
“Hey, hey, hey, mau ngapain?” sewot Yuda saat melihat tangan Inara sudah menyentuh pintu penumpang depan hendak masuk ke mobil Yuda.
“Aku mau nebeng, Dok. Masa enggak boleh?” sahut Inara mengerutkan bibirnya.
“Memangnya kamu tadi ke sini naik apa?”
“Aku tadi ke rumah orangtuanya Hangga. Kata mamanya, jenazah Nata udah dibawa ke pemakaman. Jadi, aku diantar ke sini sama orang suruhan mamanya Hangga, naik motor. Sedangkan mobil aku diparkir di rumah orangtua Hangga.”
Yuda mengedarkan pandangannya ke sekitar, mana tahu perempuan dihadapannya ini hanya membual. Pasalnya Yuda tahu betul track record cewek dengan bulu mata anti badai topan dua lapis itu. Paling ekstrem kalau soal mendekati dirinya. Pepet terus pantang mundur, begitu jargonnya. Padahal jelas-jelas Yuda sudah berpacaran dengan Ranum kala itu.
Jadi, saat Yuda masih berstatus mahasiswa kedokteran, ia juga menjadi asisten dosen praktikum anatomi di kampusnya. Dan Jocelyn Inara adalah salah satu mahasiswi bimbingannya. Saat itu Yuda sudah masuk semester 7 sedangkan Inara berstatus mahasiswa baru. Berarti usia mereka kira-kira terpaut empat tahunan. “Eh, udah punya anak berapa dia?” gumam Yuda melirik perempuan berkulit putih mulus itu.
“Mas, enggak apa-apa atuh Kak Nara ikut,” sela Harum.
“Nah, betul.” Inara menghadiahkan senyum termanisnya kepada Harum. “Terima kasih, Harum.”
Saat tadi Hangga memperkenalkan Harum sebagai istri, Inara sempat terpana akan kecantikan madu sepupunya itu. Pantas saja hati Hangga beralih haluan, cantik nan lembut begini sih casingnya. Begitu gumam hatinya.
Meskipun jarak yang terbentang jauh, berbeda benua, ternyata komunikasi antara Nata dan Inara terjalin baik. Mereka kerap kali saling berbagi cerita dan curhat. Maka dari itu, Inara sedikitnya mengetahui tentang Harum. Ah, aku bingung siapa yang pantas disebut pelakor di sini. Kamu, Nata? Ataukah dia, Harum? Begitu reaksi Inara kala mendengar curhatan Nata semasa hidupnya.
Wanita cantik dengan lesung pipi itu masuk dan duduk di jok penumpang depan, tanpa dikomando Yuda. Yuda sempat mendelikkan mata melihat Inara dengan tanpa permisi dan tanpa dosa duduk manis di sampingnya. Akan tetapi, ya sudahlah. Yuda juga tidak dapat berbuat apa-apa selain membiarkan Josh—begitu Yuda memanggil nama sepupu Nata itu, duduk manis di situ.
“Karena kamu sedang berkabung kehilangan sepupumu, saya izinkan kamu menumpang mobil saya, Josh,” kata Yuda sebelum melajukan mobilnya.
“Inara not Josh!” protes perempuan benama lengkap Jocelyn Inara Djamaris.
Yuda memilih untuk tidak menggubris, lalu melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan, Inara terus mengoceh. Awalnya Yuda tidak menanggapi. Namun, sekali Yuda menanggapi, keduanya malah berdebat dur der dor.
“Kamu kena multiple sklerosis ya?” cibir Yuda melirik perempuan di sampingnya.
“What?” Inara bereaksi dengan melotot sempurna. “NO!”
Multiple sklerosis katanya? Itu adalah penyakit gangguan saraf yang menyebabkan gangguan komunikasi antara otak dan tubuh. Lemes banget mulutmu, Dok. Untung ganteng. Coba kalau jelek, udah tak bejek-bejek.
Bug ... Inara meninju lengan Yuda.
“Aww.” Yuda memekik sembari melirik Inara. “Josh! Kamu memang benar-benar Chris Josh!”
“Siapa Chris Josh?”
“Petinju Indonesia.”
“Itu Chris John!”
“Oh, beda dikit lah.”
“Salah siapa ngatain aku kena Multiple sklerosis,” sungut Inara.
“Habisnya kamu aneh. Kamu sendiri dokter, tapi malah memandang remeh dokter Indonesia."
“Aku enggak bilang begitu.”
"Ah, lupa, kamu 'kan mahasiswa kedokteran dengan IQ paling imut sebesar kotoran semut," ejek Yuda tanpa beban.
Dan keduanya kembali berdebat. Harum dan Hangga yang duduk di jok belakang hanya saling pandang dan menautkan alis.
“Kenapa mereka?” tanya Harum dengan isyarat mata.
Hangga menggelengkan kepalanya, kemudian tersenyum manis menatap Harum. “Enggak usah memikirkan mereka. Lebih baik memikirkan kita,” sahutnya melalui isyarat mata. Tangannya meremas lembut tangan Harum. “I love You,” katanya dengan bibir bergerak tanpa suara.
*
Empat puluh hari sudah kepergian Nata. Harum dan Hangga baru melaksanakan acara empat puluh hari kematian Nata di rumah orangtuanya di Cilegon. Mereka juga menyempatkan untuk berziarah mengunjungi makam Nata dan mendoakannya. Meskipun doa untuk Nata tidak pernah luput dihantarkan Harum dan Hangga di setiap selesai salat mereka.
“Kalian benar mau pulang sekarang? Enggak mau nginep lagi?” lontar Bu Mirna saat mengantar kepulangan putra dan menantunya di teras.
__ADS_1
“Iya, Bu. Besok Hangga harus kerja. Masih anak baru, enggak boleh izin.” Seminggu setelah kematian Nata, Hangga mendapatkan panggilan bekerja di Jakarta. Hangga menyambut pekerjaan tersebut dengan antusias, meskipun rasanya ia masih belum siap untuk bekerja secepat itu. Tetapi, rezeki kan tidak boleh ditolak. Sementara Harum masih dengan rutinitas seperti biasanya. Mengantar-jemput putrinya Yuda sekolah sekaligus mengurusi kantin.
Awalnya, Harum dan Hangga tinggal di rumah sewaan yang letaknya dekat rumah sakit. Rumah yang ditempati Hangga dan Nata selama menjalani pengobatan. Tetapi kemudian, Yuda memohon kepada pasangan suami istri tersebut agar mau tinggal di unit sebelah rumahnya, rumah yang biasa ditempati Harum. Tentu saja alasannya adalah karena Harum kecil—putrinya Yuda yang masih sangat bergantung pada Harum.
“Gimana, Mas?” lontar Harum menanyakan tawaran Yuda kepada Hangga.
“Mas sih terserah kamu, Hum. Bagaimana baiknya kamu aja. Pokoknya mas mah nurut aja. Apapun yang menurut kamu baik, apapun yang membuatmu bahagia, mas akan ikuti.” Pada akhirnya Hangga memutuskan untuk menerima tawaran Yuda, setelah Harum mengutarakan isi hati bahwa ia begitu menyayangi putrinya Yuda dan belum tega untuk melepaskannya.
Jadilah hingga sekarang, Harum kecil masih tetap menempel pada Harum. Seperti saat ini, putrinya Yuda tersebut juga ikut ke Cilegon bersama Harum dan Hangga untuk menghadiri acara empat puluh hari kematian Nata. Bu Mirna dan Pak Hendra begitu menyukai putrinya Yuda yang cantik dan menggemaskan itu.
“Kalau Harum dan Hangga kekeuh mau pulang, gimana kalau anak cantik ini aja yang nginep di sini,” ujar Bu Mirna memeluk gemas Harum kecil. “Mau ya nginep di sini temani Aki dan Nini,” bujuknya.
“Enggak mau. Besok aku harus sekolah,” sahut Harum kecil menggelengkan kepalanya. “Iya kan, Mih?”
Harum mengangguk. “Iya, Sayang “
“Nanti kalau aku enggak sekolah, aku enggak lulus TK. Kalau enggak lulus TK, nanti aku enggak bisa masuk sekolah SD,” celetuk Harum kecil yang membuat semua orang tertawa.
“Hangga, nanti coba kamu bilang sama dokter Yuda. Bagaimana kalau rumah yang kalian tempati itu dibeli saja sama kamu. Kan enggak enak kalau kalian tinggal di sana cuma-cuma,” usul Pak Hendra.
“Nanti lah, Yah. Hangga juga belum punya cukup uang untuk beli rumah itu. Saat ini Hangga baru mulai menata kehidupan, belum punya tabungan."
“Kalau itu gampang. Ayah bisa jual salah satu aset rumah atau tanah di sini buat beli rumah itu.”
“Urusan rumah nanti saja kita bahasnya. Kalau Hangga sih maunya punya rumah dari hasil keringat sendiri," sahut Hangga.
“Iya, enggak masalah. Pakai uang ayah dulu, nanti kalau kamu sudah punya uang, kamu bisa ganti ke ayah.”
“Udah, udah, masalah rumah nanti dibahas lagi. Ada yang lebih penting dibahas, yaitu soal anak. Semoga kalian segera bisa mendapatkan momongan. Punya anak yang cantiknya kayak begini,” sela Bu Mirna mencubit gemas pipi Harum kecil.
Harum tersenyum kaku. Hatinya bergetar, sebab perkataan sang ibu mertua mengingatkan dirinya tentang peristiwa keguguran dua tahun yang lalu. Hingga detik ini, Harum belum sempat menceritakan hal tersebut pada suami atau pun mertuanya.
“Kalau masalah momongan, doakan saja, Bu. Nanti kita proses secepatnya.” Hangga berkata dengan menyenggol pelan tubuh Harum yang berdiri di sampingnya.
Harum kembali tersenyum kaku. Sebab hingga detik ini, sejak keduanya rujuk dan kembali menyandang status sebagai pasangan suami istri, Harum dan Hangga belum melakukan aktivitas seksual. Lebih tepatnya, Harum yang memohon pada Hangga agar menunda hasratnya sementara. Paling tidak, menunggu lewat empat puluh hari kepergian Nata.
“Ish, kamu jangan ngomong begitu dong, Hum,” sahut Hangga seraya mengusap tengkuknya yang terasa meremang.
Setelah acara pamitan yang panjang itu selesai, Hangga bersama kedua perempuan bernama Harum itu masuk ke mobil. Lambaian tangan serta doa tulus kedua mertua Harum, mengiringi perjalanan pulang mereka menuju kota Jakarta.
Dua jam lebih sedikit, mobil yang dikendarai Hangga sampai di depan rumah milik Yuda yang menjadi kediaman Harum dan Hangga. Langit telah gelap saat mereka sampai rumah. Hangga turun lebih dulu. Membuka pintu penumpang depan, Hangga meraih Harum kecil yang tertidur di pangkuan Harum lalu menggendongnya.
“Tidurin di mana nih, Hum?” tanya Hangga.
“Di kamar kita aja, Mas. Khawatir Bu Yusma dan Mas Yuda sudah tidur,” jawab Harum sembari turun dari mobil.
Baru Harum berkata begitu, terdengar bunyi pintu rumah Yuda dibuka.
“Sini, Mas Hangga. Harumnya tidur ya?” lontar Yuda.
“Iya, Mas. Mau ditidurkan di mana?”
“Di tempat saya saja, Mas.” Yuda mengambil alih tubuh sang putri ke dalam gendongannya. “Maaf ya, Mas. Putri saya merepotkan, selalu nempel terus sama Harum.”
“Enggak papa, Mas. Malah kita senang.” Hangga tersenyum tulus.
“Terima kasih banyak ya, Mas, Rum,” ucap Yuda sebelum membawa putrinya masuk ke dalam rumah.
“Sama-sama, Mas.”
Kemudian mereka pun masuk ke rumah masing-masing. Setelah melakukan segala kegiatan sebelum tidur, Harum dan Hangga kini telah masuk ke kamar bersiap untuk tidur.
“Mas, ada yang saya ingin ceritakan sama Mas,” kata Harum bersandar di kepala ranjang.
“Mau cerita apa sih, Harum Humairaku sayang? Mau cerita kalau kamu cinta sama Mas ya?” Hangga menepuk kedua pahanya, memberi isyarat agar istrinya berbaring dan merebahkan kepala di pahanya.
__ADS_1
“Yang mau saya ceritakan sangat serius, Mas.” Meskipun Harum paham dengan isyarat yang disinyalkan Hangga, namun ia memilih bertahan dengan posisinya sebab ia memang ingin bicara hal yang serius.
“Ya udah deh, mas aja yang rebahan di kamu.” Mengambil posisi berbaring, Hangga merebahkan kepalanya di kedua paha sang istri.
“Ayo sekarang cerita! Mas mau dengerin sambil menatap wajah kamu yang sejuk sesejuk embun pagi,” katanya mengusap lembut pipi Harum yang kemerahan.
Aksi tersebut menjadi kebiasaan Hangga sejak dulu. Sejak ia menyadari benih-benih cinta telah tumbuh di hati, kemudian ia pupuk sehingga menjadi pohon cinta yang kokoh. Karena begitu kokohnya, hingga segala ujian dan rentang waktu perpisahan tak mampu menumbangkan pohon tersebut.
Hangga berjanji, ia akan terus memupuk, menyiram, menjaga dan merawat agar pohon cintanya terus tumbuh sehingga menghasilkan indahnya bunga dan manisnya buah yang tidak berkesudahan hingga maut memisahkan.
“Mas.”
“Ya, Humairaku sayang.” Hangga kembali mengusap lembut pipi Harum.
“Ish.” Harum berdesis. Rupanya setiap Hangga memanggil ‘Humaira Sayang’ itu mesti pake ngelus pipi. Membikin pipi Harum yang merona merah menjadi semerah tomat.
“Ada yang belum saya ceritakan sama Mas Hangga tentang kepergian saya waktu itu.” Harum mulai bercerita. Hangga mendengarkan dengan saksama.
“Saat saya pergi dulu, saya sudah terlambat haid selama sekitar tiga mingguan. Saat itu saya merasa panik, saya takut. Permasalahan yang terjadi di antara kita membuat saya merasa belum siap seandainya Allah mempercayakan sebuah kehidupan bersemayam di rahim saya. Dan saya merasa sangat bersalah dengan pemikiran bodoh saya waktu itu,” sesal Harum dengan mata yang mulai mengembun.
Hangga yang dalam posisi berbaring, kini bangun menatap wajah istrinya yang mendadak sendu. Ia meraih tangan Harum, lalu mengecupnya. “Kalau berat untuk diceritakan, enggak usah cerita, Hum. Apapun yang terjadi saat mas enggak ada di sisi kamu, mas enggak akan pernah menyalahkan kamu.”
“Saya sempat hamil waktu itu, Mas, tapi kemudian keguguran.” Sebulir air mata jatuh membasahi pipi kemerahan itu. Harum membayangkan jika saja ia tidak keguguran, pasti calon anaknya itu kini sedang tumbuh lucu-lucunya.
Hangga terpaku menatap Harum. Ia sungguh terkejut dengan pengakuan Harum. Rasa terkejut yang bercampur sesal. Tetapi, apa yang harus disesali jika semua sudah terjadi.
Setelah terpaku selama beberapa jenak, Hangga merengkuh tubuh Harum ke dalam pelukannya. “Enggak usah sedih, Harum sayang. Itu berarti belum rezeki kita. Atau itu justru rezeki kita untuk tabungan akhirat. Percayalah, nanti Allah akan menggantinya dengan rezeki yang serupa yang hadir dalam keadaan kita berdua yang lebih baik. Kita yang lebih baik, akan baik juga buat calon anak kita nanti.”
Pasangan suami istri melebur dalam pelukan, saling menguatkan. Berjanji pada dirinya masing-masing untuk saling mengeratkan pelukan saat duka mungkin saja menghampiri, saling menautkan jemari kala masalah mungkin datang bertubi-tubi.
Setelah cukup lama berpelukan, Hangga melepaskan pelukannya.
“Hum.”
“Hemm.”
“Sekarang udah bisa berusaha untuk mendapatkan rezeki yang baru kan?” lontar Hangga menggerakkan kedua alisnya.
Harum yang belum loading, terdiam sejenak berusaha memahami perkataan Hangga.
“Udah boleh dong? Udah lewat empat puluh hari kan?”
Harum tidak menjawab, ia lekas menundukkan kepala, menyembunyikan rona malu di wajahnya.
*
"Pemirsa, pemirsa."
"Iya, iya."
"Udah dulu ya, Hangga sama Harum mau usaha untuk mendapatkan rezeki yang baru. Jangan diganggu dan tirai lekas ditutup."
*
Cerita Yuda cukup sampai segitu aja deh, kan fans nya Yuda udah pada kabur, enggak mau lanjutin baca. Wkwkwk.
Semoga nanti ada ide, biar bisa dibuatkan rumah sendiri kisah dokter Yuda ini.
Jika penulis lain, begitu menamatkan satu cerita bisa langsung menulis cerita baru lagi. Aku mah enggak bisa loh. Bagiku menulis itu sangat sulit.
Biasanya setelah menamatkan satu cerita, aku harus diam dulu beberapa jenak untuk merefresh otak. Beberapa jenaknya itu lama 😭😭 itungan bulan. Sambil istirahat biasanya sambil nyari ide baru untuk cerita baru. Setelah ide didapat, masih belum bisa langsung nulis juga karena aku mesti menyiapkan jiwa dan raga, lahir dan batin. Karena ketika sudah mempublikasikan cerita baru, itu artinya aku harus siap dikejar update tiap harinya. Dan itu sungguh berat.
Begini lah namanya author-authoran. 😪😪
Btw terima kasih banyak atas dukungannya.
__ADS_1
lope u pull ❤️❤️❤️