
“Kalau begitu, apakah bisa kita segera menikah saja, Mas?”
Kalimat yang diucapkan Harum membuat Yuda belum bisa memejamkan mata, padahal penunjuk waktu sudah menunjukkan hampir pukul 02.00 dini hari. Sejujurnya, Yuda belum siap menikahi Harum dalam waktu dekat seperti yang diminta Harum. Akan tetapi, kehadiran Hangga yang kini telah diketahui sebagai mantan suami Harum cukup membuat hati Yuda resah.
Yuda khawatir jikalau ia tidak segera menikah dengan Harum, pengasuh terbaik putrinya itu akan berubah pikiran lalu mengubah keputusan untuk kembali bersama sang mantan suami. Apalagi melihat kondisi Nata yang belum mengalami kemajuan. Ditambah lagi cinta Hangga kepada Harum bisa Yuda lihat jelas dari sorot mata pria tampan dengan berewok tipis itu.
Esok harinya, Yuda bangun kesiangan. Pukul 08.30 papinya Harum itu baru selesai mandi.
“Harum ke mana, Bu?” tanya Yuda setelah masuk ke kamar putrinya dan tidak mendapati Harum kecil di sana.
“Yuda, Yuda. Memangnya sekarang jam berapa? Ini udah siang loh! Harum ya udah berangkat sekolah,” sahut Bu Yusma yang tengah duduk di meja makan hendak menemani Yuda sarapan.
“Makanya kamu tuh bangun subuh, biar solat Subuh. Malu dong sama anakmu. Anakmu aja setiap subuh solat loh diajak sama Harum,” cerocos perempuan paruh baya berkacamata itu.
“Kalau Yuda mau solat, Yuda maunya solat karena kemauan hati Yuda sendiri. Bukan karena disuruh ibu, bukan karena malu sama anak, apalagi karena alasan orang lain,” kilah Yuda.
“Nah, yang begini ini. Karena kamu modelnya begini, ibu enggak yakin kalau Harum mau menerima kamu andai kamu melamarnya," celetuk Bu Yusma.
Yuda menarik lagi tangannya yang sudah terulur hendak mengambil roti. Tangannya bersidekap di atas meja, sedangkan matanya fokus menatap sang ibunda. “Yuda udah melamar Harum, Bu. Dan Harum udah menerima lamaran Yuda.”
Bu Yusma membelalakkan mata menatap Yuda. “Kamu serius, Yuda?”
“Hem.”
“Alhamdulilah, ibu senang dengarnya. Terus, kalian kapan mau menikah?” tanya Bu Yusma antusias. Tampak sekali raut bahagia terpancar dari wajahnya. Setelah enam tahun menduda, akhirnya sang putra semata wayang itu mau juga melamar seorang perempuan.
“Masalahnya, Harum belum mengurus surat perceraian dengan mantan suaminya. Dan sekarang mantan suaminya itu sedang fokus mengurus istrinya yang tengah dirawat di rumah sakit tempat Yuda berdinas. Istrinya itu pasien Yuda, pasien kanker serviks stadium akhir.”
“Innalilahi.” Bu Yusma meletakkan tangannya di dada karena trenyuh mendengar cerita Yuda. Siapa pun akan trenyuh kala mendengar kisah seseorang yang menderita penyakit berisiko kematian itu. “Lantas, rencana kamu apa, Yuda?”
“Yuda bingung, Bu. Yuda takut kalau Harum bakal mengubah keputusan, membatalkan lamaran Yuda dan kembali ke mantan suaminya.”
“Kalau begitu, kamu cepat nikahi Harum.”
“Mengurus proses perceraian itu enggak bisa cepat, Bu. Apalagi harus mengurusnya ke kota tempat Harum melangsungkan pernikahan dulu.”
Bu Yusma terdiam sejenak seperti tengah berpikir. “Bagaimana kalau kamu sahkan saja dulu Harum jadi istrimu. Kalian bisa menikah siri dulu. Yang penting sah secara agama. Toh secara agama, status Harum itu sudah bercerai dari mantan suaminya dan sudah lewat masa idah juga.”
“Nikah siri?”
“Iya, kalian bisa mengurus perceraian Harum dengan mantan suaminya, nanti belakangan. Kalau urusan perceraian sudah beres, baru kalian mendaftarkan pernikahan kalian secara hukum,” usul Bu Yusma. “Tapi kamu harus bicarakan dulu sama Harum. Kalau Harum setuju dengan usul ibu, kalian bisa menikah secepatnya. Minggu depan kalau bisa.”
“Tapi, sejujurnya Yuda masih ragu.”
__ADS_1
“Ragu kenapa lagi?”
“Karena ... Yuda enggak cinta sama Harum.”
“Kamu memang enggak akan bisa mencintai perempuan lain, kalau kamu belum ikhlas melupakan Ranum. Sudahlah lah Yuda, Ranum sudah tenang di sana. Ibu yakin, andai Ranum dikasih kesempatan untuk bisa berkomunikasi sama kamu, yang akan pertama kali ia katakan adalah menyuruhmu untuk menikah lagi. Ranum pasti tidak suka melihat kamu tenggelam dalam keterpurukan. Ranum pasti ingin ada seseorang yang bisa menggantikan posisinya untuk merawat anaknya."
Yuda bergeming. Hatinya selalu bergetar jika membahas soal Ranum.
“Meskipun sekarang kamu belum cinta sama Harum, ibu yakin jika kalian menikah, cinta itu akan hadir dengan sendirinya.”
*
Baru satu kali melakukan pengobatan, Nata memutuskan untuk menyerah dan menolak melanjutkan pengobatan lanjutan. Tubuhnya tidak sanggup untuk menerima efak samping terapi pengobatan yang membuatnya tidak berdaya.
“Semangat atuh, Yang. Dulu kamu bisa menjalani semua tahapan pengobatan, sekarang pun kamu pasti bisa,” bujuk Hangga agar Nata mau melanjutkan pengobatannya.
“Enggak, Hangga. Aku udah enggak kuat,” sahut Nata lirih dengan pandangannya kosong ke depan.
“Kita ini di sini adalah pasien BPJS. Tadi perawat bilang sama aku, kalau pasien BPJS harus nurut dan mengikuti segala macam pengobatan yang disarankan dokter. Terus kalau kamu menolak begini, berarti kamu enggak bisa terus dirawat di sini. Mau enggak mau kita harus pulang. Statusnya pasien pulang paksa.”
“Aku udah enggak kuat, Hangga. Aku ingin pulang. Aku udah jenuh tinggal di rumah sakit ini.”
“Kalau kamu pulang, terus gimana ....”
“Nata, kamu enggak boleh bilang begitu ah,” kata Hangga dengan ekspresi meringis menahan tangis.
“Hangga, aku minta maaf atas semua kesalahanku.”
“Kamu udah sering bilang begitu. Aku udah bilang berkali-kali, kamu enggak salah. Aku yang salah, aku yang minta maaf. Jangan pernah minta maaf lagi, karena enggak ada yang harus dimaafkan.”
“Maafkan aku karena belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu.”
“Aku juga belum bisa menjadi suami yang terbaik buat kamu. Aku yang minta maaf.”
“Kamu suami terbaik, Hangga. Aku sangat bersyukur memiliki suami seperti kamu. Terima kasih untuk waktu delapan tahun yang sudah kita lalui bersama. Terima kasih karena selama delapan tahun kamu mau bertahan bersama aku. Terima kasih karena selama delapan tahun kamu selalu memaklumi keegoisanku. Terima kisah karena kamu tetap menyayangi aku, meskipun cinta kamu ke aku sebenarnya udah enggak ada. Terima kasih karena sudah mau merawat aku yang sakit selama dua tahun ini. Terima kasih banyak, Hangga."
“Kamu ngomong apa sih, Nata.”
“Maaf karena ternyata aku enggak bisa menebus kesalahan aku. Aku yang udah memisahkan kamu dan Harum. Dan pada akhirnya aku gagal menyatukan kalian kembali. Aku gagal mengembalikan cinta kamu dan Harum.”
“Aku sayang kamu, Nata. Aku sayang kamu.” Hangga menghambur memeluk istrinya dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
“Aku cinta kamu, Hangga. Sangat mencintai kamu,” ucap Nata lirih sembari mengusap punggung Hangga.
__ADS_1
Saat pasangan suami istri itu masih berpelukan erat dalam Isak tangis, seorang perawat datang masuk ke kamar perawatan Nata. “Maaf, Bapak, Ibu.”
“Iya, Sus,” sahut Hangga setelah mengurai pelukannya.
“Maaf mengganggu ya, Pak, Bu. Oya, Bu Nata jadi mau pulang?”
“Iya, Sus. Istri saya minta pulang saja. Mau rawat jalan saja katanya.”
“Oke, kalau begitu Bapak harus menandatangani surat keterangan pulang paksa dulu ya, Pak.”
“Baik, Sus.”
“Tapi sebelumnya, Bapak temui dokter Yuda dulu di ....” Baru selesai berkata begitu, dokter yang dimaksud malah telah datang dan berdiri di dekat mereka. “Eh, ini dokter Yuda nya datang.”
“Saya mau cek kondisi Bu Nata. Kamu siapkan saja surat pengantar pulang untuk pasien atas nama Bu Nata,” titah Yuda kepada sang perawat.
“Baik, Dok.” Perawat itu patuh mengikuti instruksi Yuda.
“Siang, Bu Nata. Bagaimana nih kabarnya?” sapa Yuda menguntai senyum.
“Kabar saya begini-begini saja, Dok. Menyiapkan diri menyambut kematian yang pasti akan menjemput saya.”
“Ish, Bu Nata kok pesimis begini sih? Ini bukan seperti Bu Nata yang dulu saya pernah ketemu dua tahun yang lalu. Bu Nata yang dulu orangnya semangat.” Nata hanya tersenyum menanggapi perkataan dokter baik hati itu.
“Istri saya minta pulang terus, Dok,” sela Hangga.
“Pulang ke mana? Ke Tangerang?”
“Enggak, Dok. istri saya maunya berobat jalan aja. Jadi, kami menyewa rumah di dekat rumah sakit ini agar jika terjadi sesuatu dengan istri saya, saya bisa cepat membawanya ke rumah sakit ini. Dan semoga dokter Yuda selalu siapa membantu istri saya.”
“Pasti, pasti. Saya akan siap membantu Bu Nata dan Pak Hangga,” sahut Yuda mangut-mangut. “Kalau terjadi sesuatu dengan Bu Nata tidak usah sungkan untuk menghubungi saya.”
“Baik, Dok. Kami juga mau mengucapkan terima kasih banyak kepada dokter Yuda karena sudah banyak membantu kami selama ini.”
“Sama-sama, Pak. Itu sudah menjadi tugas saya.”
“Dok, Harum ke mana? Sudah dua hari Harum enggak berkunjung ke sini,” tanya Nata lirih.
“Harum sedang menemani putri saya di sekolah. Biasa lah anak TK, banyak kegiatan.”
“Salam buat Harum, Dok. Semoga Harum juga mau mengunjungi saya di rumah.”
“Nanti saya sampaikan sama Harum. Sekalian saya juga mau menyampaikan kepada Pak Hangga dan Bu Nata bahwa minggu depan saya dan Harum akan menikah.”
__ADS_1