Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 82


__ADS_3

Sementara beribu kilometer di tempat lainnya. Di belahan zona waktu Indonesia barat.


[Sayang, maaf aku gak bawa charger. Ketinggalan di mobil]


[Hp aku lowbat]


[Baik-baik di sana ya, Sayang. Jangan lupa makan]


[Love U]


[Mmmuach]


[Emot love banyak]


Nata mendengkus kesal membaca rentetan pesan yang dikirim Hangga. Tiga kali melakukan panggilan video, Hangga bukannya menjawab malah mengiriminya pesan seperti itu.


Sedetik setelah membaca pesan, Nata langsung melakukan panggilan telepon kembali, tetapi nomor Hangga sudah tidak aktif.


Di hari ketiga kepergian Hangga, hati Nata semakin kesal karena nomor Hangga masih tidak aktif dan tidak dapat dihubungi.


“Hangga!” Nata membanting ponselnya ke kasur dengan kesal usai melakukan panggilan telepon kepada Hangga yang ke sekian kalinya dan nomor pria yang dicintainya itu masih belum aktif juga.


“Dasar bego si Hangga. Mestinya kalau charger ketinggalan usaha dong, minjem kek, beli kek, apa kek. Masa iya tiga hari nomornya gak aktif,” katanya bersungut-sungut.


“Sebel, sebel, sebel!” Nata memukul-mukul kasur dengan kesal.


“Mbak Nata,” panggil Bi Jenah dari luar pintu kamarnya. “Makan malamnya sudah siap,” sambung ART tersebut sembari mengetuk pintu.


“Iya, Bi.” Nata bangkit, lalu beranjak keluar kamar dan turun ke dapur. Ia yang sedari siang belum makan, tidak mampu untuk menahan lapar lagi. Karena ditinggal Hanga, Nata jadi jarang makan siang saat jam istirahat.


“Hangga ada telepon Bi Jenah enggak?” tanya Nata yang sudah duduk di meja makan.


“Enggak tuh, Mbak,” jawab Bi Jenah yang tengah menyiapkan hidangan makan malam di atas meja.


“Kalau Harum, telepon Bi Jenah enggak?”


“Enggak juga, Mbak.”


“Harum kapan pulang ya, Bi?”


“Memangnya Neng Harum ke mana, Mbak?” Bi Jenah balik bertanya.


“Kan katanya pulang ke Cilegon disuruh ibunya Hangga.”


“Oh.” Bi Jenah ber-oh panjang.


“Memangnya Bi Jenah enggak tahu?”


“Enggak tuh, Mbak. Orang terakhir saya lihat itu, Neng Harum berangkat sama Mas Hangga."


"Masa sih, Bi?"


"Eng, kalau enggak salah sih, Mbak," sahut Bi Jenah ragu khawatir salah bicara.


"Mungkin Hangga mengantar Harum dulu, baru pergi dinas ke luar kota," pungkas Nata yang memilih mengakhiri pembahasan tentang Hangga dan Harum.


Usai makan malam, Nata hendak kembali ke kamarnya, namun saat melewati kamar Harum, ia tergerak untuk masuk ke kamar tersebut. Pandangannya menyapu seisi ruang kamar, hingga kemudian ia terpaku saat melihat tas kerja Harum yang tergeletak di atas meja.


Tiga bulan satu atap bersama Harum, membuat Nata mengenal betul kebiasaan dari istri pertama Hangga tersebut. Setahu Nata, Harum hanya memiliki tiga buah tas. Tas yang berukuran agak besar dan berwarna hitam, biasanya dipakai Harum ketika bekerja. Sedangkan yang dua buah lagi, jarang dipakai oleh Harum. Nata pernah melihat sekali Harum memakainya, yaitu saat pertama kali jalan bertiga bersama Hangga ke sebuah mal tiga bulan silam.

__ADS_1


Harum katanya mau audit, kok tas kerjanya enggak dibawa?. Batin Nata bertanya-tanya.


Sudahlah, mungkin Harum memakai tas yang lain. Putus Nata, tidak berniat menduga-duga.


Tidak lama-lama di kamar Harum, Nata kemudian kembali ke kamarnya. Sampai di kamar, Nata rebahan sebentar, lalu terlintas di benaknya untuk menelepon Harum. Namun kemudian, ia dibuat kecewa karena nomor Harum tidak aktif.


*


Hari keempat kepergian Hangga, Nata memutuskan untuk bertandang ke kedai sepulang bekerja untuk sekedar menikmati sop durian. Ia sempat mengajak Melly, sayangnya Melly tidak bisa ikut karena belum pulang bekerja.


“Mbak, Harum ada di sini?” tanya Nata kepada salah seorang pelayan berkerudung ungu yang tengah membawakan menu pesanan ke mejanya.


“Teh Harum? Teh Harum menantunya pemilik kedai ini?” sahut pelayan perempuan itu memastikan.


Gue juga menantunya pemilik kedai ini kaleee.


“Iya, Harum menantu pemilik kedai ini,” ujar Nata memaksakan senyum.


“Teh Harum udah empat hari enggak masuk.”


“Lagi audit di cabang Serang dan Cilegon kan?”


“Waduh kurang tahu, Kak. Dengar-dengar sedang cuti.”


“Cuti?” Alis Nata saling bertaut mendapatkan informasi tersebut.


“Ada pesanan lain yang mau ditambahkan, Kak?” tawar pelayan itu setelah meletakkan semua pesanan Nata di meja.


“Enggak ada, makasih.”


“Selamat menikmati menu pesanan kami,” ucap pelayan itu ramah sebelum pergi meninggalkan meja Nata.


Kok mobil Hangga parkir di situ. Gumam hati Nata.


Biasanya jika ada tugas dinas ke luar kota, Hangga tidak membawa mobil pribadi karena pihak kantor yang mempersiapkan akomodasi untuk transportasi, penginapan dan sebagainya. Tetapi, kali ini Hangga membawa mobil. Nata pikir, mobil Hangga akan diparkir di kantor atau di tempat parkir inap bandara.


Baru Nata berpikir begitu, kini pandangannya menemukan dua pria teman kerja Hangga masuk ke dalam kedai. Nata tidak begitu akrab dengan kedua pria teman Hangga itu, namun ia cukup mengenal mereka. Kalau tidak salah, namanya Tono dan Andi. Begitu terka Nata.


Nata terus memperhatikan kedua pria teman Hangga tersebut sampai mereka duduk. Kebetulan sekali, kedua pria teman Hangga itu duduk dekat dengan meja Nata.


Andi—salah satu teman Hangga--yang tengah mengobrol sembari tertawa sontak menghentikan tawa kala pandangannya bertemu dengan Nata.


Kedua teman Hangga itu tidak mengetahui tentang kehidupan pernikahan poligami Hangga. Bahkan mereka sempat kaget saat Hangga pertama kali membawa Harum ke kantor dan mengenalkannya sebagai istri.


"Ini kan kasir di sop duren yang mirip mantan gue si Citra Kirana itu?" Reaksi Tono saat Hangga mengenalkan Harum.


"Waktu itu lu bilang kalau Citra Kirana ini istrinya sepupu lu kan?" timpal Andi yang sempat naksir Harum saat pandangan pertama.


"Sori, gue waktu itu gurau aja. Just kidding. Yang benar inj bini gue," jelas Hangga waktu itu.


"Ton, ada mantan pacar Hangga loh," bisik Andi pada Tono saat melihat sosok Nata.


“Mana?” sahut Tono.


“Itu. Di belakang lu.”


Andi dan Tono, keduanya melempar pandangan pada Nata sembari tersenyum dan mengangguk ramah.


Nata balas tersenyum ramah lalu bangkit dari duduk dan menghampiri meja kedua pria teman Hangga tersebut.

__ADS_1


“Aku boleh gabung sama kalian?” lontarnya tanpa rasa sungkan. Mungkin kalau Harum, tidak akan berani bersikap seperti Nata ini.


“Silakan,” sahut Tono dan Andi kompak.


“Apa kabar kalian?” Nata yang memang memiliki sifat luwes dan supel, bertanya basa-basi.


“Baik.” Kembali Tono dan Andi menjawab dengan kompak.


“Kamu gimana kabarnya?” Andi si pria berkacamata balik bertanya.


“Baik juga. Oya, kalian memangnya enggak ikut dinas ke luar kota?” tanya Nata to the point. Pertanyaan inilah yang mendorong Nata untuk bergabung satu meja dengan kedua pria teman Hangga tersebut.


“Dinas ke luar kota?” Andi mengernyit bingung. “Dari kantor enggak ada agenda ke luar kota sih,” sambungnya.


“Loh, bukannya Hangga lagi dinas ke luar kota ya? Ada workshop atau apa gitu.”


“Oh, workshop di Bali itu kan bulan kemarin.” Kali ini Tono yang menjawab pertanyaan Nata.


“Terus Hangga ke mana?”


“Bukannya Hangga ambil cuti ya?” sahut Andi.


“Cuti?” Hati Nata mulai resah dengan informasi yang didengarnya.


“Iya, Hangga ambil cuti lima hari atau seminggu gitu.”


Hangga bohongin aku? Untuk apa? Terus sekarang ke mana Hangga? Batin Nata bertanya bimbang antara percaya atau tidak.


Selama ini, Hangga—pria yang sangat dicintainya itu tidak pernah berdusta kecuali saat menyembunyikan pernikahannya bersama Harum dulu.


Harum? Seketika ia jadi teringat pada Harum. Pelayan tadi juga mengatakan kalau Harum sedang cuti.


Harum, Hangga, ada apa ini?


Nata masih sibuk memikirkan dan menyusun puzzle dari rentetan informasi yang diterimanya ketika mendapatkan lontaran pertanyaan dari Andi.


“Nat, kamu tau ‘kan Hangga udah menikah?”


Nata mengangguk mengiyakan.


“Kita kaget loh waktu Hangga mendaftarkan pernikahannya di kantor, ternyata bukan kamu yang jadi istri Hangga,” timpal Tono.


"Memang yang namanya jodoh itu misteri, enggak bisa ditebak," timpal Andi.


Nata tersenyum kaku. Kalau untuk hal ini, ia tidak terkejut. Ia memahami dan memaklumi jika Hangga mendaftarkan pernikahannya bersama Harum karena pernikahan tersebut sah secara hukum. Berbeda dengan pernikahannya bersama Hangga yang hanya pernikahan sirih. Lagi pula pernikahan Hangga bersama Harum terjadi lebih dulu dibandingkan pernikahannya bersama Hangga.


Akan tetapi, sesaat kemudian ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Bahkan, jantungnya nyaris meledak mendengar informasi berikutnya.


“Dengar-dengar Hangga mengajukan cuti karena mau bulan madu bersama istrinya.”


.


.


.


.


Jangan lupa like nya dong, please

__ADS_1


Maacih


__ADS_2