Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 45


__ADS_3

Harum tengah duduk di sofa ruang televisi saat terdengar dering ponselnya. Ia sengaja duduk di sana untuk menunggu Hangga. Khawatir Hangga kembali membutuhkan bantuannya untuk mempersiapkan keberangkatan ke Bali.


Menatap ponsel, kening Harum mengernyit. Ada panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenalnya. Panggilan telepon melalui aplikasi warna hijau itu menampilkan foto profil pemandangan pantai dengan sunset yang indah.


Saat dering kelima, Harum memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.


“Assalamualaikum, Dek Harum,” sapa pria di ujung telepon.


“Waalaikum salam, Mas Arya.” Tanpa perlu berpikir keras, dari suaranya, Harum sudah mengenali pria si penelepon.


“Maaf ya, Dek. Aku lancang telepon. Habisnya udah dua kali datang ke kedai, enggak ketemu kamu. Kata Nina, kamu udah dua hari bolos kerja. Bandel juga ya kamu berani bolos kerja,” cerocos Arya.


Arya tidak tahu saja bahwa Harum adalah menantu dari pemilik kedai, sehingga tidak ada larangan untuk mengubah jadwal kerja atau hari libur sesukanya. Meskipun Harum tidak akan melakukannya, kecuali ada hal mendesak seperti kemarin saat suami sakit dan hari ini karena mempersiapkan keperluan dinas suaminya.


“Memangnya ada apa Mas Arya mencari saya ke kedai?” tanya Harum. Perasaan ia tidak mempunyai janji apalagi hutang dengan pria tersebut.


“Mau nanya, gimana review-nya?” jawab Arya. Sengaja ia menelepon Harum untuk menanyakan hal tersebut. Memilih menelepon di siang hari, karena berpikir jika di jam tersebut, suami Harum pasti masih di kantor.


“Review apa, Mas?”


“Bakso selimut hati.”


“Oh, itu.” Harum tertawa kecil.


“Udah nyobain baksonya ‘kan?”


“Udah, Mas. Enak kok,” jawab Harum jujur.


“Alhamdulillah. Kalau enak mau saya luncurkan segera.”


“Semoga banyak peminatnya, Mas. Dan terima kasih baksonya.”


“Iya, sama-sama, Dek. Terima kasih juga udah kasih review.”


“Kembali kasih, Mas Arya.”


“Sekali lagi mohon maaf ya, Dek, kalau mengganggu,” pungkas Arya lalu mengakhiri panggilannya dengan mengucap salam. “Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam.” Telepon terputus setelah Harum menjawab salam.


Dari balik dinding, Hangga berdiri menguping sejak tadi.


‘Kenapa Harum jadi dekat sama Arya? Sejak kapan mereka dekat?’ Pertanyaan Hangga dalam hati.

__ADS_1


‘Mungkin aku harus menanyakannya ke Nata. Tapi kalau bertanya sama Nata, yang ada Nata akan salah paham’ gumamnya dalam hati.


“Mas Hangga mau makan siang dulu?” Hangga terkejut sebab tiba-tiba Harum sudah berdiri di hadapannya dan menawarkan makan siang.


“Oh, enggak usah. Saya buru-buru. Lagi pula tadi udah makan di kantor,” sahut Hangga sembari menyeret kopernya.


Harum mengangguk kecil sembari menatap langkah Hangga. Kemudian ia berjalan pelan mengikuti Hangga. Seperti layaknya seorang istri, ia ingin mengantarkan kepergian suaminya.


Semoga suaminya itu tidak keberatan.


“Mas Hangga,” panggil Harum sesaat sebelum Hangga masuk ke dalam mobil.


“Ya.”


Harum berjalan mendekati Hangga, kemudian lekas meraih tangannya untuk salim. “Hati-hati, Mas.”


Hangga tercenung sejenak, kemudian mengangguk kecil. Setelahnya, ia naik ke mobil. Duduk di belakang setir, ia melirik Harum yang masih setia berdiri di depan teras.


“Rum, tolong temani Nata selama saya di Bali," pinta Hangga sebelum melajukan mobilnya.


“Iya, Mas,” sahut Harum.


Setelahnya, Hangga melajukan mobil. Harum berdiri setia memandangi kepergian Hangga. Sampai bayangan mobil SUV putih itu pergi menghilang, baru ia masuk ke dalam rumah.


Hari telah beranjak malam. Nata berbaring sendirian di kamarnya. Setelah terbiasa tidur di dampingi sang suami, Nata merasa kesepian tanpa Hangga.


Untuk mengusir sepi, Nata mencoba melakukan panggilan video ke nomor Hangga. Namun sayang, Hangga tidak menjawab panggilannya. Beberapa pesan yang dikirimkannya sejak petang juga masih centang abu-abu dua.


‘Sesibuk apa sih sampai Hangga tidak bisa menjawab panggilan video dan membalas pesan.’ Nata mengeluh dalam hati.


Kemudian ia berpikir untuk pergi menemui Harum. Nata turun ke lantai bawah dengan membawa ponsel di tangannya. Suasana di lantai bawah telah sunyi. Televisi sudah dimatikan, beberapa lampu juga sudah dipadamkan. Bi Jenah sudah pergi ke kamar, mungkin sudah tidur.


Nata mengetuk pintu kamar Harum. “Rum,” panggilnya seraya mengetuk pintu.


Tidak menunggu lama, Harum yang tengah menyisir rambut di depan cermin, membuka pintu kamarnya. Ia cukup terkejut saat melihat Nata berdiri di depan kamarnya.


Semula Harum mengira Bi Jenah yang memanggilnya.


Seperti Harum, Nata pun tampak terkejut. Lebih tepatnya terpana melihat penampilan Harum yang tidak biasa. Harum tampil tanpa memakai jilbab, membiarkan rambut hitam lurusnya tergerai.


Harum terlihat lebih cantik dengan tampilan tersebut. Hati Nata mengakuinya.


“Belum tidur, Rum?” lontar Nata setelah tertegun beberapa saat.

__ADS_1


“Belum, Kak.”


“Aku enggak ada teman ngobrol,” ujar Nata malu-malu.


Harum tertawa kecil. “Ayo, ngobrol sama saya aja,” sahutnya ramah.


“Aku boleh masuk?”


“Boleh dong. Ayo!” Harum mempersilakan madunya masuk.


Nata masuk ke dalam kamar Harum. Ini adalah kali pertama Nata masuk ke kamar tersebut. Begitu masuk, pandangan Nata menyapu ruang sekeliling kamar.


Kamar Harum jauh lebih kecil dari kamarnya dan Hangga, namun tampak rapi, bersih dan wangi.


“Kamarnya harum, kayak orangnya,” kata Nata seraya menghempaskan bokong ke atas kasur ukuran 160x200, dan meletakkan ponsel di atasnya.


Harum tersenyum kecil mendengar pujian madunya.


Kemudian Nata berdiri dan mulai menjelajahi setiap hal menarik yang ada pada kamar Harum dan menanyakannya. Di mulai dari meja rias yang tampak sepi, tidak banyak jenis kosmetik yang berjejer di sana. Hanya ada satu buah lipstik, compact powder, pembersih wajah dan penyegar salah satu merek lokal, bedak bayi dan parfum.


“Kamu pakai skin care apa, Rum?” tanya Nata sembari mencium parfum milik Harum yang disemprotkan di pergelangan tangannya.


Harum tertawa kecil. “Saya enggak pakai skin care, Kak.”


“Masa sih?” Nata yang tengah membaca label informasi produk pembersih wajah yang dipegangnya, menoleh sekilas pada Harum yang berdiri di sampingnya.


“Iya. Saya enggak ngerti juga sih sama produk skin care. Daripada enggak cocok mending enggak usah pakai. Sayang juga uangnya, mending ditabung," sahut Harum apa adanya.


“Meski enggak pakai skin care, kamu cantik, Rum,” puji Nata jujur.


“Kak Nata juga cantik,” balas Harum.


Nata tersenyum tanpa membalas ucapan Harum. Kemudian pandangannya beralih pada sebuah pigura foto yang terpaku di dinding samping tempat tidur. Foto seorang pria dan wanita serta anak kecil yang ternyata adalah foto masa kecil Harum bersama kedua orangtuanya.


Dari sana mereka mulai saling bercerita. Nata baru tahu kalau Harum sudah yatim piatu sejak kecil. Kemudian Nata juga mulai bercerita tentang dirinya dan keluarganya. Nata sendiri juga anak piatu. Kisahnya mirip dengan Harum yang sejak kecil diasuh oleh neneknya.


Satu hal yang disadari Nata setelah melihat isi kamar Harum, yaitu tidak ada foto pernikahan Harum bersama Hangga di kamar tersebut.


Sebelumnya, ia sempat menduga Harum mungkin memajang foto pernikahan di kamarnya.


Duduk bersandar di kepala ranjang sambil memeluk bantal, mereka mengobrol segala hal terutama soal hal yang disukai wanita. Sesekali diselingi tawa renyah sampai tawa heboh keduanya.


Kedua wanita cantik itu tengah mengobrol seru tentang sebuah judul drakor zaman dahulu yang pernah ditontonnya, kemudian obrolan mereka terinterupsi oleh dering ponsel Nata.

__ADS_1


Nata meraih ponsel yang tergeletak di kasur. Senyumnya mengembang saat melihat nomor si penelepon. “Telepon dari Mas Hangga,” beritahunya pada Harum.


__ADS_2