktir cilok buat se-RT, se-RW dan sejomblo sepenanggungan. Seketika Inara merasa menyesal telah membuang cincin seharga enam juta tersebut.
“Aish. Ngapain dibuang itu cincin.” Inara yang tengah berada dalam posisi duduk di belakang kemudi, lalu memutar tubuh dan melongok kepalanya ke bagian jok belakang. Karena sorot mata indahnya tidak dapat menemukan benda yang dicari, ia pun lekas turun dari mobil.
__ADS_1
Membuka pintu tengah mobil, Inara kembali mencari cincin yang pernah menjadi tanda pengikat alias cincin tunangan dirinya dan si Kampret, eh Dery maksudnya.
Susah juga ternyata mencari benda kecil yang tadi telah dibuang setengah hati, dan kini ingin ditemukan setengah mati. Bukan karena sayang sama cincinnya apalagi sama yang ngasihnya, Inara cuma sayang sama enam jutanya. Kan, udah bilang tadi, lumayan buat beli cilok plus gerobaknya sekaligus sama si abangnya. Kali aja abang ciloknya ganteng kayak Song Jong Ki, sehingga Inara tiada ragu akan menyeretnya ke KUA.
Setelah mengobrak-abrik dan berhuru-hara di jok belakang mobil, syukurlah benda kecil itu akhirnya berhasil ditemukan. Nyelip di bawah sandal jepit yang tergeletak di bawah jok.
Jedug
“Adaw.” Inara yang hendak menarik kepalanya keluar malah kejedot bagian atas pintu mobil.
“Si*al!” umpatnya sembari mengelus kepala yang pastinya sedikit benjol.
Namun, dalam hitungan nol koma nol nol nol nol nol nol nol nol detik, sebuah motor yang ditumpangi oleh dua orang pria melesat cepat di sampingnya.
Set ... Wush.
Bruk.
__ADS_1
Tubuh ramping Inara terhuyung membentur body mobilnya sendiri. Dengan kesigapan mental yang luar biasa paripurna, perempuan yang masih kinyis-kinyis di usia tiga puluh itu segera bangkit dan mengembalikan kesadaran dalam mode sesadar-sadarnya.
“Woy, Jambret! Cincin gue!” teriak Inara setelah menyadari cincinnya dirampas oleh dua pria pengendara motor itu. Naas, motor tersebut secepat kilat telah menghilang dari pandangannya.
“Si*al!” Lagi-lagi Inara mengumpat.
Bayangan segunung bulatan cilok isi telur dengan sambal kacang yang menggugah selera berkelebat di hati dan pikiran hingga menorehkan sesak yang teramat dalam.
“Ya Tuhan, kenapa aku sial begini,” lirihnya sembari meremas rambut indah ala Pantene.
“Apakah yang dikatakan Gery bahwa aku adalah pembawa sial itu benar?” gumamnya sembari berdiri tertegun.
Pada akhirnya Inara pun terpengaruh oleh ucapan peramal gendeng bahwa dirinya itu pembawa sial. Perempuan cantik yang berprofesi sebagai dokter itu bahkan memutuskan untuk pergi ke Afrika menjadi dokter relawan di sana. Ia ingin hidupnya lebih bermanfaat untuk banyak orang sekaligus berharap kutukannya sebagai perempuan pembawa sial akan musnah.
Sepulang dari Afrika, dua tahun kemudian, ia dikejutkan dengan kabar menyedihkan dari Natalia Friska Wayong, sepupunya yang meninggal dunia karena kanker rahim. Dan Inara tidak menyangka, acara takziah untuk melepas kepergian sang sepupu justru mempertemukannya dengan Yuda yang ia sebut sebagai 'cinta gorila' saat masa awal kuliah dulu.
Jika cinta-cintaan saat masa sekolah ia sebut dengan 'cinta monyet' maka cinta-cintaan saat masa kuliah ia sebut dengan 'cinta gorila'.
__ADS_1
Apakah pertemuannya dengan Yuda adalah sekedar kebetulan atau justru campur tangan semesta. Apakah Yuda adalah pria yang dikirimkan Tuhan untuk menghapus kutukannya sebagai perempuan pembawa sial?
Inara tidak tahu. Yang ia tahu, Yuda sangat mencintai Ranum. Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan posisi Ranum di hati pria yang dulu pernah sangat dipujanya.