Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 84


__ADS_3

Hangga tersenyum lebar saat melihat Harum berjalan menghampirinya. Hangga bisa melihat perempuan ayu yang memakai gamis overall warna dusty pink, dengan warna dalaman pink muda senada dengan jilbabnya itu tampak tersipu dan merona. Hangga selalu senang melihat pipi Harum yang merona seperti itu. Gemas, ingin nyubit.


Pandangan Hangga kembali tertuju pada pakaian yang dikenakan Harum. Hangga ingat gamis itu adalah pakaian pertama dan satu-satunya yang pernah dibelinya bersama Harum saat malam sebelum pernikahannya bersama Harum terbongkar oleh Nata. Saat dirinya belum memiliki perasaan kepada Harum seperti saat ini.


Andai saja saat itu Hangga sudah memiliki rasa yang dalam kepada Harum seperti saat ini, apakah mungkin ia akan melepas dan melupakan Nata? Ataukah ia tetap akan menikahi Nata yang telah dipacarinya bertahun-tahun?


Hangga yakin perasaannya kepada Harum saat ini adalah CINTA. Kalau bukan cinta, mana mungkin ia begitu merasakan bahagia meskipun tidak dapat merajut has rat dengan perempuan berwajah teduh tersebut. Baginya kini, melihat senyum Harum saja, hatinya sudah berdesir bahagia.


Perasaan tersebut sama persis seperti yang dirasakannya saat awal-awal menjalin hubungan cinta bersama Nata.


“Mas Hangga apa-apaan sih, pakai bikin pengumuman di pusat informasi segala,” tegur Harum. Padahal sesungguhnya di lubuk hati terdalam, ia merasa berbunga-bunga karena perlakuan random Hangga tersebut.


“Karena mas takut kehilanganmu, Hum.” Hangga mencubit gemas pipi Harum yang bersemu merah. “Takut kamu lupa, enggak balik lagi ke sini,” sambungnya.


Ucapan Hangga membuat pipi Harum semakin memerah saja. Membuat Hangga kembali menyosor ingin mencium, tetapi gagal karena Harum lekas menghindar.


“Jangan, Mas. Meskipun halal sebaiknya tidak bermesraan di depan umum,” cegah Harum.


“Ciye, maunya bermesraan di kamar ya.” Hangga malah menggoda Harum.


“Ish.” Harum mencebik.


Setelahnya, Hangga mengajak Harum ke sebuah kafe dalam mal tersebut.


“Kamu beli apa buat mas?” tanya Hangga sembari menikmati ice coffee Vietnam pesanannya.


Harum yang tengah menyendok dark chocolate ice cream, menghentikan sejenak kegiatannya lalu mengambil barang kenangan yang dibelinya tadi dari dalam tas.


“Ini.” Harum menunjukkan gelang khas Bali dengan senyum merekah.


“Apa ini?” Hangga mengambil salah satu gelang dan mengamatinya.


“Anggap aja ini gelang perdamaian. Ini untuk kita bertiga. Untuk Mas Hangga, untuk Kak Nata dan juga saya.”


“Gelang Bali ya? Keren ini,” ucap Hangga antusias dan langsung memakai gelang itu di tangan kirinya.


“Mas suka?”


“Suka dong. Makasih ya, Harum Sayang.” Hangga mencubit gemas pipi Harum seperti biasanya. ”Tapi Nata enggak usah dikasih deh, khawatir jadi masalah,” sambungnya.


Harum mengangguk setuju. “Terus Mas Hangga beli apa buat saya?”


“Sebentar.” Hangga mengambil paper bag yang diletakkan di kursi kosong sebelahnya lalu mengeluarkan isinya. “Taraaaaa. Mas beli kembaran kamu dong,” ucapnya semringah.


Harum memandang benda yang ditunjukkan Hangga kepadanya dengan raut bingung. “Ini? Boneka Barbie?”


“Hem.”


“Kenapa boneka Barbie, Mas?”


“Ini tuh kembaran kamu, Harum Sayang. Nanti kalau mas kangen sama kamu, sementara mas enggak bisa dekat kamu, mas mau pandangin ini aja,” kata Hangga antusias.


Harum mengambil boneka Barbie versi muslimah dari tangan Hangga lalu memandanginya. “Memangnya ini mirip aku, Mas?”


“Hem. Kamu itu cantik banget kayak Barbie. Tapi lebih cantik kamu sih. Oya, mas beli dua. Satu buat kamu, satu buat mas. Kamu pilih yang mana?”

__ADS_1


Harum memandangi dua buah boneka berbentuk perempuan berhijab tersebut. Satu buah boneka Barbie tampak cantik dengan gaun pengantin warna putih dan hijab di kepalanya. Sementara yang satu lagi, Barbie tersebut mengenakan gamis batik lengkap dengan jilbabnya.


Apa iya aku secantik ini? Batin Harum.


“Mas pilih yang ini aja deh,” putus Hangga sebelum Harum menjawab tawarannya.


Hangga mengambil boneka Barbie yang mengenakan gamis batik. Ia punya kenangan buruk melihat Barbie dengan gaun pengantin sebab jadi teringat dosa-dosanya pada Harum. Di mana saat Harum jadi pengantin dulu, ia malah mengabaikannya.


*


Hangga baru saja menggelar sajadah hendak menunaikan salat Magrib saat Harum yang baru keluar dari kamar mandi menyerunya. “Mas Hangga, tunggu! Kita berjamaah, ya.”


Hangga menatap Harum yang masih menggunakan handuk kimono dengan tampilan rambut yang basah.


“Udah mulai solat?” tanya Hangga yang dijawab anggukan oleh Harum.


“Yes, yes, yes.” Hangga berseru girang, sementara Harum tersenyum tersipu.


Kemudian pasangan suami istri itu melaksanakan salat Magrib berjamaah. Ada desiran bahagia yang menjalari hati Harum kala mengingat ini adalah salat berjamaah pertamanya bersama Hangga. Ibadah bersama suami adalah salah satu impian Harum, dan akhirnya terwujud juga di usia tiga bulan pernikahannya.


Semoga ke depannya, ia bisa sering melaksanakan salat berjamaah bersama suami. Begitu harapan Harum.


“Alhamdulillah,” ucap Hangga saat Harum mengecup takzim punggung tangannya usai salat dan berdoa. Telapak tangan Hangga mengusak puncak kepala Harum yang tertutup mukena.


Sama seperti Harum, Hangga pun merasakan bahagia di relung hatinya. Sebelumnya ia tidak pernah membayangkan dapat salat berjamaah bersama pasangan hidupnya, sebab sejak dahulu, Nata lah yang menjadi istri impiannya.


Namun, kini semuanya berubah. Dalam kurun waktu dua bulan, Harum—perempuan pilihan ibundanya yang semula diabaikan, berhasil membelah hati dan cintanya menjadi dua.


“Mau sekarang?” lontar Hangga sembari mengerlingkan matanya.


“Anu-anunya.”


“Ish, apa sih Mas, orang masih magrib.”


“Ish, Harum! Memangnya maksud mas apa coba? Orang mas ngajakin makan malam.” Harum menggigit bibir menahan malu.


*


Harum menatap wajah tampan Hangga yang telah lelap . Usai salat magrib, makan malam, dan salat isya Hangga benar-benar menggempurnya tanpa ampun.


“Ini malam terakhir, Harum sayang. Jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.” Begitu yang dikatakan Hangga usai memadu cinta satu babak. Kemudian setelahnya ada babak kedua, babak ketiga, dan kini suaminya itu tidur dengan mendengkur karena kelelahan.


Ini malam terakhir. Kalimat itu begitu menohok relung hati Harum. Lima hari merajut bahagia di Pulau Bali yang penuh pesona, membuat Harum merasa tidak rela jika harus mengakhirinya. Kalau bisa, ia ingin seperti ini selamanya. Jauh dari Nata dan menjalani hidup berdua bersama Hangga.


“Astagfiruloh, kenapa jadi egois begini,” lirih Harum penuh sesal. Seketika wajah Nata terbayang dalam pikirannya. Dan anehnya yang terbayang adalah ekspresi Nata saat merintih menahan sakit seminggu yang lalu. Membuat Harum semakin merasa bersalah saja.


Tangan Harum bergerak menyentuh wajah Hangga. Kalau ini malam terakhir, ia ingin berpuas-puas memandangi wajah Hangga yang di matanya sangat tampan. Agar jika pulang nanti hubungannya bersama Hangga akan kembali dalam mode awal, di mana sulit sekali untuk bersama, ia akan mudah melukis wajah Hangga dalam angannya.


Jari lentik Harum menyusuri wajah Hangga dan berhenti pada pipi Hangga yang ditumbuhi rambut. Harum suka dengan cambang Hangga yang membuat suaminya itu semakin gagah.


“Belum tidur, Hum?” Sentuhan Harum membuat Hangga setengah terjaga.


“Enggak bisa tidur, Mas,” sahut Harum dengan menguntai senyum.


“Mau mas bikin cepat tidur enggak?” lontar Hangga yang kini telah terjaga sepenuhnya.

__ADS_1


“Bagaimana caranya?” sahut Harum.


“Sini.” Hangga bergerak mengangkat tubuh Harum yang mungil ke dalam pelukannya.


Harum yang kini berada di atas tubuh Hangga, memiringkan kepala, menempelkan pipinya pada dada Hangga yang tidak terlalu sekal, namun tampak gagah. Harum bisa mendengar dengan jelas detak jantung Hangga, seirama dengan detak jantungnya yang kini temponya semakin cepat.


“Saya cinta Mas Hangga,” gumam Harum amat lirih.


“Kenapa? Tadi kamu ngomong apa, Hum?”


“Enggak ngomong apa-apa,” kilah Harum masih dalam posisinya.


“Ah, mas tadi dengar kamu bilang cinta.”


“Udah tau kok masih nanya.”


“Ayo ulangi yang jelas!”


“Enggak mau, Mas Hangga juga enggak pernah bilang begitu.”


Hangga mengernyit. “Masa sih?”


“Hem.”


“Oke, deh sekarang dengerin ya, Harum Humairaku sayangku. Mas cinta kamu.”


“Hem.”


“Kok cuma ‘hem’?”


“Iya, iya, makasih, Mas.”


“Hum, mas mau bikin kamu cepat tidur ya?”


“Gimana caranya?”


“Begini caranya.”


Hangga melepaskan pelukannya pada Harum. Kemudian dengan lincahnya ia membalik tubuh Harum sehingga kini istri cantiknya itu berada di bawah.


Setelahnya, Harum dengan suka rela membiarkan Hangga membolak-balik tubuhnya. Menghangatkan dinginnya malam dengan permainan cinta. Diiringi suara deburan ombak pantai Kuta sebagai backsound-nya.


.


.


.


.


Mohon maaf kalau up nya enggak lancar dan enggak bisa dobel up apalagi crazy up. Maklum ya, namanya ibu rumah tangga.


Btw terima kasih banyak atas dukungannya.


love U utk semuanya. ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2